PART 4

985 Kata
Mateo duduk dengan enggan sambil menekuri ponselnya. Sesekali dia mendongak menatap Ibunya yang tengah asyik mengajari gadis bernama Isabela Jefferson itu merajut sebuah sweater. Apapun. Pekerjaan apapun terlihat percuma kalau mengingat nama belakang gadis itu. Bukankah dia bisa membeli rajutan model apapun dan sebanyak apapun tanpa perlu susah payah membuatnya sendiri? Mateo menatap ponselnya dan lalu menatap gadis yang terlihat serius belajar merajut itu. Mateo meniupkan udara keluar dari mulutnya. Pelayan datang dengan membawa nampan berisi teh camomile yang mengepulkan asap, juga kudapan dalam dua toples sedang. Mateo mendongak ketika gadis itu dengan lembut mengucapkan terimakasih pada pelayan. Alis Mateo bertaut. Kembali Mateo menghela napas. Dia baru akan beranjak ketika Ibunya mendongak menatapnya. "Tetap di tempatmu Mateo." Isabela ikut mendongak dan Mateo yakin gadis itu menahan tawanya. Mateo kembali duduk dengan canggung. Kembali dia menekuri ponselnya. Namun tak juga dia menemukan alasan tepat mengapa gadis bernama Isabela Jefferson Leandro itu ada di rumah ini. Dan dia melamar pekerjaan di Delico's? Sungguh tak masuk akal! Bahkan Mateo seakan melihat gadis itu adalah gadis dengan mahkota berlian yang melambangkan segala kemudahan dunia. "Kapan kau dan temanmu akan mulai bekerja, sayang?" Pertanyaan Ibunya pada Isabela membuat Mateo mendongak. Dan mendapatkan Isabela meliriknya tajam. "Huum...Aunty...aku menunggu kabar baik dari Bos tempat itu." Mateo mengangkat tangannya saat Ibunya menatapnya. "Apa, Mom?" "Oh Mateo...come on..." "Ada banyak orang di luar sana yang lebih membutuhkan pekerjaan itu Mommy. Uap panas, tepung dan rempah-rempah bukanlah sesuatu yang..." Mateo menatap Isabela tajam. "....cocok untuk tuan Puteri dengan mahkota emasnya Bu." Isabela terlihat nyaris mendengus. Namun dia menahannya. "Mateo...jangan memandang Isabela seperti itu. Kau harus mengenalnya baru bisa menilainya." "Apalagi? Mom tahu darimana dia berasal bukan?" Mateo melihat Ibunya terlihat kesal dan akan mulai mendebatnya. Namun, usapan tangan lembut Isabela di lengannya, membuat wanita itu menghela napas pelan. "Sudah Aunty. Tidak apa-apa. Kuharap kau mau mempertimbangkan temanku, Mateo. Liona Allesio?" Mateo hanya mengendikkan bahu. Dan Isabela nampaknya mulai kesal dengan sikap Mateo. Namun gadis itu segera menekuri lagi rajutannya. Mateo merasa bosan. Lalu apa gunanya dia di sini? Tak melakukan apapun. Hanya melihat dan menemani dua orang wanita merajut. Bahkan dia sudah merasa bosan mengubek ponselnya. "Aku mempertimbangkan temanmu itu Nona. Tapi tidak denganmu. Ada banyak yang bisa kau lakukan kalau kau berniat menambah uang saku. Maaf. Ini tentang sisi kemanusiaan. Ada yang lebih membutuhkan pekerjaan itu dibanding kau." Isabela menoleh dan seketika mengangguk. "Tidak masalah Boss. Yang penting kau menerima Liona. Dan...Aunty...kita bisa melanjutkan rencana kita bukan?" Isabela menoleh ke arah Ibu Mateo. "Tentu, sayang. Kita akan mulai semuanya besok." "Mulai? Mulai apa?" Mateo mau tak mau merasa penasaran dengan apa yang akan Ibunya dan Isabela lakukan besok. "Kita makan sekarang Isabela?" Ibunya justru menarik tangan Isabela dan mereka melangkah menuju ruangan makan. Mengabaikan Mateo yang menatap mereka tak percaya. Baru kali ini Ibunya mengabaikannya sedemikian rupa. Pada akhirnya Mateo hanya bisa mengambil napas panjang dan menggeleng perlahan saat melihat gadis itu dan Ibunya menghilang di balik pintu ruang makan. -------------------- Pagi yang cerah di pertengahan musim panas. Mateo memilih berjalan di sepanjang dek pelabuhan dan berakhir di ujung dermaga. Kapal-kapal pesiar berbagai ukuran bersandar. Mateo melayangkan pandangannya ke kejauhan. Puluhan kapal pesiar kecil membuang sauh. Pemandangan