Aku mendorong d**a Roan supaya melepaskan tubuhku. Suasana menjadi sangat canggung ketika aku menoleh dan mendapati Jexeon. Mata kami bertatapan, sorotnya sangat dingin. Apakah dia salah paham kejadian barusan? "Mas, udah pulang." Aku segera menghampirinya, semoga dia tidak marah. Duh, aku takut dicekik. Seharusnya aku nyungsep aja di lantai dari pada Jexeon melihatku ditolong Roan. Jexeon diam saja dengan wajah esnya. Jantungku berdebar kencang, sungguh takut dicekik di hadapan Roan. Aku bisa malu. "Mas, kakiku sakit. Gendong." Aku bersikap manja, berharap dia menggendongku seperti biasa. Namun, dia malah melewatiku menuju kamar. Akan lebih baik kalau dia marah lalu bertanya, dengan begitu aku bisa menjelaskan semuanya. Apa dia tidak cemburu? Kenapa mengabaikan kami? Sabar, dia

