Bab 1. One Night Stand
"Bapak serius mau lakukan ini?" Seorang pria berdiri cemas menghadap pria berjas mahal yang tengah menghisap rokoknya.
"Kamu meragukan saya?!" Dia mengembuskan asap rokoknya ke udara. "Ini akibat dia terlalu sombong, Felix. Sudah satu tahun aku mengajukan kerja sama dan baru hari ini tua bangka itu setuju. Merusak sedikit reputasinya tentu bukan hal buruk."
Felix menghela napas panjang, dia memilih untuk tidak lagi berbicara. Pria itu berjalan mendekati meja panjang yang telah tersedia berbagai jenis hidangan, lalu dia mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya—sebuah obat perangsang dengan dosis yang cukup kuat. Felix memasukkannya ke dalam salah satu minuman beralkohol, lalu mengaduk perlahan. Setelah selesai, dia langsung keluar dari ruangan meninggalkan sang atasan sendiri di ruangan VIP restoran tersebut.
Matahari sepenuhnya hilang dan bulan mulai memperlihatkan keindahannya. Waktu menunjukkan pukul 19.00 wib dan Baron baru saja memasuki ruang VIP restoran. Pria itu melangkah dengan tegas begitu pintu ruangan VIP dibuka, Riko tersenyum sinis melihat kehadiran pria itu yang seorang diri, tanpa asisten dan pengawal. Semesta seolah tengah melancarkan aksi nekatnya kali ini.
Riko berdiri, dia berjabatan tangan dengan Aron. Wajah ramah Riko berbanding terbalik dengan sesuatu yang sengaja dia siapkan untuk Baron. Senyuman lebar Riko sama sekali tak memancing kecurigaan Baron, pria berusia 45 tahun itu langsung duduk di salah satu kursi.
Ruangan VIP itu desain elegan, lampu gantung kristal menjuntai tepat di atas meja panjang dengan taplak kain putih. Suara hiruk pikuk terdengar samar di dalam ruangan itu, ruangan yang sangat tepat untuk pertemuan bisnis bersama klien. Lilin-lilin kecil di sudut menyala lembut, memantulkan cahaya hangat di permukaan gelas kristal dan piring porselen. Aroma steak yang baru saja disajikan bercampur dengan wangi wine yang sudah dituangkan ke dalam gelas.
Kehadiran Baron malam ini adalah untuk membicarakan sebuah kerja sama di bidang teknologi. Aron datang sendiri dikarenakan sang sekretaris sedang ada urusan mendesak yang tak bisa ditinggal. Pria itu duduk tenang di hadapan Riko, dia sama sekali tak merasa ada yang janggal dari lawan bicaranya malam ini, Baron tak akan menyangka jika ada kejutan besar yang siap merusak citra yang selama bertahun-tahun dia bangun.
"Senang rasanya bisa berkerja sama dengan NexaTech Solutions. Siapa yang tidak tahu perusahaan teknologi terbesar di Asia? Yang kata orang susah untuk digait, tetapi saya berhasil." Pujian itu Riko lontarkan dengan senyuman karir yang tepantri di wajahnya.
Baron terkekeh. "Ini terlalu berlebihan, tetapi terima kasih. Kami melihat proposal yang Anda kirimkan sangatlah dalam-dalam. Ujung batang rokok itu memerah, bara kecilnya berpendar di antara cahaya lilin yang temaram. Asap putih perlahan keluar dari bibirnya, melayang ringan di udara sebelum mengabur ke langit-langit ruangan.
“Bangunan cerdas, ya?” gumamnya pelan, seolah mencerna kalimat tadi sambil menatap ujung rokok. “Kedengarannya ambisius, tapi menarik.”
Dia menghembuskan asap lagi, kali ini lebih panjang, meninggalkan aroma tembakau yang tipis bercampur dengan wangi wine di meja. Matanya tetap menatap proposal, sementara jemarinya mengetuk ringan meja mengikuti irama musik jazz yang samar terdengar dari luar.
Riko hanya tersenyum, memperhatikan gerak-gerik Baron yang terlihat tenang—terlalu tenang, hingga sulit ditebak apa yang sebenarnya dia pikirkan.
“Betul. Selama ini, fokus kami adalah infrastruktur dan kualitas fisik. Tapi kalau digabung dengan sistem pintar, hasilnya akan lebih bernilai. Contohnya gedung perkantoran yang bisa menyesuaikan penggunaan listrik sesuai jumlah orang di dalam ruangan," jawab Riko dengan detail.
“Ya, kami punya software IoT yang bisa terintegrasi langsung dengan sensor di dalam bangunan. Jadi, gedung itu bisa ‘hidup’—memantau suhu, cahaya, bahkan kualitas udara. Data real-time ini juga bisa dimanfaatkan untuk pemeliharaan, supaya tidak ada kerusakan yang terlambat ditangani." Baron mematikan rokoknya, lalu membuang puntung rokok itu pada asbak yang tersedia.
Riko melihat jam yang melingkar di tangannya, 30 menit sudah berlalu dan sebentar lagi makanan akan dingin. Sebagai tuan rumah, dia mendongak—menatap ramah pria berusia 45 tahun di hadapannya.
"Pak Baron, mari kita makan dulu, setelahnya baru kita lanjutkan," ajak Riko yang diangguki Baron.
***
Baron melangkah keluar dari ruang VIP dengan napas yang tidak beraturan. Dadanya naik turun cepat, tubuhnya terasa panas, bahkan hawa malam pun tak mampu meredakan gejolak aneh yang merambat di sekujur tubuhnya. Dia berdecak pelan, matanya menyipit menahan rasa yang sulit dijelaskan. Wine yang dia minum jelas telah tercampur sesuatu—obat perangsang.
“b******k,” umpatnya dalam hati, menyadari permainan kotor yang Riko lakukan. Untung dirinya segera sadar saat reaksi tubuh mulai tak terkendali. Dengan langkah gontai, dia berusaha mencari udara segar di luar restoran, mencoba menenangkan diri. Baron menoleh ke belakang, dia berdecak—segerombolan orang berpakaian hitam tengah mengikuti dirinya, Aron yakin ini sebuah jebakan!
Namun, di tengah kebingungan itu, langkahnya justru tak teratur. Pikirannya mulai kabur, tubuhnya limbung. Saat hendak menyeberang lorong menuju lift, tubuhnya bertabrakan dengan seseorang.
Seorang perempuan terjatuh kecil, tasnya hampir terlepas dari genggaman.
“Ah! Maaf—” suaranya terdengar gugup, terkejut dengan benturan itu.
Baron spontan menahan bahunya, tapi genggamannya sedikit terlalu kuat karena efek obat yang masih bekerja. Tatapan matanya tajam, tetapi redup, campuran antara kebingungan dan amarah yang ditahan.
Perempuan itu menatap balik, sedikit terdiam melihat ekspresi asing di wajah pria itu. Pria yang cukup tampan dan gagah, tetapi sayang ekspresinya terlalu aneh dengan wajah memerah.
Baron berusaha menarik napas panjang, menahan diri agar tetap waras. “Maaf … saya nggak sengaja,” ucapnya pelan, suaranya berat, hampir serak.
"Pak? Bapak oke, 'kan?" Perempuan itu menempelkan punggung tangannya pada kening Aron, dia mengernyit. "Panas," sambungnya lirih.
Dia tersentak saat Baron menarik tangannya, lantas memeluk pinggangnya. Mata perempuan asing itu membulat sempurna kala sesuatu bertekstur kenyal menempel di bibirnya. Matanya terpejam saat bibir pria itu bergerak, membelai dan menyentuhnya dengan lembut. Dia nyaris terbuai sebelum akal sehatnya kembali menguasai dirinya, perempuan itu berusaha melepaskan pelukan mereka dengan memukul bahu pria asing di hadapannya.
Ciuman itu terlepas, dia mengatur napas—deru napasnya terdengar jelas. Perempuan itu melotot tajam, menatap sebal pria berumur di hadapannya.
"Bapak gila?! Seenaknya nyium saya!" protesnya.
"Saya nggak tahan, di dekat sini ada hotel, kita ke sana." Baron menarik tangan perempuan asing itu dengan terburu-buru, dia menoleh ke belakang, orang-orang itu sudah tak ada di sekitarnya. Dia segera menarik perempuan asing itu untuk mengikuti langkahnya.
"Ha?!" pekiknya heboh sambil memberontak.
Di dalam kamar hotel, seorang perempuan melenguh tertahan. Tubuhnya dibelai dan disentuh dengan senduktif, terkadang dia merasakan benda lunak tanpa tulang ikut membelai tulang selangkanya membuat dirinya hilang akal.
"Eungh ..., Pak!" desah perempuan itu tertahan.
"Saya mohon bantu saya, saya enggak kuat." Suara rendah Baron membuat sesuatu di dalam dirinya luruh, tatapan sayu Aron berhasil menarik akal sehat perempuan itu.
"Bapak bukan demam, tapi kena obat perangsang?!" serunya dengan mata melotot.
Baron mengangguk lemah, dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher perempuan itu. Menggigit kecil dan menghisapnya pelan, menciptakan tanda kepemilikan yang tak seharusnya ada.
Malam itu, Aron merengut kesucian perempuan asing yang tak pernah dia lihat. Malam itu, Baron kembali merasakan suatu kenikmatan duniawi setelah sekian lama. Lalu, perempuan itu merasa terbang untuk pertama kalinya.
***
Sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden. Seorang wanita melenguh sambil merentangkan tangan. Matanya terbuka sempurna kala mengingat sesuatu, dia secara spontan mengubah posisi menjadi duduk. Matanya semakin melotot saat melihat tubuhnya telanjang, dia menoleh ke samping—melihat seorang pria tertidur tanpa sehelai benang.
Wanita itu menggigit selimutnya, dia menahan napas. Keperawanannya diambil pria asing yang kemarin dia lihat dengan penampilan berantakan. Memukul kepalanya berulang kali, dia menggeram tertahan.
"Bianca bodoh! Cari mati banget, sih?!" Dia merutuk. Menyibak selimut, dia melirik pria di sampingnya. "Gue harus pergi sekarang, harus! Ntar kalau dia ngira gue goda dia gimana?! Gue juga harus minum pil pencegah hamil, nggak lucu gue bunting!" lanjutnya.
Bianca berdiri, dia memungut pakaiannya dan menggunakannya dengan cepat, lalu pergi dari sana. Tak berselang lama, Baron bangun. Dia memegang kepalanya yang berdenyut nyeri, pria itu mengernyit saat melihat noda darah di seprai.
Ingatan kemarin malam berputar, Baron semakin kuat mencengkeram rambutnya. Pria itu berdecak, dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Batalkan kerja sama dengan Pratama's Group!" titahnya pada seseorang di seberang sana.
"Sial! Ke mana wanita itu?! Kenapa dia ilang?!" Baron mengacak rambut frustrasi, apa yang dia rasakan kemarin malam berputar di kepalanya, rasa nikmat yang ingin dia ulangi lagi.