Pagi datang tanpa suara. Tapi bukan sunyi yang menyembunyikan. Ini sunyi yang mendengar.
Rumah mereka, yang semalam hampir menjadi tiruan, kini bernafas lagi. Udara kembali hangat. Aroma kayu terbakar samar di dapur, meski belum ada yang menyalakan api. Langit di luar berwarna seperti kertas tua: keabu-abuan, tapi jujur.
Elan bangun lebih awal. Ia duduk di meja, memandangi liontin-liontin yang kini menyala kembali. Cahayanya tidak terang. Tapi cukup. Seperti senyum seseorang yang tidak lagi harus menjelaskan dirinya.
Sero masih tidur di ruang tengah. Leya menjaganya, duduk dengan mata setengah terbuka, tangannya menggenggam liontin keenam yang kini berdenyut lembut. Aurel datang membawa teh hangat. Mika mengikutinya sambil membawa buku kecil—tempat mereka mulai menulis ulang kenangan.
Namun, satu liontin tetap tidak menyala.
Yang ketujuh.
Liontin yang belum pernah dibuat. Atau mungkin... belum ditemukan.
Raka berjalan mengelilingi halaman belakang. Tanah di sana belum pernah digarap. Bahkan rumput pun tumbuh asal, seolah menunggu seseorang cukup berani untuk bertanya, "Apa yang kau simpan di sini?"
Di salah satu sudut, ia menemukan batu kecil dengan ukiran samar. Bukan simbol. Tapi kata.
"Ingat."
Raka berjongkok, menyentuhnya. Tidak ada sihir. Tidak ada getaran. Tapi hatinya tergerak. Ia memanggil Elan.
"Batu ini... aku rasa kita harus menulis sesuatu di sini," kata Raka.
"Menulis apa?" tanya Elan.
"Hal-hal yang belum pernah kita ucapkan."
Mereka mengumpulkan semua. Tidak buku. Tidak pena.
Tapi potongan-potongan suara yang dulu mereka tahan:
Aurel menulis tentang rasa bersalahnya saat pertama kali mendengar langkah kaki hantu dan malah lari, meninggalkan Mika yang menangis.
Leya menulis tentang mimpinya, di mana ia memilih tinggal di rumah tiruan karena takut kehilangan lagi.
Sero, pelan, menulis satu kalimat: "Aku pernah ingin dilupakan, karena merasa tidak pantas diingat."
Mika menulis tentang bunga yang ia kubur, bukan karena layu, tapi karena takut tumbuhnya membawa tanggung jawab.
Dan Elan... hanya menulis satu kata:
"Maaf."
Tidak dijelaskan kepada siapa. Tapi semua mengerti.
Malam itu, angin datang dari arah yang berbeda. Membelai rumah seperti seseorang yang dulu marah, tapi kini ingin bicara.
Liontin ketujuh... menyala.
Bukan karena dibuat.
Tapi karena diakui.
Warnanya bening. Tidak bisa disebut putih, tidak pula perak. Warnanya seperti halaman kosong. Tapi saat mereka menatapnya, mereka tahu: liontin ini tidak akan memandumu. Ia akan menunggu... sampai kamu cukup jujur untuk berjalan tanpanya.
Di luar rumah, pagar kayu tidak lagi menjadi batas. Tapi undangan. Anak-anak dari rumah seberang mulai datang. Mereka tidak bicara banyak. Hanya duduk di tangga. Mendengarkan. Menyumbang sepotong cerita kecil. Sebuah patah.
Dan rumah menyimpannya. Tanpa janji akan memperbaiki.
Tapi dengan janji akan menjaganya.
Beberapa musim kemudian, rumah mereka tidak lagi disebut Rumah yang Ditinggali Bayangan. Tapi
"Halaman Ketujuh."
Bukan karena jumlah liontin. Tapi karena tempat itu menjadi satu bab baru. Tempat di mana siapa pun yang datang bisa menulis apa pun yang tidak sempat dituliskan di tempat lain.
Tidak semua orang tinggal.
Tidak semua orang kembali.
Tapi siapa pun yang pernah duduk di sana, tahu satu hal:
Jika suatu saat kamu lupa siapa kamu, datanglah ke rumah ini. Duduk di sudut tangga. Diam sebentar. Dan kamu akan tahu...
Kamu masih ada.
Dan itu cukup.
Saran kelanjutan bab: Bab selanjutnya bisa berjudul "Pintu yang Hanya Terbuka dari Dalam", yang menceritakan tentang satu anak baru yang datang tanpa nama dan tanpa bayangan. Rumah menerimanya, tapi tidak sepenuhnya terbuka. Hingga akhirnya, anak itu sendiri yang harus belajar membuka pintunya dari dalam—bukan untuk masuk, tapi untuk mengizinkan dirinya tinggal.
Hari itu, langit mendung tanpa niat hujan. Angin tidak kencang, tapi cukup membawa suara langkah yang belum pernah terdengar sebelumnya.
Anak itu datang dari arah utara, melewati ladang sunyi yang tak pernah ditanami. Tidak ada yang melihatnya benar-benar datang. Tapi tiba-tiba, ia sudah berdiri di depan pagar Halaman Ketujuh. Sepasang sepatu lusuh. Mata yang tidak berkedip. Dan bayangan—tidak ada.
Leya yang pertama menyadari.
Ia berdiri dari ayunan kecil dekat pohon plum dan menatap ke arah gerbang.
“Siapa kamu?” tanyanya pelan.
Anak itu tidak menjawab. Ia menatap pagar seperti menatap sesuatu yang pernah ia kenal, tapi kini lupa cara mengucapkannya.
Aurel datang menyusul. Tangannya membawa pot berisi teh jahe. Ia menatap anak itu, lalu bertanya, “Namamu?”
Anak itu menggeleng.
“Elan,” panggil Aurel. “Boleh lihat ini?”
Elan keluar dengan Mika di belakangnya. Begitu melihat anak itu, mereka semua diam. Bukan karena takut. Tapi karena... ada yang terasa terlalu sunyi dalam tatapan anak itu. Seperti halaman buku yang robek sebelum sempat ditulis.
Sero perlahan menghampiri. Ia tak berkata apa pun. Hanya mengulurkan tangan.
Dan anak itu mundur.
Satu langkah.
Lalu berbalik. Berlari.
Tapi tidak menjauh.
Ia berlari mengitari pagar. Tiga kali.
Mencari celah.
Tapi pagar Halaman Ketujuh tidak bisa ditembus dari luar.
Karena ia bukan pagar untuk menjaga orang keluar.
Melainkan menjaga sesuatu tetap utuh.
Malam itu, mereka semua duduk mengelilingi liontin ketujuh yang menggantung di atas meja ruang tengah. Warnanya tetap bening, tetap tidak berpihak. Tapi kali ini, saat mereka memandanginya, liontin itu bergetar.
“Elan,” bisik Mika. “Kalau anak itu tidak punya bayangan… apakah dia masih punya ingatan?”
Elan terdiam.
“Apa mungkin... dia bukan kehilangan nama. Tapi menolak memberinya.”
Raka yang diam sejak tadi akhirnya bicara. “Kalau begitu, kita tidak bisa memanggilnya dari luar.”
Aurel mengangguk. “Ia harus membuka sendiri pintunya.”
“Dan kalau ia tidak tahu caranya?” tanya Leya.
“Kalau begitu,” jawab Elan, “kita tidak menunggu. Kita… mengingat untuknya.”
Keesokan paginya, Mika menggantungkan cermin kecil di pagar utara. Tapi bukan untuk memantulkan wajah.
Cermin itu memantulkan langit.
Dan di bagian bawahnya, tertulis:
"Untukmu yang lupa bahwa pernah ada cahaya di matamu sendiri."
Leya menulis selembar surat dan menaruhnya di lubang pagar kecil, dekat tempat anak itu berdiri kemarin.
> "Aku juga pernah merasa tidak punya nama. Tapi rumah ini tidak menanya siapa aku. Ia menunggu sampai aku cukup tenang untuk mengatakan, 'Aku belum tahu.' Dan itu pun diterima."
Hari demi hari berlalu.
Anak itu tidak kembali ke gerbang.
Tapi sesekali, mereka melihat bayangannya dari jauh. Duduk di batu datar. Menatap rumah.
Dan suatu sore, saat langit berubah warna seperti kain tua yang baru dicuci, Mika mendapati surat kecil tergantung di pagar.
Kertas robek. Tulisan goyah.
> "Aku pernah punya nama. Tapi aku rasa bukan milikku. Kalau kalian tidak keberatan... bolehkah aku tinggal di sini... sebagai yang belum disebut?"
Elan membacanya keras-keras.
Lalu mereka menatap liontin ketujuh.
Dan untuk pertama kalinya...
Liontin itu berubah warna.
Tidak bening.
Tidak terang.
Tapi berwarna daun yang gugur, menunggu tanah.
Dan pintu belakang rumah… terbuka.
Tidak oleh mereka.
Tapi dari dalam.
Anak itu masuk.
Tidak bicara.
Tidak meminta izin.
Hanya duduk di sudut tangga, tempat yang dulu pernah kosong.
Rumah menerima.
Tidak dengan tepuk tangan.
Tapi dengan udara yang menghangat perlahan.
Dan malam itu, halaman yang tak pernah ditulisi...
…mendapat kalimat pertamanya..