Kamis, 21 Januari 2020.
Jam menunjukkan pukul 07.00. Saat ini, aku sudah bersiap pergi ke kampus melancarkan aksi demo untuk menuntut keadilan. Tujuan hari ini adalah menarik perhatian semua mahasiswa dan mahasiswi di kampus, untuk ikut berpartisipasi melakukan unjuk rasa.
Semalam, aku juga sudah mempersiapkan segala peralatan yang biasa digunakan mahasiswa untuk berdemo seperti, pembesar suara, kertas karton berukuran besar dengan tulisan-tulisan sindiran, dan terakhir adalah pengikat kepala dengan gambar tengkorak di depannya.
"Kak, kamu mau ke mana pagi-pagi seperti ini?" tanya Robin.
"Mau ke kampus lah, Dek."
"Mau ke kampus kok bawa barang-barang sebanyak itu?" Robin berjalan mendekatiku. "Apa lagi ini yang tengkorak-tengkorak?" tanyanya.
"Gak usah kepo yah, Dek. Entar kamu bakalan tau kok kalau udah sampai di kampus," jawabku sambil tersenyu.
"Kakak gak bakal ngelakuin hal –hal aneh, 'kan?"
Aku menatap Robin. "Gak, kok. Lagian mau bagaimana pun, Kakak memang aneh."
"Maksud Robin tuh bukan Kakak. Tapi, hal yang akan Kakak lakukan."
Selesai membungkus semua perlengkapan demo, aku langsung berdiri. "Intinya, apa yang Kakak lakukan hari ini merupakan suatu tindakan keadilan."
"Perasaanku kok jadi tidak enak," ucapnya.
Aku menepuk pundak Robin yang lebih tinggi beberapa meter dariku. "Gak usah berpikir macam-macam. Kakak udah siapin sarapan di atas meja. Kalau sudah sarapan, kamu langsung mandi, trus ke kampus." Robin masih menatapku bingung. Setelah memberi arahan kepada Robin, aku pun mulai melangkah keluar dari apartemen dengan membawa semua perlengkapan demo yang memenuhi dua tanganku sekaligus.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
Jarak dari apartemen ke kampus tidak terlalu jauh. Seharusnya, aku bisa sampai di sana hanya memakan waktu lima belas menit. Tetapi kenyataannya, perjalanan yang ku tempuh lebih lama dari waktu yang sudah ku prediksikan. Itu karena sejak tadi, jalanan dipernuhi dengan mobil dan motor yang ingin mengantar anaknya ke sekolah atau pegawai kantoran yang ingin secepatnya sampai di tempat kerjanya. Inti dari semuanya adalah pagi ini jalanan sangat macet dan padat.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, kini aku sampai di depan Fakultas. Begitu sampai, aku langsung di sambut oleh teman-teman astral atau kalian bisa menyebutnya dengan hantu, datang menyapaku.
"Queen ...," sapa semua teman-teman astralku yang kebanyakan bersosok perempuan berbaju putih usang, dengan rambut menjuntai sampai ke lantai.
"Hai, guys!" sapaku balik dengan menggunakan batin.
Ketika berinteraksi dengan mahluk-mahluk tak kasat mata, aku biasanya menggunakan bahasa batin. Atau lebih dikenal dengan berbicara dalam hati.
Semua mahluk astral di kampus ini memberikan julukan queen, kepadaku. Alasan mereka memanggilku dengan sebutan itu karena, aku bisa melihat, bisa berinteraksi juga, dan tidak pernah tersimpan rasa takut sedikit pun di dalam diriku ketika berhadapan dengan mahluk-mahluk seperti mereka. Hanya itu saja.
Awalnya, aku risih dipanggil queen sama mereka. Bukannya, apa-apa. Karena kalau mereka memanggilku seperti itu, aku terlihat seperti seorang ratu dari alam lain. Namun seiring berjalannya waktu, aku merasa panggilan itu lumayan juga. Toh, tidak ada yang tahu tentang panggilan mereka padaku. Kan manusia-manusia lain tidak bisa melihat dan mendengarnya.
"Bawa apa itu, Queen?" tanya salah satu dari mereka.
"Bawa alat-alat persiapan berperang," jawabku.
"Berperang dengan siapa?" tanyanya lagi.
