Keheningan menyelimuti ruang rawat Muhdi sejak beberapa detik lalu. Kedua orang dewasa itu memandang Rena, menunggu jawaban. Namun, orang yang ditunggunya tak kunjung angkat bicara. “Bagaimana, Sayang? Apa Ayah bisa bertemu dengan teman kamu itu?” Suara Muhdi kembali menerobos masuk melewati gendang telinga Rena. Membuat wanita itu kini menatap orang tuanya, bingung harus menjawab apa. Bahkan, Rena sama sekali tidak pernah menduga akan mendapat pertanyaan seperti ini dari orang tuanya. Astaga, ia harus jawab apa sekarang? “Nada? Kok kamu malah diam, ditanya sama Ayah tuh.” Laras menepuk pelan lengan kiri putrinya. Rena tergagap. Netranya menatap wajah orang tuanya bergantian. “Hmm, gimana ya, Yah, aku juga nggak tahu Ayah bisa ketemu sama dia atau nggak. Soalnya, teman Nada ini sibuk

