PART 3

1089 Kata
Senja turun perlahan ketika Isabela membuka pintu aprtemennya untuk Liona yang segera saja menganga tak mengerti. Bagaimana tidak, apartemen Isabela terlihat sederhana dalam sekali tatap. Namun kalau diperhatikan dengan benar maka kesederhanaan itu hanya ada pada setiap bentuk dan warna perabotan yang ada di dalamnya. Dan Liona, dengan sekali tatap dia tahu, semua perabotan di apartemen Isabela mempunyai nilai lira yang sangat tinggi. "Liona, inilah kamarmu...dan..." Isabela menarik tangan Liona yang terpaku. "Kau mungkin sangat heran dengan apa yang terjadi. Hmm...tentang kita yang tiba-tiba berteman?" Liona terlihat mengangguk. Bagaimanapun dia juga merasakan bahwa semua terjadi begitu cepat. "Begini Liona..." Isabela menatap Liona yang menyisir seprei satin di ranjang berukuran Queen size di kamar itu. Dia menunggu Liona duduk dengan tenang. Dan benar saja, Liona akhirnya memilih duduk di tepi ranjang sementara Isabela duduk di sebuah kursi yang ada di tepi ranjang, tepat di depan sebuah jendela. "Jangan memikirkannyaa terlalu berat Liona. Kami...maksudku, Jefferson--Leandro selalu mempunyai semacam...insting baik dalam menilai seseorang yang akan mereka jadikan teman dan sahabat." Liona menggeleng tak mengerti. "Aku tahu kau gadis yang baik. Makanya aku berpikir kita bisa menjadi teman baik, Liona." "Aku tersanjung. Aku bahkan tak ada waktu untuk berinteraksi dengan seseorang akhir-akhir ini. Aku sibuk mencari pekerjaan dan aku menaruh harapan besar pada Delico's." "Kita akan mendapatkan kabar baik Liona." Isabela beranjak. "Terimakasih sudah menjadikanku teman Isabela. Aku berasal dari tempat yang jauh. Dan aku selalu merasa sendiri di Napoli." "Kita sama. Aku sendiri di tempat ini. Ini tahun pertamaku dan kuharap kita bisa berteman baik." "Tentu Isabela. Aku masih tak percaya ini akan menjadi kamarku." Liona bergumam tak jelas namun masih bisa terdengar oleh Isabela. Dan Isabela tertawa. "Aku akan membuat makan malam." Isabela melangkah ke arah pintu. "Isabela...tunggu dulu!" Liona memekik membuat Isabela kembali menoleh padanya. "Berapa aku harus membayar sewa kamar ini? Ini bahkan lebih besar dan lebih bagus dari kamarku..." Mata Liona menjelajah seluruh penjuru kamar. "Cukup dengan kau membantu merawat apartemen ini Liona. Dan...aku berbohong satu hal padamu." Liona menghela napas. "Bahwa apartemen ini adalah apartemen yang merupakan properti pribadi Jefferson--Leandro? Aku bahkan sudah tahu itu." "Matamu sangat jeli...kau pasti melihat para penjaga apartemen yang mengenakan seragam dan pin bertuliskan Leandro Corp..." Isabela tertawa sedikit keras. Dia melanjutkan langkahnya keluar dari kamar Liona. Dan kali ini Liona memilih mengikuti Isabela. "Ada kamar mandi di setiap kamar Liona, dan itu...adalah kamar mandi luar. Kita boleh menggunakannya juga." Liona mengikuti telunjuk Isabela dan menghampiri pintu yang ditunjuk oleh Isabela. Liona membuka pintu kamar mandi itu lebar-lebar. "Untuk apa kau memasang televisi sebesar itu di kamar mandi Isabela...?" Mulut Liona menganga mendapati televisi super besar di  sebuah kamar mandi. "Aku penakut. Apalagi? Aku takut di kamar mandi sendiri." "Benarkah?" "Aku jujur masalah ini." Isabela menjawab pertanyaan Liona sambil mengambil bahan makanan dari lemari pendingin. "Aku takut tikus." Liona mulai membantu Isabela dan badannya bergidik seakan di tengah membayangkan seekor tikus. "Siapa yang tidak? Tikus itu...menjijikkan. Wajar kalau seseorang takut akan tikus. Tapi, takut berada di kamar mandi sendirian? Itu sedikit aneh dan memalukan kurasa." "Hmm...jangan merasa seperti itu. Kurasa wajar setiap manusia punya ketakutan akan sesuatu. Kita masak apa?" "Hmm...aku sedikit belajar dari sepupuku Elena dan iparku, Betty. Kita akan membuat pasta dengan bola daging. Kita akan membuat bola dagingnya sendiri." "Okay." "Dan lantai atas adalah perpustakaan dan ruang musik. Kau bisa ke sana kapanpun kau mau." "Oh...aku bagai kejatuhan bintang. Baiklah. Dan...terimakasih. Aku terharu. Aku bahkan tak bermimpi apapun semalam, Bela." Liona terdengar bersemangat membuat Isabela kembali tertawa. Dia akan membuat Liona berhenti mengucapkan terimakasih. Mereka lalu menjadi sibuk dengan pekerjaan mereka dengan