Aku menarik napas, kemudian menghembuskannya secara perlahan. "Kalian akan lihat sendiri nanti."
Aku mulai masuk ke dalam Fakultas. Semua orang memandangiku dengan tatapan aneh. Karena sudah terbiasa, aku tidak terganggu sama sekali. Sampailah aku di tengah gedung yang saling berhadapan ini.
Meski masih pagi, banyak mahasiswa dan mahasiswi yang sudah datang. Kampus mulai ramai. Aku pun memulai aksiku.
"SELAMAT PAGI, TEMAN-TEMAN SEKALIAN. PERKENALKAN NAMA SAYA NAION. SAYA ADALAH ANAK SEMESTER AKHIR DI FAKULTAS INI. SAYA BERDIRI DI SINI UNTUK MELAKUKAN AKSI PROTES TERHADAP PIHAK KAMPUS YANG TERLALU MEMBERATKAN ANAK-ANAK YANG SEDANG MASA PENGURUSAN SKRIPSI. BAGI KALIAN YANG INGIN BERPARTISIPASI, SILAHKAN. MARI KITA TUNJUKKAN KEKUATAN KITA SEBAGAI MAHASISWA. HIDUP MAHASISWA!" Aku mengucapkan kalimat-kalimat itu menggunakan pembesar suara.
Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, aku menunggu respon semua mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menatap ke arahku. Namun sayang, mereka seperti tidak tertarik. Baiklah! Ini baru awal.
"TEMAN-TEMAN SEKALI—" seseorang menarik lenganku dan membawaku pergi.
"Kakak apa-apan sih?" tanya Robiin melepaskan lenganku.
"Kenapa?" tanyaku.
"Apa yang Kakak lakukan?" tanya Robin lagi.
"Kamu gak liat, Kakak lagi demo?"
Robin mengalihkan pandangannya sejenak, keningnya berkerut. "Kakak demo untuk apa?"
"Kamu gak liat spanduk-spanduk yang kakak bikin?"
Adikku itu memukul jidatnya perlahan. "Kak, aku gak mau tahu, Kakak harus—"
"Dek, kamu gak usah pedulikan apa yang Kakak lakukan." Setelah berkata demikian, aku langsung pergi meninggalkan Robin.
Ponselku bordering, nama Arisa muncul di dalamnya.
"Halo ..."
"Naion! Lo buat ulah apa di kampus?" tanya Arisa berapi-api.
"Kemarin gue bilang mau unjuk rasa, 'kan?"
"Astagaaa, Nai! Lo tunggu di sana, 3 menit lagi gue nyampe," ucap Arisa kemudian menutup panggilan.
Tiga menit kemudian, Arisa datang. Belum sempat bicara, ia langsung mengemasi peralatan, kemudian menarikku ke parkiran mobil.
"Mana kunci lo?" tanyanya.
"Lo mau apa?"
"Gue mau bawa lo pulang. Gila lo, yah! Bukannya akan dipermudah, lo akan segera di drop out kalau sampai kelakuan lo ini sampai dilihat oleh pejabat kampus," ujarnya.
Aku terdiam. Di dalam hati, aku masih belum terima dengan peraturan itu.
"Nai, gue tau kalau lo itu belum terima dengan peraturan yang ada. Cuman, lo pikir lagi deh. Dampak dari apa yang lo lakukan sekarang, akan sangat besar terhadap pendidikan lo. Apalagi Om Arman berharap anaknya bisa mendapat gelar sarjana disemester ini. Lo mau dikeluarkan secara tidak terhormat?"
"Sa, tapi aku—"
"Gak ada tapi-tapi. Lo gak punya kekuatan apa pun, Nai. Peraturan itu dibuat langsung oleh Pak Rektor. Jangankan kita, para petinggi Fakultas aja gak ada yang berani protes!" ujar Arisa berapi-api.
Mendengar kata Rektor, seketika muncul ide dari kepalaku yang ajaib ini.
"Baiklah, Sa. Aku akan berhenti sekarang," ucapku mengalah.
"Syukurlah kalau lo mengerti. Kalau gitu, ayo kita pulang! Hari ini dosen gak masuk. Kita cuman di kasi tugas. Jadi, aku akan mampir ke apartemen lo," ucap Arisa.
