ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Satu jam berlalu. Saat ini aku sudah duduk di kursi depan prodi. Sedari tadi berada di sini, aku belum melihat adanya hilal yang akan menunjukkan kedatangan pak Kasim. Saat menghubungi nomor beliau pun tidak menghasilkan apa-apa. Karena ponselnya sama sekali tidak tersambung.
“Naaaai …” Teriak Arisa. “Gue lama, yah?”
“Gak juga.”
Arisa duduk di sampingku. “Gimana? Kamu udah ketemu pak Kasim?” tanyanya.
“Belum, nih! Daritadi gue tungguin tapi beliau gak muncul-muncul juga.”
Arisa menepuk jidatnya. “Aku lupa, Nai. Pak Kasim udah gak di tempatkan di prodi. Ruangannya pindah di akademik. Baru-baru ini, dia mendapat jabatan baru. “
“Astaga! Tunggu apa lagi, yuk!” ajakku.
“Yuk!”
Fakultas Kesehatan Masyarakat memiliki dua gedung yang saling berhadapan. Masing-masing gedung, memiliki empat lantai. Bangunan pertama, merupakan tempat perkuliahan para mahasiswa dan mahasiswi. Sedangkan, yang kedua adalah bangunan untuk, Prodi, akademik, dan juga ruangan-ruangan laboratorium.
Aku dan Arisa pergi ke ruang akademik yang berada di lantai 2. Karena aku memang anak yang jarang berolahraga— ketika menaiki tangga yang sebenarnya tidak seberapa ini— tubuhku sangat cepat kelelahan.
“Nai, muka lo kusut banget! Kenape lo?” tanya Arisa.
“Gue capek, Sa!” mendengar jawabanku, Arisa menggelengkan kepalanya.
“Lo jangan pasang muka kusam kayak gitu. Kita ini mau ketemu pembimbing loh!”
“Baiklah, baiklah!” ucapku.
Tok … tok … tok …
Arisa membuka pintu. Setelah pintu terbuka, seketika kami disambut dengan tatapan para staf akademik. Kami mendatangi salah satu dari staf tersebut.
“Apa pak Kasim ada di ruangan?” tanya Arisa.
“Ada. Kalian masuk saja di ruang itu,” jawab staf itu, sambil menunjukkan kami ruangan yang di depan pintunya tertulis, ‘Ruang Biro Administrasi Umum’.
“Terima kasih, Pak,” ucapku dan Arisa bersamaan.
Kami berdua segera pergi ke ruangan yang ditunjuk tadi oleh staf tersebut. Lagi-lagi, Arisa mengetuk pintu.
“Masuk!” ujar pak Kasim dari dalam.
Aku membuka pintu. “Selamat siang, Pak,” ucapku dan Arisa.
“Siang …,” ucap pak Kasim. Keningnya berkerut, “kalian cari saya?” tanyanya.
Kami berdua saling melirik. Aku mendekat tubuhku ke Arisa. “Pake nanya lagi! Dipikir kita datang ke sini buat cari kelomang, apa!” ucapku dengan mulut yang sedikit tertutup. Mungkin, terdengar seperti bisikan. Tetapi, ini lebih halus dibandingkan dengan bisikan.
Arisa menahan tawanya. Kemudian, mencolek pahaku.
“Iya, Pak!” jawab Arisa.
“Kalau begitu, kalian masuk ke sini.”
Aku dan Arisa melangkah masuk di dalam ruangannya. Lalu, duduk di depan meja yang berhadapan langsung dengan dosen tersebut.
“Ada urusan apa kalian mencari saya?” tanyan pak Kasim.
“Kami berdua datang untuk bimbingan, Pak,” jawabku,
“Bimbingan?”
“Iya, Pak,” jawab Arisa.
“Kalian angkatan berapa?” tanya Pak Kasim lagi.
“2014, Pak!” ucapku dan Arisa bersamaan.
“Oh, astaga! Bapak ingat. Kalian berdua angkatan lama yang belum lulus-lulus itu, ‘kan?”
Aku tersenyum kecut. “Tidak usah diperjelas juga, Pak!” Arisa seketika menginjak kakiku.
Pak Kasim tertawa. “Baiklah, sudah sampai di mana tugas akhir kalian?” tanya beliau.
“Kami baru mau mulai, Pak!” ucapku.
“What?! Kalian baru mau mulai?” ujar pak Kasim Tidak percaya.
