ῳ_ ῳAUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Saat ini aku sedang duduk di sofa dengan pasrah. Robin menemukan surat peringatan drop out yang sengaja ku sembunyi di dalam lemari novel. Begitu membaca surat itu, ia terlihat sangat marah dan kecewa. Dan ia pun memutuskan untuk memberitahu papa mengenai surat yang ku dapat itu.
Robin berdiri dihadapanku dengan ponsel yang terpasang ditelinganya dan sesekali melirik . Niat hati ingin bermain Play Station (PS), namun karena adanya kejadian ini, semuanya menjadi kacau.
"Halo ...," ucap papa dari balik ponsel. Robin sengaja mengaktifkan tanda loudspeaker agar aku juga bisa mendengarnya.
"Halo, Pa."
"Iya, Nak. Syukurlah kamu menelpon. Kamu ada di mana sekarang?"
"Aku ada di rumah, Pa," jawab Robin.
"Kakakmu ada, kan?"
Robin melirik ke arahku. "Ada kok, Pa."
"Baguslah! Papa dan Mama akan berkunjung ke apartemen kalian sore ini."
Mataku membelakak. "Ssst ..., Dek!" Robin melirik ke arahku.
Ia menaikkan dagunya.
Aku memberi isyarat kepadanya menggunakan kedua tangan yang menyerupai tanda 'X'.
Robin menggelengkan kepalanya. "Robin senang Papa dan Mama akan datang. Kebetulan, ada juga yang ingin Robin sampaikan."
"Apa, Nak?" tanya Papa.
"Nanti Robin kasih tahu pas Papa dan Mama udah sampai," jawab Robin.
"Baiklah, Nak. Kalau begitu, Papa mau siap-siap dulu. Sampai jumpa, jagoan!"
Robin tersenyum mendengar ucapan Papa. "Sampai jumpa, Pa. Nyetrinya hati-hati, yah!"
"Iya, Nak." Panggilan itu pun berakhir.
Satu jam berlalu, Robin masih tidak mengucapkan sepatah kata pun padaku. Aku mencoba membujuknya berkali-kali agar ia tidak memberitahukan Papa dan Mama, tetapi Robin tidak mau mendengarkan ucapanku.
Saat ini kami masih di ruang keluarga yang berada di tengah apartemen. Robin duduk di sofa yang ada di sebelah kiri. Sedangkan, aku di sebelah kanan. Posisi kami saat ini seperti sedang berhadapan.
Aku terus menatapnya dengan penuh harap. "Dek, kamu jangan gitu lah sama Kakak," ucapku pelan.
Robin yang sedang memainkan ponselnya, kini melirik ke arahku. "Gak, Kak!"
"Kamu kok jahat sih sama Kakak?"
Ia menaruh ponselnya di atas meja, kemudian menatapku lekat-lekat. "Kak, aku bukannya jahat. Coba deh Kakak bayangin perjuangan Mama dan Papa untuk memberi kita pendidikan sampai se-tinggi ini. Di luar sana, banyak orang yang ingin melanjutkan pendidikannya ke tingkat Universitas. Tetapi sayang, mereka memiliki beragam kendala. Ada yang tidak sanggup dengan biaya, ada yang tidak diizinkan oleh orangtuanya karena harus membantu keuangan keluaga. Dan yang terakhir, mereka sedang sakit parah. "
Rasa bersalah dan malu seketika merasuki jiwaku. Apa yang dikatakan Robin memang benar. Aku tidak bisa menyangkal setiap kata yang diucapkannya.
"Jadi, yang kulakukan ini adalah bukan sesuatu yang jahat, Kak. Tapi, ini merupakan hal yang baik. Bagaimana pun, semua ini demi kebaikan Kakak."
Karena masih merasa bersalah, aku memilih untuk diam. Dan merenungkan setiap yang dikatakan oleh adikku. Terkadang, Robin memang lebih dewasa dibanding Kakaknya ini. Padahal menurut penelitian yang k*****a hanya sekilas, anak perempuan akan jauh lebih dewasa dibandingkan anak laki-laki.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Ning … nong …
Suara bel berbunyi. Robin segera keluar untuk melihat siapa yang datang. Aku mendengar Robin membuka pintu.