"Lo mau naik mobil gue? Jadi mobil lo, gimana?"
Arisa memasang wajah cemberut. "Mobil gue mogok."
"Trus lo naik apa ke sini?" tanyaku.
"Naik OJOL, Say!" jawabnya. "Lo gak usah banyak nanya lagi. Yuk!"
Ketika hendak membuka pintu mobil, aku teringat sesuatu.
"Sa, tadi pas lo bawa peralatan gue, lo gak lupak kan bawa pengeras suara gue?" tanyaku.
Arisa berpikir sejenak. "Sepertinya tidak, Nai."
"Lo masuk duluan aja di mobil. Gue akan masuk ambil benda itu dlu."
Arisa mengangguk.
Aku pun berlari menuju ke tempat tadi aku melakukan aksi demo. Ketika masuk ke Fakultas, semua mata memandangku dengan pandangan yang aneh. Ada yang berbisik, ada yang tertawa pelan, bahkan terlihat mengejekku. Aku harus sabar.
Begitu selesai mengambil barang – kemudian hendak menuju ke parkiran— tiba-tiba terdengar informasi dari pusat kontrol Fakultas, bawah Rektor Universitas Patrickorn International akan datang di Fakultas untuk melakukan evaluasi rutin yang memang dilakukannya setiap bulan.
Sepertinya, dewi Fortuna memang memihak kepadaku.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Menyerah sebelum berjuang adalah hal yang paling ku benci. Aku adalah salah satu anak yang memiliki tekad yang tinggi, dan tergolong keras kepala. Ketika ingin memperjuangkan sesuatu, maka aku benar-benar akan bertarung sampai ke titik darah penghabisan.
Sama halnya dengan yang ku perjuangkan di kampus. Aku tidak akan berhenti melakukan segala cara agar apa yang ku inginkan dapat tercapai. Pasalnya, pihak kampus sama sekali tidak memikirkan nasib mahasiswa dan mahasiswinya yang telah memasuki tahap semester akhir. Apalagi, ditambah dengan beberapa teman-teman lain yang berada di Fakultas berbeda yang manyandang predikat Mahasiswa Paling Lama (MAPALA) di kampus ini.
Kemarin aku mendengar informasi bahwa minggu depan, Rektor kampus akan datang di Fakultas untuk melakukan peninjauan yang dilakukannya setiap bulan. Mendapat kesempatan yang sangat langka seperti ini, aku akan memanfaatkannya dengan baik. Mungkin dengan cara berbicara dengan beliau tentang kendala yang dihadapi para mahasiswi semester akhir, pak Rektor itu akan merasa ibah. Dan akhirnya, mencabut peraturan tersebut.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Jum'at, 22 Januari 2020
Siang ini aku kembali datang ke kampus karena Arisa memintaku menemaninya pergi ke Mall, setelah kelasnya selesai. Karena pekerjaan di apartemen seperti beres-beres, masak, dan mencuci sudah beres, aku pun menyanggupi permintaan Arisa.
Aku menunggu Arisa di parkiran mobil. Tubuh ini terlalu malas untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam Fakultas itu.
Tok ... tok ... tok ...
Ada yang mengetuk kaca mobilku. Arisa sudah berada persis di samping pintu. Aku pun membuka pintu otomatasi yang berada di samping setir yanh hanya bisa dikendalikan oleh pengemudi.
"Lo udah lama datangnya?" Tanya Arisa saat mulai masuk ke dalam mobil, persis di sampingk pengemudi.
"Gak juga. Baru sepuluh menit yang lalu kok," jawabku.
"Oh, kirain lo udah nunggu berjam-jam." Setelah mrngucapkan kalimat itu, pandangan Arisa terarah ke seorang pria dewasa yang menggunakan setelan jas rapih berwarna abu-abu yang sedang berjalan menuju ke mobilnya.
"Lo suka sama laki-laki yang lebih tua, yah?" tanyaku.
Arisa tersenyum ceria. "Kalau gue sih suka-suka aja. Yang penting dia dewasa, mapan, dan juga tampan. Persis kayak Pak Armus," ucapnya.