Kami berdua mengangguk.
Pak Kasim memijit keningnya. “Nak, sekarang peraturan kampus telah berubah. Sebelum mengajukan judul atau melakukan bimbingan, terlebih dahulu kalian harus melakukan tugas umum.”
“Tugas apa itu, Pak? Tanya Arisa.
“Kalian harus melakukan review jurnal,” jawab pak Kasim.
“Kalau cuman review jurnal, itu tidak akan menjadi masalah besar, Pak,” ucapku.
“Memangnya kita harus me-review berapa jurnal?” Tanya Arisa lagi.
“Kalian harus review se-banyak 10 jurnal. Lima jurna Bahasa Indonesia, Lima jurnal berbahasa Inggris.”
“Hah?” pekikku dan Arisa.
Kami berdua saling berpandangan.
Mampus!
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Aku terkejut mengetahui jumlah jurnal yang akan di review. Bukannya mempermudah mahasiswa atau mahasiswi semester akhir untuk segera menyelesaikan pendidikan, pihak kampus malah membuat hal itu semakin susah dan pastinya membawa hambatan.
"Pak, apa itu gak terlalu berlebihan, yah?" tanyaku.
"Kalau menurut Bapak, sebenarnya itu akan semakin menghambat mahasiswa. Tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena peraturan itu dibuat langsung oleh Rektor baru kampus ini, Pak Malvin," ucap pak Kasim.
"Benar kata, Bapak. Memangnya tidak ada cara untuk menghilangkan peraturan itu, Pak?" tanyaku lagi.
"Tidak ada. Bapak kan sudah bilang dari tadi, kalau itu adalah perintah langsung dari Pak Rektor. Jadi, untuk menghapuskan peraturan yang sudah dibuat seperti itu, bukanlah hal yang mudah. Bahkan, mustahil untuk dilakukan. Kecuali, banyak mahsiswa yang complain, lain lagi ceritanya. Tapi sejauh ini, tidak pernah ada yang merasa terbebani. Begitu mengetahui peraturan, mereka langsung mengerjakannya tanpa protes sama sekali," jawab Pak kasim.
"Tidak ada kah kebijakan lain untuk meringankan mahasiswa yang sudah lama seperti kami, Pak?" tanyaku berapi-api.
"Semua mahasiswa disama ratakan."
"Tapi, Pak—" ucapanku terpotong. Arisa memberi kode dengan menendang pelan kakiku.
"Jadi, intinya kami belum bisa bimbingan dulu, Pak?" tanya Arisa.
"Iya. Kalian harus menyelesaikan tugas review dulu, kemudian perlihatkan hasilnya kepada saya."
"Baiklah, Pak. Kalau begitu, kami berdua pamit. Terima kasih atas waktunya, Pak!" ucap Arisa. Ia pun bangkit, kemudian memberiku isyarat untuk ikut berdiri.
"Tapi, Sa–" Arisa menggenggam tanganku.
"Kami pergi dulu, Pak! Permisi ...," Arisa menarik tanganku keluar dari ruangan Pak kasim dengan kecepatan maksimum. Bahkan aku tidak menyadari kalau kami berdua sudah berada di luar ruangan akademik.
Sejujurnya, tadi aku ingin menanyakan beberapa hal lagi mengenai peraturan itu. Tetapi, Arisa menarikku secara paksa.
"Sa, lo kenapa sih? Padahal tadi gue masih mau nanya-nanya lagi."
"Gue takut, pertanyaan lo aneh-aneh. Lagian, pak Kasim kan udah kasi kita infromasi yang menjadi inti permasalahan. Jadi, untuk apa lo mau tanya-tanya lagi?" ucap Arisa.
"Gue ngerasa, itu tuh gak adil buat kita dan seluruh mahasiswa semester akhir di kampus ini! Masa ia, kita harus review jurnal sebanyak itu?"
"Kita ikutin aja lah, Nai. Toh, sebenarnya ini kan kesalahan kita sendiri yang tidak selesai tepat waktu," ucap Arisa.
Aku diam sejenak. Entah mengapa, kata-kata pak Kasim yang mengatakan tentang 'mahasiswa belum ada yang complain', terputar-putar terus di dalam kepalaku.
"Sa, bagaimana kalau kita melakukan aksi protes?"
Arisa menatap kesal padaku. "Lo aja, deh! Gue gak ikutan."
"Ck, katanya sahabat. Kok sahabat kayak gitu, sih?"