yang selalu membuatnya jatuh cinta. Angin laut yang bertiup sedikit kencang. Burung camar yang melayang tenang. Awan berarak di kejauhan. Matahari yang sinarnya berkilat menyentuh air yang bergulung dan mencium tepian dermaga. Selamanya. Selamanya Mateo adalah bagian dari semua itu. Sudah sebulan semenjak kedatangan Isabela ke rumahnya waktu itu. Dia hanya menemukan Liona, teman Isabela di gerai pizza keluarganya. Tak sekalipun melihat kelebat Isabela menemui temannya itu. Penolakannya pada Isabela membuat Ibunya sedikit cemberut waktu itu. Tapi Mateo tak ingin memikirkannya. Dia merasa keputusannya sesuai dengan prinsip Ayahnya. Membantu adalah keharusan. Tapi mereka juga harus memikirkan skala prioritas. Ibunya juga tak lagi cemberut sekarang ini. Wanita itu juga terlihat lebih sibuk di luar rumah beberapa minggu ini. Mateo bertanya dan Ibunya hanya menjawab dengan senyuman. Hidup terus berjalan. Mateo mengambil ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Dia mengeryit. Ibunya memintanya mengambil dan mengantarkan bunga? Sekali lagi Mateo menegaskan pesan dari Ibunya. Dan dia merasa yakin. Mateo berbalik dan melangkah. Dia menghampiri mobilnya dan sesaat kemudian melajukannya menuju alamat yang ditulis Ibunya. Sepuluh menit kemudian, Mateo berakhir dengan menatap dua kotak besar bunga mawar potong yang di masukkan oleh seorang pria muda ke jok belakang mobilnya, dengan instruksi untuk mengantarkan bunga itu ke alamat yang tertera di sebuah kartu nama. Mateo membaca dengan teliti nama penerima dan alamat... "Isabela Jefferson? Apa maksudnya ini..." Mateo melajukan mobilnya pelan. Sekali lagi Mateo menatap kotak mawar di jok belakang. Untuk apa? Mateo merunduk duapukuh menit kemudian mencari alamat yang tertera di kartu nama yang dia pegang. Isabela Florist Yang benar saja! Mateo mengangkat satu kotak mawar ke arah sebuah toko bunga di depannya. Dengan bahunya dia mendorong pintu kaca dan masuk ke dalam toko bunga. Tatapan matanya segera menemukan Isabela yang tengah sibuk memotong bunga. "Oh...shit!" Isabela menoleh. Mendapati Mateo yang meringis kesakitan. Gadis itu beranjak dari duduknya dan menghampiri Mateo. "Mawar itu berduri. Jangan seperti itu membawanya." Mateo nyaris mengumpat. Dia sudah repot-repot mengantarkan bunga itu dan Isabela masih menyalahkan caranya membawa kotak itu? Mateo meletakkan kotak ke meja. Dia baru saja akan berbalik untuk mengambil satu kotak lagi, saat Isabela mencekal lengannya. "Kau tertusuk duri. Aku tahu rasanya sangat menyakitkan. Biar aku mengobatimu." Mateo terpaku. Dia memang merasakan sakit di dadanya. Mateo baru menyadari bahwa tertusuk duri mawar begitu menyakitkan. "Buka bajumu." Isabela memberi perintah. Hening... Lalu Isabela yang terbelalak karena Mateo yang telah bertelanjang d**a di hadapannya. Melepaskan begitu saja kaos yang dipakainya. Hening... Isabela terpaku. Mereka begitu dekat. Isabela bahkan bisa merasakan wangi greentea menguar dari tubuh Mateo. Isabela merasa dia ingin tersipu. Dia bahkan yakin pipinya sudah memerah. Jari Isabela terulur. Menyentuh kotak-kotak yang terpatri di perut Mateo. Mateo bergeming. Napasnya tenang, berbanding terbalik dengan Isabela yang terlihat sedikit gugup. Jemari Isabela menekan. Kali ini bahkan di beberapa bagian. Mata indah gadis itu memicing seakan memperjelas apa yang dipandanginya sekarang. "Wow...lihat ini. Apakah kau memakai semacam...photoshop?" Hening kembali menyergap. Dengan Isabela yang mengeryit. Dengan Mateo yang menautkan alisnya. Mencoba mencerna kata-kata Isabela barusan. "Kau mau mengobati atau menumpahkan air liurmu?" "Haaah..." Isabela mendongak dan tatapan matanya bertemu dengan mata Mateo yang dingin. Mata abu-abu yang sayu. Dingin penuh kesakitan. -------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN