Aku menarik selimut sampai menutupi sebagian wajah. Malu-malu mlirik ke samping, Jexeon sedang tengkurap dengan d**a telanjang. Raut wajah tampan itu sangat kelelahan, tidur pulas seperti bayi besar. Kadang mengerang dan mungkin sedang bermimpi indah. Kemarin adalah hari yang melelahkan, pertarungan di resepsi pernikahan ditambah pertempuran malam. "Pipiku panas." Aku memegang pipiku sendiri. Pasti merah seperti kepiting rebus. Dadaku berdegup kencang, ingat semalam ketika melakukannya. Tidak menyangka hubungan kami akan sampai sejauh ini, terlebih tidak memakai pengaman. Mungkin saja kami akan menjadi keluarga berencana dengan dua anak. Kenapa malah membicarakan anak padahal baru tadi malem lempar peluru? Sekali lagi melirik ke samping, apakah Jexeon berpikir untuk memiliki anak

