Seperti Hujan

1209 Kata
Aku melihat mendung yang kini bertahta di langit Jakarta, tampak gagah tanpa goyah. Siap mengguyur wilayah di bawahnya. Sama seperti penantianku yang sudah sampai batasnya, berakhir tanpa bisa dicegah. Cincin tidak lagi melingkar di jari manis. Aku memejamkan mata dan merasakan angin dingin yang berembus. Banyak hal yang terjadi di hidupku, dari mulai kehilangan orang tua, kakak, paman dan sekarang tunangan. Ditambah kaki kiri yang digantikan tongkat. Tinggal Arjun yang aku punya, adik yang sangat aku sayangi melebihi nyawaku sendiri. Aku ingin menjaga harta satu-satunya itu. Jika Allah ingin mengujiku lagi dengan mengambil Arjun, maka aku tidak akan sanggup. Mungkin saja aku akan memilih pergi menyusul semua orang yang aku sayangi, pikiran yang berkali-kali aku tepis. Selalu berdoa semoga imanku kuat dan tidak goyang sampai melakukan dosa besar itu. "Kok nangis, aku 'kan kuat?" Aku menghapus air mataku yang tiba-tiba menetes, bicara pada diri sendiri. "Anaknya Ayah dan Bunda, adik kesayangan Kak Farel, ponakan kebanggaan Paman dan kakaknya Arjun. Harus kuat demi mereka." Supaya pengorbanan Kak Farel tidak sia-sia, aku harus menghargai hidup dan menjadi alasan Arjun kuat. Namun, kenapa semuanya begitu sulit? Hatiku sangat nyeri hingga terasa sesak untuk bernapas. Air mataku tidak bisa berhenti menetes sekuat apapun mencoba. Aku menghapusnya dan berjalan ke arah jalan raya, tidak mendapati Jexeon menunggu, mungkin sudah pulang duluan. Itu malah lebih baik, dia tidak perlu melihatku dalam kondisi menyedihkan. "Hujan," ucapku, rintik hujan mulai turun. Membasahi hijabku tanpa aba-aba. Tongkat bergerak lebih cepat, harus berteduh dulu. Gedung di sebelah Nathanael Grup menghadap ke arah utara, belakangnya bisa untuk berteduh meskipun atapnya tidak lebar. Aku berteduh di sana dan menunggu hujan turun. Tanganku terulur, mencoba memahami kenapa hujan turun tanpa peduli orang-orang di bawahnya. Aku ingin seperti hujan yang bisa memberi tanpa meminta balasan. Andai tidak mengharapkan perasaan dibalas Roan, mungkin sakit hati ini tidak akan pernah ada. "Ya Allah, hadirkan seseorang yang tepat untukku. Menerima kekuranganku dan bisa menjagaku." Roan meninggalkanku karena tidak tepat untukku, tidak bisa menerima kekuranganku dan tidak mau melindungiku. Seharusnya aku berdoa seperti itu dari dulu, bukan berpikir bahwa Roan sudah pasti jodohku. Langit mendung belum mau berhenti menyirami bumi, masih bersemangat untuk membuatku terus menunggu. Sama seperti menunggu orang yang Allah takdirkan untukku. "Yua!" Panggilan itu membuatku menoleh, Jexeon berlari memecah hujan. Ternyata dia belum pergi. Aku pikir sudah duluan karena mobilnya tidak ada. Dia memanggil namaku untuk pertama kalinya, padahal kupikir dia tidak tahu namaku. "Loh, aku pikir Mas udah pulang." Kini dia berada di sampingku, mengelap jaketnya yang basah menggunakan tangan. Badannya yang tinggi membuatku tidak nyaman dan harus mendongak. "Cuma pindahin mobil, gimana tunanganmu. Bukankah kau ke sini untuk tarik ulur?" Itu adalah kalimatnya yang paling panjang, ternyata suaranya bagus, kenapa selama ini dia sangat pendiam? Terlebih dia perhatian karena menanyakan hasil pertemuanku dengan Roan, meskipun dia salah karena aku tidak ada niatan tarik ulur. "Udah putus, aku dan Arjun akan keluar negeri. Sudah tidak ada harapan di sini." Aku menunduk, tersenyum tipis. Kalau memang menemui Roan dengan niat tarik ulur, maka aku tidak akan pergi keluar negeri. "Kalau ada yang menikahimu, apa tidak jadi pergi?" Pertanyaannya seolah dia keberatan kami pergi, Arjun bilang baru bertemu Jexeon beberapa hari lalu. Apa mungkin dia peduli dan merasa kehilangan kalau kami pergi? "Mungkin saja," jawabku apa adanya. Dalam hati kecilku juga menolak pergi, kalau ada kesempatan untuk mempertahankan Yayasan peninggalan ayah, sudah pasti aku memilih tinggal. "Siapapun tidak masalah?" tanyanya lagi. Jodoh bukan tentang siapa cepat dia dapat, tetapi sekarang sepertinya aku tidak bisa pilih-pilih. Asalkan seperti doaku tadi, kupikir tidak masalah siapapun dia. "Orang yang menerima kekuranganku," ucapku menunjukkan tongkat. Pasalnya Roan memutuskan pertunangan kami karena aku cacat. Sebenarnya aku