Arisa menaruh tangannya di depan d**a, kemudian menghela napas. "Say, kita memang sahabatan. Tapi, gue juga gak mau kalau lo ngajak gue ngelakuin hal-hal aneh."
"Gak aneh kok! Ini tuh namanya memperjuangkan nasib."
Arisa mulai melangkah menuju ke tangga untuk turun di lantai dasar. "Apa pun alasannya, gue gak akan ikutan."
Aku menyusulnya. "Ayolah, Sa. Ini kan demi kepentingan kita berdua juga!"
Ia menoleh ke arahku. "Bodo amat!"
Begitu sampai, aku masih tetap membuju Arisa untuk bergabung dengan aksi demo yang akan kulakukan ini. Tiba-tiba seorang wanita yang usianya lebih muda, menegur kami.
"Permisi, Kakak-kakak," ucapnya.
Aku dan Arisa berhenti berjalan. "Iya ...," jawa Arisa.
"Aku mau bertanya, Kak. Ruangan laboratorium mikrobiologi di mana, yah?" tanyanya.
"Ruangan lab mikro ada di lantai empat, paling pojok, persis di samping tangga. Kalau kamu naik tangga yang disebelah kanan sana, kamu bisa langsung dapat ruangan itu," jawab Arisa ramah.
"Ohiya,Makasih, Kak."
"Kamu mau ketemu sama siapa?" tanya Arisa lagi.
Ia terdiam dan raut wajahnya nampak berubah. Gadis itu terlihat seperti orang yang tidak ingin memberitahukan sama siapa ia akan bertemu di sana.
"Lo kepo amat sih, Sa!" ujarku.
"Oh, sory! Kalau lo gak mau kasi tahu, ga apa-apa kok. Aku cuman mau bantu kamu. Siapa tahu aku kenal dengan orang kamu cari," ucap Arisa.
"Gak apa-apa, Kak. Terima kasih. Kalau begitu, aku mau langsung naik dulu. Sekali lagi, terim kasih, Kakak-kakak," ucap gadis berambut ikal itu.
Kami berdua mengangguk, sambil tersenyum. Begitu gadis itu pergi, aku kembali membujuk Arisa untuk ikut berpartisipasi dalam aksi demo yang akan kulakukan besok. Tetapi, lagi-lagi ia menolaknya.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Kamis, 21 Januari 2020.
Jam menunjukkan pukul 07.00. Saat ini, aku sudah bersiap pergi ke kampus melancarkan aksi demo untuk menuntut keadilan. Tujuan hari ini adalah menarik perhatian semua mahasiswa dan mahasiswi di kampus, untuk ikut berpartisipasi melakukan unjuk rasa.
Semalam, aku juga sudah mempersiapkan segala peralatan yang biasa digunakan mahasiswa untuk berdemo seperti, pembesar suara, kertas karton berukuran besar dengan tulisan-tulisan sindiran, dan terakhir adalah pengikat kepala dengan gambar tengkorak di depannya.
"Kak, kamu mau ke mana pagi-pagi seperti ini?" tanya Robin.
"Mau ke kampus lah, Dek."
"Mau ke kampus kok bawa barang-barang sebanyak itu?" Robin berjalan mendekatiku. "Apa lagi ini yang tengkorak-tengkorak?" tanyanya.
"Gak usah kepo yah, Dek. Entar kamu bakalan tau kok kalau udah sampai di kampus," jawabku sambil tersenyum.
"Kakak gak bakal ngelakuin hal –hal aneh, 'kan?"
Aku menatap Robin. "Gak, kok. Lagian mau bagaimana pun, Kakak memang aneh."
"Maksud Robin tuh bukan Kakak. Tapi, hal yang akan Kakak lakukan."
Selesai membungkus semua perlengkapan demo, aku langsung berdiri. "Intinya, apa yang Kakak lakukan hari ini merupakan suatu tindakan keadilan."
"Perasaanku kok jadi tidak enak," ucapnya.
Aku menepuk pundak Robin yang lebih tinggi beberapa meter dariku. "Gak usah berpikir macam-macam. Kakak udah siapin sarapan di atas meja. Kalau sudah sarapan, kamu langsung mandi, trus ke kampus." Robin masih menatapku bingung. Setelah memberi arahan kepada Robin, aku pun mulai melangkah keluar dari apartemen dengan membawa semua perlengkapan demo yang memenuhi dua tanganku sekaligus.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