sesekali bercanda. Dua gadis itu menyadari, betapa mempunyai seorang teman sangatlah berharga ketika mereka menjadi seorang perantauan. "Kira-kira kapan aku harus memindahkan barang-barangku?" Isabela berhenti mencampur adonan untuk membuat bola daging. "Hmm...aku akan menyuruh seseorang. Tenanglah. Besok kau ada kelas pagi hingga siang bukan?" "Benar. Aku bahkan harus berada di kampus hingga sore." Liona meniupkan udara melalui mulutnya. Jadwalnya yang sedikit padat membuatnya lelah. "Kalau begitu terima beres saja." Liona terlihat bingung. "Tinggalkan kuncimu padaku dan semua akan beres. Aku tidak ada kelas besok." "Baiklah." Liona dengan kebingungannya mulai menyadari satu hal, apapun bisa dilakukan oleh Isabela. Dialah di ruangan ini yang akan menjadi seseorang yang terkaget-kaget sewaktu-waktu. Malam mulai menggantung ketika Isabela dan Liona akhirnya menyelesaikan pekerjaan mereka dan membersihkan diri. Makan malam berlangsung meriah karena keduanya jelas gadis yang merasa cocok mengobrol satu sama lain. Sebuah awal yang baik untuk sebuah persahabatan. --------------------------- Mateo menghentikan permainan biolanya. Dia menoleh cepat ke arah jendela dengan tirai tinggi yang tersibak pelan oleh angin pagi hari dan terhempas lagi ke tempatnya semula. Mateo sigap bergerak ke arah jendela dan menyibak tirai pelapis. Dia seakan melihat seseorang berdiri di balik jendela yang sedikit dibukanya sejak dia memasuki ruang musik di rumahnya itu. Mateo mengeryit saat mendapati tak ada seorangpun di balik jendela. Sejenak Mateo membisu tak bergerak. Namun sesaat kemudian dia memutuskan untuk kembali memainkan biolanya yang tertunda. Alunan biola memecah sunyi. Selalu seperti itu setidaknya di waktu-waktu senggang Mateo. Dia bangun sedikit lebih pagi, memastikan dirinya sudah menyiapkan sepasang kaos kaki baru dan segera saja dia tenggelam pada dunianya sendiri. Tigapuluh menit kemudian ketika Mateo menyudahi permainan biolanya. Dia melangkah keluar dari ruang musik yang berada di ujung sayap kanan rumahnya. Dia melangkah pelan di sepanjang teras samping dan berhenti seketika. Mateo terpaku. Dia melihat kelebat seseorang dengan baju berwarna biru bergerak di sepanjang pilar memanjang rumahnya. Mateo menelengkan kepalanya dan tak berhasil juga mengetahui sosok siapakah itu? Mateo kembali berjalan sambil sesekali mengamati. Dan dia tak menemukan siapapun. Saat Mateo berbelok masuk melalui pintu samping, kembali Mateo melihat sosok itu...yang bisa dipastikan adalah sosok seorang wanita, tengah berjalan cepat dengan sedikit melompat dan menghilang di belokan koridor menuju ruang tengah. Mateo melaju langkahnya dan tak menemukan siapapun di koridor menuju ruang tengah. Langkah Mateo kembali melaju menuju ruang tengah. Pintu penghubung ruang tengah dan aula jelas sedikit terbuka. Mateo termangu. Senandung lirih serta merta tertangkap oleh indera pendengarannya. Dan tanpa mau melewatkan kesempatan sekali lagi untuk kehilangan jejak siapa seseorang di ruang tengah itu...Mateo mendorong pintu hingga terbuka lebar. Benar saja. Mateo melihat gadis yang duduk di sofa itu berbalik dan mendongak dari akfifitasnya mengaduk-aduk keranjang rotan yang berisi alat-alat merajut kesayangan Ibunya. Gadis itu... "Kami tidak suka penyelinap!" Hening. Gadis itu meletakkan keranjang rotan di pangkuannya ke meja. Gadis itu berdiri dan menatap Mateo. Lembut. Hanya saja...kilatan mata gadis itu mengharuskan Mateo waspada. Entah mengapa. "Bibi...anakmu ini baru saja mengataiku penyelinap. Aku...aku...itu menyakitkan." Mateo mendengus karena merasakan betapa nada suara gadis itu terdengar merajuk dan berusaha menjatuhkannya di depan seseorang. Seseorang? Mateo menoleh dan seketika menyugar rambutnya kasar. Bergantian, Mateo menatap Ibunya dan...gadis itu, yang sekarang tengah mencondongkan tubuhnya ke kiri untuk menatap Ibunya dan memasang wajah terluka yang teramat sangat. "Oh...Isabela sayang...maafkan Mateo okay..." Mateo menghela napas pelan saat Ibunya berjalan melewatinya dan memeluk gadis itu sesaat kemudian. Juluran jahil lidah gadis itu menyadarkan Mateo bahwa harinya akan sangat buruk bahkan hingga di penghujungnya... ---------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN