Rasa sakit dari lengan tersayat melebihi rasa sakit di hati, aku memukul dadaku sendiri berulang kali. Sulit sekali bernapas. Air mata berusaha ditahan hingga berbelok di taman rumah sakit. Aku mencari tempat sepi di teras samping. Dapatkah hati ini kuat mencintai orang yang penuh kebencian? Dia menyakiti banyak orang, bahkan menyakiti dirinya sendiri karena dendam. Aku menangis, berusaha menghilangkan sesak di d**a. Dia dan segala cinta, sudah menyatu erat dengan hatiku. Bahkan aku mampu merasakan dendamnya, sakit hatinya, dan juga perasaannya yang beku. "Sesak," kataku sembari memukul d**a. Berusaha bernapas dengan benar. Aku menjatuhkan punggung di tembok, merasa tidak berguna sama sekali. Jexeon adalah orang yang tidak mampu kugapai. Aku tidak bisa membawanya keluar dari kegela

