Suara langkah kaki terdengar menggema di sepanjang lorong dan berhenti tepat di depan pintu salah satu unit yang tertutup. Orang itu membuka kasar pintunya, melangkah masuk, dan menutupnya hingga suara berdebum memenuhi penjuru unit. “Sialan!” umpatnya seraya membanting bunga yang dibawanya ke atas meja. Berkali-kali umpatan keluar dari mulut orang itu. Tidak hanya itu, kini juga dibarengi pukulan bertubi-tubi pada dinding putih tak bersalah. Napasnya memburu. Telapak tangannya yang terkepal, mulai mengeluarkan noda kemerahan pada buku-buku jarinya. “b******k lo, Wira! b******k!” Satu kali pukulan lagi, orang itu akhirnya ambruk ke lantai. Punggungnya bersandar pada dinding yang tadi jadi korbannya. Kepalanya tertunduk. Kedua tangannya mengusap kasar rambut dan wajahnya. Orang itu mena