"Dasar jomlo ngenes lo! Sa, kalau suka yang sama tua tuh kudu liat-liat dulu. Siapa tau, lo suka sama pria yang sudah ber-istri. Kan gak banget!"
"Lo kan juga jomblo, Nai! Hei, dia belum menikah, loh!" ujar Arisa. "Eh, by the way, waktu mengajar di kelas tadi, pak Armus bilang kalau dia bisa melihat mahluk-mahluk astral. Gue jadi langsung ingat lo."
Aku terkejut. Baru kali ini ada yang dengan senang hati mengakui kemampuan yang dimilikinya secara terang-terangan, seperti aku. "Masa?" ucapku.
Arisa mengangguk. "Nai, yuk, berangkat! Kita dari tadi belum jalan-jalan juga, tau! Gue takut, diskonnya bajunya keburu hangus. Yuk!"
"Baiklah, baiklah, Nyonya Arisa yang manis!" Aku pun mulai menyalakan mesin mobil, kemudian melaju ke tempat tujuan yang diinginkan Arisa.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Senin, 25 Januari 2020.
Pagi ini, suasana kampus menjadi sangat ramai. Puluhan mahasiswa dan juga mahasiswi berdiri di samping garis merah yang terpasang di kiri dan kanan sebuah karpet merah. Aku sampai bertanya-tanya, apa ada artis yang akan datang ke Fakultas? Pasalnya, kondisi yang berada di hadapanku saat ini terlihat seperti akan ada fan meeting yang dilakukan oleh artis dan semacamnya.
Aku menghampiri salah satu dari mereka. "Misi, ini ada acara apa yah? Kok sampai ada red carpet segala?" tanyaku.
"Pak Rektor akan datang sebentar lagi. Jadi, kami harus menyambutnya," jawab cewek itu.
Kuakui ingatan di kepalaku memang sangat lemah. Kemarin, yang ku tahu hanyalah Rektor itu akan datang minggu depan. Tetapi, aku tidak mengetahui pasti hari apa ia akan datang.
"Baiklah, Terima kasih," ucapku kemudian pergi meninggalkan kerumunan itu yang kalau dilihat-lihat kebanyakan dari mereka adalah kaum-kaum hawa yang diimataku terlihat seperti fangirl yang sedang menunggu biasnya akan datang.
Begitu keluar dari kerumunan tersebut, tiba-tiba seorang pria melintas di hadapanku. Saat ia melintas, aku mencium sesuatu yang sangat familier. Bau amis darah bercampur kemenyan terserap oleh hidungku.
Aku menoleh ke arah pria itu. Ia berjalan dengan sedikit membungkuk. Kedua tangannya saling berpegangan ke belakang. Secara mata kasar, penampakannya seperti sedang menggendong seseorang di balik punggungnya. Tetapi ketika melihat menggunakan bata batin, pria itu terlihat sedang menggendong anak kecil dengan wajah yang sangat menyeramkan. Bola mata anak kecil itu sangat besar. Lebih besar daripada wajahnya. Penampilannya juga aneh. Ia tidak mengenakan baju, tetapi malah memakai popok. Mahluk-mahluk seperti anak kecil tersebut biasanya dikenal dengan panggilan, Tuyul.
"Permisi," sapaku.
Pria yang berumur kisaran empat puluh tahun itu berbalik. "Iya?"
Aku menghampirinya. "Apa Bapak tidak merasa berat menggendong mahluk itu sepanjang hari?"
Wajah bapak itu berubah. Ia menengok ke kanan dan ke kiri melirik mahasiswa dan juga mahasiswi yang sedang memperhatikannya.
"A—apa maksud kamu?" Bapak itu panik.
"Aku gak bermaksud apa-apa. Aku cuman bertanya aja, Pak. Apakah Bapak tidak sakit menggendong anak kecil itu terus menerus?" tanyaku lagi.
Sejujurnya, baru kali ini aku bertemu dengan orang yang benar-benar memelihara Tuyul. Aku pertama kali melihat Tuyul ketika mengikuti Pramuka wajib sewaktu masih SMP. Mahluk itu biasanya menetap digunung-gunung, hutan-hutan, atau bahkan di rumah kosong. Mendengar nama Tuyul, kalian sudah pasti mengetahui bahwa ia adalah mahluk yang suka hoby mencuri uang. Jadi, sudah dipastikan bahwa bapak ini menggunakan Tuyul untuk mencari uang secara ilegal. Dan aku tidak pernah tahan melihat orang-orang seperti itu.