bersyukur karena cacat sebelum menikah, jika tidak pasti aku akan diceraikan. "Hanya itu?" tanyanya lagi. "Terus mau menjagaku dan Arjun dengan baik." "Kalau begitu aku." "Apa?" Aku tidak mengerti dengan ucapannya, dia beralih di depanku. Berdiri tidak peduli dengan hujan yang membasahi jaketnya. "Menikahlah denganku," ucap pria yang ada di hadapanku. Dia, pria yang baru aku kenal kemarin. Menghalangi hujan dengan punggungnya, membuat jaket hitam itu basah kuyup. Kepalanya menunduk, menatap mataku yang mendongak. Menyisakan jarak beberapa centi. Kaki kananku mundur, diikuti tongkat kruk yang menopang kaki kiri. Punggungku jatuh ke tembok, tanpa berkedip sama sekali. Masih mencari keseriusan dari ucapannya. "Yua, jadilah istriku." Hujan masih deras membasahi punggungnya, atap di atas kami tidak lebar, sulit berteduh di sini dengan keadaan yang tidak terduga. Tatapan matanya menunggu jawaban. Sementara bibirku terasa kelu untuk menjawab lamaran yang begitu tiba-tiba. "Apa kamu mau menikahiku karena kasihan?" "Tidak," jawabnya singkat. "Lalu apa?" "Karena aku juga punya tujuan." "Tujuan apa?" "Apapun tujuanku tidak akan merugikanmu," jawabnya lagi. Mungkin sama sepertiku yang ingin menikah supaya punya wali, di saat terdesak tidak boleh pilih-pilih. Jexeon orang yang bisa melindungi dan berpihak padaku. Terlebih katanya tidak akan merugikanku. Namun, apakah aku harus menikah dengan cara seperti ini? "Aku mau bicara dulu sama Arjun," jawabku. "...." Tak ada jawaban lagi. Hanya kedua alisnya yang meninggi pertanda bahwa dia setuju. Dia melepas jaketnya, dipakaikan ke kepalaku. Lalu dia berjalan di antara hujan, tanpa peduli dengan bajunya yang basah. Aku melihatnya heran, lalu menunggu beberapa saat hingga dia kembali membawa mobil. "Masuk," ucapnya. Aku tertatih memakai tongkat masuk ke dalam mobil, tidak membuat bajuku basah karena jaket hitamnya. Namun, ujung gamisku kotor terkena cipratan air hujan. Dia tidak membahas tentang pernikahan lagi, sekilas aku melihat rahangnya yang tegas, dia jauh berbeda dengan Roan. Tidak tampak kelembutan sama sekali, tetapi kenapa aku merasa nyaman berada di dekatnya? Beberapa waktu kami diam dalam keheningan, sampai mobil berhenti di parkiran mall. Bajunya basah, mungkin dia ingin membeli baju dulu. Kemarin aku hanya membawa beberapa baju ketika keluar dari rumah, uangku tidak banyak tapi cukup kalau untuk membeli baju. Harus berterima kasih kepada Jexeon karena menolang kami, jadi setidaknya aku akan membelikan dia baju. Semoga saja dia tidak membeli yang mahal. "Turun," ucapnya turun duluan. Aku mengeluarkan tongkat lebih dulu, disusul kaki kanan dan kiri, ditopang oleh tongkat aku berjalan mengikutinya masuk ke mall. Jaket Jexeon ditinggal di mobil. Dia mengacak rambutnya sendiri yang basah, percikan airnya sampai mengenai wajahku. Kami berjalan ke area pakaian, gamis perempuan, mirip yang aku kenakan. Kenapa malah ke sini, bukankah dia ingin beli untuk dirinya sendiri? "Kenapa ke sini?" "Bajumu basah," jawabnya. "Tapi bajumu lebih basah." Dia tidak memedulikan ucapanku, malah mengambil beberapa potong baju, diberikan kepada mbak SPG. "Satu aja cukup," kataku ketika dia mengambil baju ketiga. Masih terus berjalan tanpa peduli aku kesulitan mengikutinya. Di sini tempat baju bermerk, satu baju saja harganya bisa mencapai 12 juta. Dikalikan tiga maka bisa dibayangkan berapa harganya. Aku menarik ujung kaosnya. Membuat dia menunduk. "Uangku nggak cukup," ucapku lirih. "Aku yang belikan." Dia berjalan lagi, mengambil baju ke empat. Tidak meminta pendapatku sama sekali. Tangannya menunjuk dari ujung kanan ke kiri, hampir semuanya masuk ke hitungan dia tunjuk. Kecuali baju di makenin depan dan empat baju yang tadi disingkirkan. "Dari sana ke sana, bungkus semua." Aku melongo dengan ucapannya, semua baju itu berharga mahal dan sangat banyak, mungkin ada 50 potong. "Ba... baik, Tuan." Bahkan mbak SPG kehilangan kata-kata. Mereka bergerak cepat membungkus semua baju. "Kenapa beli banyak banget," protesku. "Aku harus mengambil hatimu supaya kamu mau menerima tawaranku." Tapi tidak dengan cara seperti ini, dia pintar sekali membuatku semakin merasa berhutang budi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN