Bab 12

1660 Kata
Senja yang Tertinggal di Sudut Tangga Tiga hari setelah liontin keenam menyala, rumah mereka kembali sunyi. Tapi bukan sunyi yang sepi, melainkan tenang seperti halaman yang baru saja dibersihkan. Elan mulai melukis ulang sketsa rumah, menambahkan satu pintu kecil di sisi utara, tempat bayangan Sero pernah berdiri. Namun, malam kelima datang dengan nada yang berbeda. Hujan turun sebelum matahari sepenuhnya tenggelam. Tapi bukan hujan biasa. Airnya seperti membawa rasa—rasa gelisah yang tidak bisa dijelaskan. Dan ketika Aurel membuka pintu untuk menyelamatkan selimut yang dijemur di luar, ia melihat sesuatu di kejauhan. Bayangan besar. Tapi bukan satu. Tiga sosok berdiri di ujung pagar. Bukan anak-anak. Bukan juga sisa anak. Tubuh mereka tinggi, membungkus diri dalam kain yang terlalu panjang untuk ukuran manusia. Wajahnya tersembunyi. Tapi Aurel bisa merasakan tatapan tajam menembus malam. Ia menutup pintu pelan, tapi tak sempat bicara. Karena tiba-tiba, seluruh liontin—semua enam—padam bersamaan. Cahaya mereka bukan hilang. Tapi diserap. ** Keesokan paginya, rumah menjadi dingin. Bahkan sebelum jendela dibuka, udara sudah menusuk. Leya terbangun lebih awal dari biasanya, tangannya memegang liontin yang semalam ia simpan di bantal. Tapi kini, liontin itu retak. “Kenapa?” bisiknya. Tak ada jawaban. Sampai Elan turun dari tangga, membawa secarik kertas yang ia temukan terselip di bawah pintu kamarnya. Tulisan tangan asing. Bukan anak-anak. Bukan mereka. > “Rumahmu bukan milikmu. Ia berdiri di tanah ingatan yang telah kami kubur. Pulangkan yang seharusnya tidak pulang.” Aurel membaca pesan itu dan membekukannya di tempat. “Mereka... Penjaga Bayang.” Raka mengerutkan alis. “Apa itu?” Elan membuka satu buku tua dari rak kecil yang hampir tidak pernah disentuh. “Makhluk yang menjaga batas antara ruang antara dan dunia mimpi. Tapi mereka bukan penjaga yang lembut. Mereka percaya, semua yang pergi... harus tetap pergi.” Leya berdiri, menatap semua orang. “Mereka mau aku pergi?” “Tidak hanya kamu,” kata Mika, menggenggam tangannya. “Mereka mau rumah ini berhenti menerima siapa pun.” Elan mengangguk. “Dan jika kita tidak menyerahkan mereka yang ‘tidak seharusnya kembali’... mereka akan menghapus rumah ini dari ingatan dunia.” ** Konflik tidak berhenti di situ. Malam berikutnya, mereka mulai kehilangan memori kecil. Elan tidak ingat warna lampion ketiga. Mika lupa nama bunga yang ia siram setiap pagi. Aurel... lupa suara tawa ibunya yang dulu mengajarkannya membuat teh. “Ini bukan hanya ancaman,” kata Raka. “Mereka mencuri memori satu per satu.” Leya mulai panik. Ia takut menjadi penyebab semuanya. Tapi ketika ia bicara untuk meninggalkan rumah demi menyelamatkan mereka, cermin-cermin kecil di rumah langsung retak. Seolah rumah itu sendiri menolak kehilangan lagi. Dan di malam ketujuh… Satu bayangan dari tiga sosok itu masuk. Tidak melalui pintu. Tapi melalui mimpi Mika. ** Ia terbangun dengan mata terbuka lebar dan suara tertahan di tenggorokannya. “Mereka bilang... mereka punya sesuatu yang dulu milikku. Tapi kalau aku mau mengambilnya, aku harus membawa satu dari kami sebagai ganti.” “Barang apa?” tanya Elan. Mika menjawab dengan pelan. “Namaku yang lama.” Seketika, rumah terdiam. “Jadi... mereka mencuri identitas kita? Kenangan kita?” Leya bertanya. Elan menatap jendela. “Tidak hanya mencuri. Tapi menjadikannya tawaran. Jika kita menyerahkan satu di antara kita, mereka akan mengembalikan yang dicuri. Rumah tetap utuh. Kita semua tetap hidup. Tapi... satu akan menghilang. Dari ingatan siapa pun.” Aurel menutup mata, menarik napas dalam. “Aku tidak akan menyerahkan siapa pun.” Tapi keputusan itu tidak sepenuhnya milik mereka. Karena malam itu, satu liontin pecah. Yang kelima. Lampion berbentuk tangan kecil—milik Mika—terbelah dua. Dan di cermin utama, muncul tulisan: > “Pilih satu. Atau biarkan semuanya hilang bersama cahaya pertama.” ** Keesokan harinya, meja makan tidak memiliki piring Mika. Tapi Mika masih ada di rumah. Ia duduk di tangga, wajahnya pucat, matanya kosong. “Aku masih di sini... tapi aku tidak ada,” katanya. Elan menyadari sesuatu. “Ini bukan soal memilih. Ini soal siapa yang cukup kuat untuk mengingat.” Raka mengerutkan alis. “Mengingat apa?” “Elan mengambil satu lembar kosong, lalu menggambar gambar sederhana: Mika sedang menyiram bunga. Aurel menambahkan tulisan kecil: ‘Mika suka bunga liar, meski ia terlalu banyak menyiramnya.’” Leya menulis satu kalimat pendek: “Aku ingat Mika menggenggam tanganku saat aku takut.” Dan perlahan... Lampion kelima mulai menyala lagi. Retaknya menutup sedikit. “Ini yang tidak bisa mereka kendalikan,” ucap Aurel. “Ingatan yang kita buat sendiri. Bukan yang kita lahirkan dengan.” Tapi sebelum mereka sempat merayakan, suara terdengar dari dalam cermin. Bukan gema. Tapi jeritan. Sero. “Sero!” teriak Leya. Ia menarik liontin keenam yang tergantung di dekat tungku. Tapi cahayanya hilang. Warna mimpi sebelum bangun... sirna. “Dia... ditarik kembali,” bisik Elan. Dan kali ini, di lantai... muncul jejak kaki basah. Menuju ke tangga. Menuju kamar mereka. Satu per satu. Pagi Kecil di Antara Tiga Bayangan – Lanjutan Bab Selanjutnya: Cermin Ketujuh Jejak kaki basah di tangga tidak berakhir di satu kamar. Mereka berputar, menyilang, naik turun—seperti mencari sesuatu, atau mungkin… mengenali ulang. “Dia tidak kembali sebagai Sero,” kata Elan pelan, memegang liontin keenam yang kini hampa. “Dia... sedang disalin.” Aurel memandangnya tajam. “Disalin?” Elan mengangguk, wajahnya pucat. “Penjaga Bayang tak bisa membuat rumah sendiri. Tapi mereka bisa mencuri bayangan rumah. Dan menjadikannya... jebakan.” Di atas loteng, terdengar suara retakan kecil. Seperti paku mencungkil kayu dari dalam. Raka bergerak pertama, mengambil kayu api dari dekat tungku. Bukan senjata, tapi cukup untuk menghalau ketakutan. Mereka naik bersama, hati-hati. Setiap langkah seperti menarik napas yang tak kunjung dilepas. Saat pintu loteng dibuka, mereka tidak menemukan apa-apa. Kecuali satu cermin kecil… yang bukan milik mereka. Cerminnya tergantung di dinding, tidak memantulkan apa pun dari ruangan. Tapi memantulkan rumah mereka sendiri. Tepat seperti rumah yang sekarang mereka tinggali. Hanya saja, di dalam pantulan itu, meja makan kosong. Lampion tidak menyala. Dan tidak ada suara. Rumah tanpa jiwa. “Ini…” gumam Aurel, “tiruan.” “Tidak hanya tiruan,” sahut Elan. “Ini Cermin Ketujuh. Yang tidak pernah kami buat.” “Bagaimana bisa ada?” “Cermin ini adalah hasil dari semua sisa rasa… yang tidak sempat diberi nama. Ia mencatat yang ditinggal. Bukan yang diselamatkan.” Leya merinding. “Jadi itu rumah… tempat anak-anak yang tidak cukup kuat untuk pulang?” Cermin Ketujuh tiba-tiba berdenyut. Permukaannya melepaskan kabut tipis. Dan dari balik kabut itu, muncul Sero. Tapi tidak utuh. Separuh wajahnya seperti dilukis ulang. Matanya kosong. Tangannya menggenggam sesuatu… liontin