Pipi Tasya sedang dikompres dengan air padahal tamparan Yua tidak keras, ia terus berakting seperti orang yang tengah teraniaya. Mencoba menarik simpati Roan, pria yang dia sukai dari dulu.
"Aku tahu tunanganmu cemburu, tapi seharusnya dia bilang baik-baik bukannya nampar."
Tasya senang karena Roan lebih membelanya dari pada Yua, bahkan pertunangan mereka berakhir.
"Jangan hiraukan Yua, dia hanya emosi sesaat, lebih baik kamu lihat ini."
Sedangkan Roan membuka berkas yang ditujukan pada Tasya. Proyek baru yang butuh investor dan dukungan dari perusahaan Tasya.
Nathanael berdiri 30 tahun lalu. perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa layanan Teknologi Informasi, dengan memberikan prioritas pada layanan penyediaan hardware, pembuatan software (software development), pembuatan website (web design dan web development), maintenance computer (PC dan laptop), serta jasa konsultan teknologi informasi.
Beberapa tahun lalu ketika Roan baru masuk perusahaan, dia yang dijuluki genius memberikan inovasi. Salah satu teknologi yang kini menjadi andalan perusahaan, yakni NathaShope yang bergerak di bidang e-commerce. Nathanael sendiri didirikan oleh Rasyid Nathanael, ayah Roan.
Butuh waktu cukup lama bagi perusahaan ini untuk berkembang. Pencapaian terbaiknya baru dicapai pada tahun lalu. Waktu itu NathaShope sudah menjangkau 78 persen kecamatan di Indonesia, semua berkat Roan yang berusaha keras memenuhi tantangan Mamanya. Membuktikan diri bahwa dia layak memimpin perusahaan di masa depan.
"Aku yakin kalau proyek baru ini bisa sukses dan akan menjadi startup unicorn layaknya Treveloka atau pun Gojek," kata Roan mengakhiri penjelasan mengenai proyek barunya.
Tasya menahan napas di d**a, dia melihat peluang bisnis di sana. Namun, masih banyak kekurangan yang bisa menyebabkan uangnya akan terbuang sia-sia. Dia memandang Roan yang penuh harap.
Memang Roan sukses dengan NathaShope, tetapi bukan berarti idenya yang ini tidak banyak celah. Untuk kedepannya akan dia pantau lagi, tidak akan langsung menolak. Kalau perlu dia akan menyetujui dan rela kehilangan uang. Kalau itu bisa membuat Roan jadi miliknya.
"Idemu bagus, aku akan bicarakan ini di rapat umum perusahaanku."
"Terima kasih," kata Roan tampak senang.
Mereka berbicara banyak hal sampai Tasya harus pamit, Roan mengantar sampai lantai bawah. Hujan masih mengguyur kota Jakarta. Roan baru ingat dengan Yua, apakah kekasihnya itu pulang dengan selamat?
Sudah berlalu dua jam, tentu saja Yua baik-baik saja. Dia akan menemui Yua setelah proyeknya berhasil. Meminta maaf sekaligus memberikan kejutan, dia akan segera memikirkan tanggal pernikahan. Yua pasti senang. Semoga setelah tahun lagi perusahaannya akan memenuhi target.
"Oh ya, ibumu mengundangku makan malam." Tasya berbalik sebelum masuk ke dalam mobil. Mengatakan sesuatu yang terlupakan.
"Datanglah, aku akan menyambutmu."
Tasya mengenakan jas hitam nan elegan, wanita kantoran yang cerdas dan tangkas. Jauh berbeda dengan Yua yang lemah lembut dan hanya di rumah saja. Meskipun begitu, Roan lebih penasaran dengan gadis seperti Yua. Menarik dan bisa membuat hati nyaman.
Tasya dipayungi supirnya sampai masuk ke dalam mobil, melambaikan tangan kepada Roan sebelum mobil meninggalkan perusahaan.
"Yua, sebentar lagi aku akan sukses. Tunggu." Roan memandang langit yang mendung. Sangat gelap dan sepertinya hujan tidak akan berhenti sampai malam.
Roan berbalik dan hendak meninggalkan teras kantor, dia baru ingat bahwa sudah lama sekali tidak mengundang Yua untuk makan di rumahnya. Tak apa, pasti Yua akan mengerti.
Ponselnya berdering, dari Tante Fera. Dia merogoh saku dan membuat jemarinya menyentuh cincin Yua, terjatuh ke lantai, menggelinding jauh.
Roan mengejar cincin tersebut, hingga akhirnya berhasil berada di tangannya lagi. Bisa gawat kalau cincinnya hilang, Yua pasti marah padanya. Ini adalah cincin pertunangan mereka yang berharga.
Sekali lagi dia tidak menganggap ucapan Yua tentang putusnya pertunangan adalah hal serius, Yua hanya marah dan nanti akan baikan.
"Hallo, Tante."
Dari seberang tampak gugup, "apa Yua sama kamu?"
"Nggak, dia tadi ke sini bentar tapi udah pulang, ada apa Tante?"
Suara di seberang hening, seperti Tante Fera berbicara kepada orang lain. Cukup lama sampai Roan menganggap bahwa mungkin kesalahan sinyal.
"Hallo, Tante."
"Eh, iya. Nggak papa, berarti Yua nggak cerita apapun?"
Kali ini Roan yang diam, tadi sangat buru-buru sampai dia lupa menanyakan kenapa Yua menemuinya. Dugaannya adalah Yua ingin dinikahi, sama seperti permintaan Arjun beberapa waktu lalu.
"Nggak, emangnya ada apa, apa Yua belum sampai rumah?"
Di luar masih hujan, kalau Yua belum sampai rumah, lalu dia ada di mana sekarang? Apa Yua terjebak hujan di suatu tempat? Roan mulai khawatir.
"Mungkin sebentar lagi sampai, nanti Tante suruh Aldo menjemput Yua. Kamu tidak perlu khawatir."
Ah, Roan lega karena Tante Fera perhatian kepada Yua, tidak seperti yang Arjun khawatirkan. Padahal kalau Aldo tidak menjemput Yua, dia berpikir akan menerobos hujan untuk mencari Yua dan mengantar ke rumah. Syukurlah tidak perlu, jadi dia bisa kembali ke ruangannya untuk bekerja.
"Terima kasih karena sudah perhatian sama Yua, aku jadi tenang karena Tante yang jadi wali Yua dan Arjun."
"Iya, kamu tidak perlu khawatir, kalau begitu Tante tutup dulu."
Panggilan ditutup, Roan berjalan ke arah lift. Kilat menyambar hingga bunyi petir terdengar keras. Sejenak dia berpikir bahwa kasihan Yua di luar sana, namun sudah diurus Aldo, jadi tidak apa-apa. Yua pasti bisa menunggu.
Sementara itu di dalam mobil perjalanan pulang, Yua menutup telinga sembari beristighfar. Tidak kuat mendengar bunyi yang keras, kecelakaan mobil dua tahun lalu membuatnya trauma.
Untuk bisa naik mobil lagi, dia harus mengatasi trauma selama berbulan-bulan, butuh waktu lama supaya mental Yua kembali seperti sedia kala.
Jexeon yang melihat itu memberikan earphone, dia sudah menyalakan musik di sana. Membuat Yua menoleh karena heran, tak ada kata apapun dari Jexeon, masih saja irit bicara padahal perhatian.
Yua menerima earphone itu, perasaannya jauh lebih baik dengan alunan musik yang tenang. Mobil melaju dengan kecepatan normal membelah hujan.
Sesampainya di rumah, Arjun sudah menunggu dengan gelisah. Berkali-kali melihat ke luar jendela. Berharap kakaknya segera pulang, hingga terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.
Arjun segera berlari membuka pintu, ada payung di tangannya. Ia memayungi kakaknya yang baru keluar dari mobil.
"Nanti barang akan datang," ucap Jexeon. Tidak keluar dari mobil. Setelah Yua keluar mobil ia langsung pergi tanpa memberikan kesempatan Arjun bertanya barang apa yang akan datang.
"Emangnya barang apa yang bakal dateng?"
Yua masih tertatih memakai tongkat masuk ke dalam rumah, di tangannya ada dua nasi kotak lalu sayuran. Kata Jexeon tadi sudah ada beras di rumah, jadi tidak perlu beli. Besok dia akan mulai masak sendiri.
"Baju," jawab Yua singkat. Dia berhasil masuk dan beristirahat di kursi. "Tolong bawa ini ke dapur."
Arjun menerima plastik putih itu, dibuka dan ternyata berisi nasi kotak untuk makan malam mereka.
"Kakak beli baju? Kok nggak langsung dibawa pulang?"
"Banyak banget jadi nanti dianterin langsung," jawab Yua. Meletakkan tongkat ke samping.
"Kenapa Kakak beli baju banyak? Buat apa? Bukannya pelit tapi uang kita nggak banyak."
"Mas itu tuh yang beliin. Padahal aku udah bilang nggak mau."
"Bang Iyon beliin Kakak baju??"
Yua diam sesaat, mengalihkan pandangan ke arah lain. Ingin bicara terus terang tentang pernikahan. Sebenarnya dia bersedia menikah dengan Jexeon, pria itu baik dan mau melindungi. Tidak perlu kabur keluar negeri, yayasan Ayah bisa terus berjalan. Semua akan baik-baik saja kalau dia mau menerima tawaran menikah.
Namun, Yua tetap ingin meminta pendapat Arjun sebagai satu-satunya keluarga sekaligus orang yang akan menjadi wali nikahnya. Secara agama Arjun sudah bisa menjadi walinya, umurnya sebentar lagi 17 tahun, sudah baligh.
"Besok... Tante Fera akan resmi jadi wali kita."
"Lalu apa hubungannya sama beli baju?"
"Aku ingin cegah Tante Fera lewat pernikahan."
Arjun diam sejenak, sebelah alisnya terangkat. "Kak Roan mau nikahin Kakak?"
Mendengar pertanyaan itu Yua menggeleng, cincin di jari manisnya sudah tidak ada. Kembali ke pemiliknya, Roan.
"Bukan Roan, tapi Mas ... Jexeon."
"Apa??"
Arjun sangat terkejut mendengar hal itu.
"Tadi Mas Jexeon ngelamar, kayaknya dia nggak mau kita pergi ke luar negeri. Mas Jexeon bisa menikahiku besok, secara agama, nanti berkasnya bisa nyusul. Kalau aku nikah sama Mas Jexeon, Tante Fera nggak bakal bisa jadi wali kita."
"Apa Kakak tahu siapa Jexeon?"
Mata mereka bertemu, Yua tidak mengerti maksud Arjun. Bukankah Jexeon orang baik karena menolong mereka? Bahkan Arjun sendiri yang minta tolong kepadanya.