“Hai, Sayang …,” ucap Mama.
Aku bangkit dari kursi. “Hai, Ma.”
Mama mencium Pipiku, sedangkan Papa memelukku.
“Mama dan Papa bawa makanan kesukaan kalian. Ini …,” ucap Mama. Beliau memberiku bungkusan besar berwarna putih.
“Uwah! Dari aromanya aja udah enak, Ma.” Aku mulai melangkah ke dapur untuk memindahkan makanan yang dibawa oleh Mama.
Samar-samar aku mendengar pembicaraan papa, mama dan Robin. Setelah memindahkan makanan, aku juga segera menyiapkan teh hangat untuk kedua orangtuaku yang sudah datang jauh-jauh. Kalau diperkirakan, waktu tempuh dari apartemen ke rumah kedua orangtuaku, kurang lebih 3 jam. Itu sudah terhitung dengan keadaan yang mungkin sedikit macet.
Usai menyiapkan teh hangat, aku pun membawanya ke ruang keluarga.
“Mama dan Papa bakalan nginap, ‘kan?” tanyaku sambil menyajikan minuman.
“Tidak, Nak,” jawab Papa.
“Kenapa, Pa? Apa ada masalah dengan perusahaan?” tanyaku lagi.
“Tidak ada. Papa dan Mama akan pulang malam ini. Alasannya yah, kami memang tidak berencana untuk tinggal. Toh, besok hari senin. Kalian pasti bakalan ke kampus,” jawab Papa.
Robin melirik ke arahku. Mendapati lirikannya, aku kembali menggelengkan kepala berharap Robin mengurungkan niatnya untuk memberitahukan Papa dan Mama. Namun, ia tetap menolaknya.
“Ma, Pa. Ada yang ingin Robin sampaikan.” Jantungku seketika berdegup dengan sangat cepat.
“Apa itu, Nak?” tanya Mama.
Robin mengeluarkan surat itu dari saku celananya. “Mama dan Papa harus baca ini.” Ia memberikan selembaran kertas itu ke Papa.
Mama yang tadinya duduk agak berjarak dari Papa. Kini, beliau mendekatkan dirinya untuk bisa melihat apa isi surat yang diberikan oleh Robin. Setelah membaca surat itu, kedua Mama dan Papa menatap tidak percaya ke arahku.
“Nai, apa ini? Katakan sama Papa, kalau ini tidak benar!” ujar papa tegas.
Aku menutup mata sejenak, kemudian perlahan aku memberanikan diri menatap kedua orangtuaku. “Maafkan, Pa. Surat itu benar-benar asli dari Fakultas.”
Raut wajah papa terlihat sangat kecewa. “Nai, Papa kan udah pernah peringatkan ke kamu bahwa jangan pernah lagi menunda-nunda waktu untuk menyelesaikan pendidikan! Makanya, Papa selalu menanyakan perkembangan tugas akhir kamu. Papa pikir, kamu sudah mulai Papa tuh kecewa sama kamu, Nai.”
“Naion minta maaf, Pa.”
Mama mendekat ke arahku. “Kapan kamu terima surat peringatan itu, Nak?”
“Beberapa hari yang lalu, Ma. Arisa yang memberikannya,” jawabku lesu.
Papa berdiri. “Mulai saat ini, Papa tidak mau tau dan juga tidak ingin mendengar alasan apa pun lagi tentang tugas akhir kamu. Papa akan memberi kamu batas waktu untuk menyelesaikan pendidikan. Kalau saja kamu tidak bisa mendapat gelar sarjana di semester ini, dengan senang hati Papa akan menikahkan kamu!”
Aku menoleh ke arah Papa. “Pa, aku gak siap menikah!”
“Apa tidak ada hukuman lain selain menikahkan Kak Nai, Pa?” Hal yang tidak disangaka-sangka, Robin juga tidak setuju dengan keputusan Papa. Adikku memang yang terbaik, meskipun terkadang ia juga sedikit menyebalkan.
Papa menggelengkan kepalanya. “Papa sudah tidak punya pilihan lain. Sudah cukup lama Papa kasih Kakakmu kesempatan untuk menyelesaikan pendidikannya. Tetapi, apa yang terjadi? Ia malah mendapat surat peringatan seperti ini! Mau ditaruh di mana muka Papa dan Mama!” Ujar Papaku.
Robin menatap ibah kepadaku. Jujur, jauh di dalam lubuk hati, aku tidak menyalahkan Robin atas semua ini. Semua yang dikatakan oleh Robin dan juga Ayah memang benar. Aku terlalu terlena dengan waktu. Sampai-sampai tanpa ku sadari, ia berlalu begitu saja meninggalkanku dengan sejuta penyesalan.
Air mataku menetes. Saat ini, yang ku rasakan hanyalah sebuah penyesalan. Tetapi, aku tidak akan larut dengan kesedihan ini. Daripada meratapi penyesalan yang sudah berlalu, lebih baik aku bangkit kemudian mencoba kembali untuk berdiri.
Sambil membelai rambutku. “Nai, Papa melakukan hal seperti itu bukan berarti ia tidak sayang denganmu. Justru karena Papa sayang, makanya ia sampai membuat keputusan seperti ini. Jujur, bukan cuman Papa aja yang kecewa. Mama juga sangat kecewa mengetahui kamu dapat surat peringatan seperti ini. Jadi, Mama harap, mulai minggu depan kamu sudah kembali mengurus tugas akhirmu itu. Janji?”
Aku menatap mama sedih. Hati ini hancur mengetahui Mama dan Papa benar-benar merasa kecewa denganku. “Janji, Ma! Kali ini, aku akan mengurus semuanya sampai tuntas!” ucapku mantap.
Mama tersenyum. “Baiklah, Nak. Mama percaya, kamu bisa!”
Aku mendekati Papa yang masih dalam posisi berdiri. “Maafin, Nai, Pa. Kali ini Papa isa percaya dengan perkataanku. Karena janjiku adalah janji seorang pelaut!”
Wajah papa yang semula mengeras, kini langsung melunak begitu mendengar ucapanku yang penuh semangat.
“Baiklah, Nak. Tapi ingat, ini adalah kesempatan terakhir kamu. Jika tidak, Papa—“
“Siap, Pa!” ucapku memotong perkataan Papa yang sampai saat ini masih membuatku syok. Pasalnya, bukan aku tidak mau menikah. Hanya saja, aku belum siap memiliki seorang suami. Jangankan mengurus suami, mengurus diri saja aku masih susah.
Papa membalas pelukanku, Mama dan Robin mendekat. Lalu kami sekeluarga berpelukan seperti teletubis.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Rabu, 20 Januari 2020.
Aku kembali ke kampus ini lagi. Tempat di mana aku menempuh pendidikan selama empat tahun. Sementara dua tahun berikutnya, ku habisan untuk bersanta-santai. Banyak perubahan yang nampak pada bangunan Fakultas. Ada beberapa fasilitas baru yang tidak ada di zamanku. Gedung ini menjadi jauh lebih cantik dan sedap dipandang mata, dibandingkan beberapa tahun yang lalu.
Trutt … trut … truut …
Ponselku bergetar. Nama Arisa muncul di layarnya.
“Nai, lo udah nyampe?” tanyanya.
“Iya, gue baru aja markir mobil. Lo di mana?”
“Gue lagi ada di kelas, Nai. Tadinya ku pikir, dosen yang mengajar matkul ini gak bakalan masuk. Toh, ini juga udah hampir siang. Eh, tau-tau dia ngasi kabar ke junior kalau dia akan masuk sebentar lagi. Kesel banget, deh!” ujarnya.
“Yaudah, kalau gitu gue tunggu di depan prodi, yah! Gue juga sekali liat-liat pembimbing kite, Pak Kasim.”
“Oke, Beb! Habis kelas, aku langsung ke sana,” ucap Arisa lagi.
“Sip!” Aku pun memutuskan panggilang.
ῳ_ ῳAUGURY GIRL ῳ_ ῳ
BERSAMBUNG