"Kamu jangan sembarang an, yah! Saya tidak memelihara Tuyul atau apa pun itu," ucapnya marah.
Bibirku tersenyum tipis. "Aku gak bilang itu Tuyul kok, Pak."
"Kamu—"
"Kyaaaa ... Pak Rektor dataaang!!!" teriak seseorang dari belakang bapak itu. Mereka semua berlari menuju pintu Lobi.
Mengetahui suasana menjadi riuh, bapak itu langsung ikut berlari. Ia mengambil kesempatan saat ini, untuk kabur. Baiklah! Lain kali, aku akan bertemu dengannya lagi. Sepertinya, beliau adalah salah satu pemilik kantin di Fakultas ini. Lebih baik aku fokus saja dengan tujuan hari ini, yaitu bertemu dengan Pak Rektor.
Aku melihat dari jarak yang sangat jauh, Rektor itu datang. Sebenarnya, aku terkejut mengetahui bahwa Rektor kampus ini terbilang sangat muda. Yah, itu sangat nampak dari wajahnya yang masih terlihat segar bugar. Bukan seperti wajah bapak-bapak atau hampir mendekati kakek-kakek.
Para mahasiswi yang berkerumun sangat histeris melihat kedatangan Rektor itu. Mereka semua berebutan ingin bersalaman dengannya. Untung saja, pak Rektor itu membawa dua pengawal untuk menjaganya. Kalau saja ia datang tanpa pengamanan, bisa-bisa ia akan habis dimangsa oleh cewek-cewek.
Rektor yang belum ku ketahui namanya itu, sudah berada di ruang rapat. Pengawalnya dengan setia berdiri di samping kiri dan kanan pintu itu. Aku mengutus salah satu Kunti untuk mengintai dan mendengar informasi tentang Rektor tersebut.
Setelah menunggu selama hampir satu jam setengah, akhirnya Kunti itu datang.
"Queen, aku mendengar pembicaraan kedua pengawal lelaki tampan itu. Katanya, untuk menghindari kerumunan banyak orang, si tampan akan pulang melewati bagian belakang gedung ini," lapor Kunti tersebut.
Satu alisku naik. "Si tampan?"
"Iya, Rektor kamu itu!"
"Oh ..." ucapku sambil mengangguk. "Kalau begitu, aku langsung ke sana aja deh. Makasih yah, Mbak!" ucapku.
"Sama-sama, Queen." Seusai berterima kasih, aku pun melangkah menuju ke tempat yang dikatakan oleh kunti tadi.
Gedung belakang kampus merupakan tempat yang paling jarang didatangi di Fakultas ini. Dari dulu, aku jarang melihat orang-orang melintas di area tersebut. Setelah sekian lama tidak ke kampus, ini pertama kalinya aku kembali melewati bagian belakang gedung itu. Aku menyukai pemandangan di sana.
Brug!
Seseorang menabrakku, mengakibatkan tubuh ini terpental ke bawah tanah. "Aw ..."
"Ma—maaf!" ucapnya terbata. Ia kemudian mengulurkan tangannya untuk membantuku.
Aku menerima uluran tangannya, kemudian kembali bangkit. "Gak apa-apa. Lo buru-buru, yah? Sampai gak liat jalan seperti itu?" tanyaku.
Ia mengangguk.
Sambil menepuk-nepuk celana yang terkena tanah. "Lo mau ke mana emang?"
"Gue mau ke ruangan laboratorium mikrobiologi," ucapnya.
"Oh, begitu. Yaudah, lo pergi sana. Entar lo telat lagi!" ujarku.
"Tapi lo beneran gak apa-apa, 'kan?" wajahnya terlihat sangat khawatir.
Aku menaikkan satu jempolku. "Gue baik-baik ajak, kok. Gak ada yang lecet juga."
"Baiklah, kalau begitu gue pergi yah! Sekali lagi, sory ...," ucapnya sambil mulai berjalan.
"Yap!"
Ia pun kembali berlari. Dan aku juga kembali berjalan menuju tempat tujuan itu.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Bersambung