“Rena, tunggu. Jangan turun dulu,” tahan Wira saat Rena sudah melepas sabuk pengamannya dan bersiap turun. Mereka baru saja sampai di rumah Rena setelah pulang dari kafe tadi. “Kenapa, Wir? Ada barang kamu yang ketinggalan di kafe atau ada sesuatu yang lupa kamu beli?” “Bukan, bukan. Nggak ada yang ketinggalan dan nggak ada yang kelupaan. Aku cuma mau tanya sesuatu sama kamu. Kamu nggak mau cerita soal tadi?” “Soal yang tadi apa?” tanya Rena dengan alis terangkat. “Kamu lupa” Laki-laki itu balik bertanya, tapi sedetik kemudian, ia menghela napas. “Soal yang di parkiran kafe tadi. Kamu datang-datang langsung meluk aku sambil nangis, terus habis itu kamu bilang makasih. Apa kamu nggak mau cerita?” Rena meneguk ludahnya susah payah. Ia tahu cepat atau lambat Wira pasti akan menanyakan