yang pecah, milik Mika. “Elan,” bisik Mika. “Itu bukan dia.” Elan berdiri, menatap pantulan. “Bukan. Tapi ia cukup mirip untuk menyakitkan.” Aurel mundur satu langkah. “Kalau mereka bisa membuat salinan Sero… bisa saja mereka—” “—meniru kita,” potong Elan cepat. Dan saat itu juga, rumah mereka bergetar. Tapi bukan dari luar. Dari dalam. Seperti seluruh ruang sedang digeser. Mereka berlari ke bawah. Dan di ruang tengah, sesuatu telah berubah. Lantai retak kecil. Semua liontin—kecuali keenam—berada di tempat berbeda. Sketsa rumah terbakar setengahnya. Dan duduk di kursi dekat jendela… …adalah Aurel. Tapi bukan Aurel. Wajahnya terlalu datar. Tangannya tidak bergerak. Ia menatap mereka. “Sudah waktunya memilih,” katanya dengan suara Aurel. Tapi tanpa napas. “Jika tidak... rumah ini akan menjadi salinan. Dan kalian, hanya akan jadi pantulan.” Mika menggenggam lengan Aurel yang asli. Leya memeluk liontinnya. “Jangan percaya apa pun dari cermin,” bisik Elan. “Kalau begitu,” kata Raka, maju, “bagaimana kita tahu kita bukan bagian dari salinan juga?” Rumah terdiam. Pernyataan itu bukan ancaman. Tapi benih keraguan. Aurel menatap anak-anak. “Kita masih punya satu hal yang tidak bisa ditiru.” “Apa?” tanya Leya. Aurel menutup mata. “Kenangan yang tidak pernah diceritakan.” Ia berjalan ke arah dirinya yang duduk. “Kau mungkin tahu bentukku, suaraku, bahkan kata-kata yang biasa kupakai. Tapi… apakah kau tahu apa yang ibuku katakan terakhir kali sebelum rumah lamaku terbakar?” Bayangan Aurel diam. Matanya berkedip. Aurel menunduk sedikit. “Dia bilang, ‘Kalau kau bisa menyimpan satu cahaya saja, simpan untuk yang takut gelap lebih dari kau.’” Dan saat itu juga… Bayangan Aurel mulai mencair. Tubuhnya larut menjadi kabut kelabu, dan satu per satu, liontin di ruangan menyala kembali. Tapi belum semuanya. Karena dari jendela belakang, terlihat api. “Rumah tiruan itu… meniru kita,” kata Mika. “Dan sekarang... ia membuat pintunya sendiri.” ** Malam itu, mereka membagi tugas. Raka dan Aurel menjaga batas rumah. Elan dan Mika mulai memperkuat liontin dengan tanda pribadi—tanda yang hanya bisa dibuat oleh mereka yang benar-benar merasa ada. Leya duduk di ruang tengah, memegang liontin keenam yang masih belum kembali bersinar. “Sero…” Ia menutup mata. Dan kali ini, ia mengundang mimpi. Bukan untuk lari. Tapi untuk mencari. ** Dalam mimpinya, ia masuk ke rumah tiruan. Semua diam. Semua terlalu rapi. Tidak ada suara kayu berderak. Tidak ada bau teh. Tidak ada tawa. Tapi di loteng rumah tiruan itu… …Sero duduk, memegang bantal kecil bertuliskan nama Leya. “Maaf…” katanya. “Aku... tidak tahu harus ke mana.” Leya mendekat. “Aku juga pernah begitu.” “Rumah ini bilang... aku bisa tetap di sini. Tapi hanya kalau aku... melupakanmu.” Leya meneteskan air mata. “Kalau kau lupa padaku... siapa lagi yang akan mengingat kita?” Sero terdiam. Leya menjulurkan tangan. “Pulang. Meski kita masih takut. Karena di sana... masih ada kursi untukmu.” Sero menatapnya. “Tapi... aku tidak tahu bagaimana caranya kembali.” Leya tersenyum. “Aku yang akan mengingatkan.” Ia meraih tangan Sero. Dan ketika matanya terbuka— Liontin keenam menyala kembali. Bukan dengan warna mimpi. Tapi dengan warna tangan yang digenggam dalam tidur panjang. Dan di cermin ketujuh… Rumah tiruan retak. Bayangan mulai runtuh. Dan untuk pertama kalinya, rumah asli mereka tidak hanya melindungi— Tapi menolak digantikan. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN