Kalimat Kedua
Malam itu, rumah tetap tenang. Tidak ada lilin yang menyala lebih terang, tidak ada pintu yang mengayun dramatis. Tapi setiap lantai, setiap dinding, setiap napas dari para penghuninya… terasa lebih penuh.
Anak itu duduk di sudut tangga seperti sudah lama mengenal tempatnya. Punggungnya bersandar pelan ke kayu, kepalanya sedikit menunduk, mata terpejam. Bukan karena lelah. Tapi karena ia, untuk pertama kalinya, merasa tidak perlu berjaga.
Mika duduk beberapa langkah darinya, membawa selimut yang dilipat setengah. Ia tidak menyerahkan langsung. Ia hanya meletakkannya di anak tangga ketiga dan berkata, “Kalau kamu butuh.”
Anak itu membuka mata, menatapnya. Tidak senyum. Tidak angguk. Tapi diam itu cukup.
Leya mencatat sesuatu di buku kecilnya malam itu:
> Kadang, orang tidak datang untuk bicara. Mereka datang untuk pulang ke bagian dari diri yang pernah hilang. Dan rumah yang baik… adalah rumah yang tidak memaksa siapa pun merasa sudah sembuh.
Pagi berikutnya, anak itu masih di sana. Ia tidur duduk, tubuhnya melengkung seperti kalimat yang belum selesai. Saat Aurel menyiapkan teh jahe dan meletakkannya di meja dekat tangga, anak itu bangun.
“Selamat pagi,” bisik Aurel.
Anak itu hanya menatap. Tapi kali ini, ia mengangguk. Satu kali. Cukup.
Elan menatap dari jauh. Liontin ketujuh masih tergantung, masih berwarna seperti daun gugur. Tapi di tengahnya, mulai muncul titik terang kecil. Seperti cahaya yang belum sempat menyala.
“Elan,” ujar Raka pelan. “Kamu rasa… dia akan memberitahu siapa dia?”
Elan menatap anak itu yang kini memegang cangkir teh dengan dua tangan, menyesap pelan, lalu memejamkan mata seperti sedang mengingat rasa yang pernah tertinggal di masa kecilnya.
“Tidak perlu,” jawab Elan. “Kalau ia tetap di sini, kita akan tahu. Bukan dari namanya. Tapi dari cara dia duduk. Dari cara dia menatap pagi.”
Hari-hari berikutnya berlalu seperti langkah tanpa jejak. Anak itu tidak pernah menyebut nama. Tapi ia mulai bergerak.
Ia membantu Leya menyapu daun di halaman, meski tidak diminta.
Ia duduk di sebelah Mika ketika gadis kecil itu ketakutan karena petir, dan meskipun ia tidak menghibur, keberadaannya cukup membuat Mika tidak merasa sendiri.
Ia duduk di ruang belakang bersama Aurel saat teh sedang diseduh, memperhatikan uap yang naik ke langit-langit seperti ingatan yang belum selesai.
Dan yang paling sering ia lakukan… adalah berdiri di depan cermin kecil yang menggantung di pagar utara.
Bukan untuk melihat dirinya.
Tapi untuk menatap langit di baliknya.
Malam keempat setelah ia datang, Sero menyerahkan buku kenangan yang belum selesai ditulis. Ia menggesernya ke meja dekat anak itu dan berkata, “Kalau kamu ingin menulis… halaman ini kosong. Tapi kamu tidak harus.”
Anak itu mengambilnya perlahan.
Membuka halaman pertama.
Menatap satu demi satu kalimat yang pernah dituliskan oleh orang-orang yang kini ia lihat duduk di dekatnya.
Ia berhenti di halaman ke-17.
Halaman kosong.
Ia menulis sesuatu.
Lalu menutupnya kembali, dan menggeser buku itu ke arah tengah meja.
Tak satu pun bertanya.
Tapi malam itu, ketika Mika membacanya diam-diam, ia tidak menangis. Ia hanya menggenggam tangan Elan erat dan berkata pelan, “Aku rasa aku tahu kenapa dia datang.”
Elan tidak bertanya. Tapi Mika berkata juga:
> “Ia bukan datang untuk mencari rumah.”
> “Ia datang untuk melihat… apakah ia masih bisa menjadi rumah itu.”
Pagi kelima, liontin ketujuh menyala penuh.
Warna daunnya berubah perlahan menjadi warna tanah basah setelah hujan.
Hangat. Dalam. Siap menumbuhkan sesuatu.
Dan saat mereka semua berkumpul di ruang tengah, anak itu berdiri. Matanya tidak lagi kosong. Tapi belum penuh.
Ia membuka mulut. Tapi tak ada suara keluar.
Namun tetap, ia mengucapkan sesuatu.
Dengan jari telunjuknya, ia menunjuk ke liontin ketujuh, lalu meletakkan tangan di dadanya.
Satu detik.
Dua.
Tiga.
Lalu berkata—pelan sekali, nyaris seperti gumaman yang ditulis angin:
> “Namaku belum selesai.”
Aurel tersenyum.
“Itu kalimat kedua,” katanya.
Mika mengangguk. “Yang pertama tadi malam. Saat dia duduk.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, mereka menghidangkan makan malam dengan satu kursi tambahan di ujung meja.
Kursi itu tidak langsung diisi.
Tapi semua tahu.
Itu bukan kursi kosong.
Itu kursi yang sedang menunggu nama.
Di pagar utara, cermin itu mulai retak di satu sisi. Tapi bukan karena rusak.
Retakan itu seperti sungai kecil yang mengalir di permukaan kaca. Dan di ujung retakannya, tumbuh satu tetes embun.
Seolah langit sedang menangis. Tapi bukan sedih.
Bersyukur.
Karena seseorang… akhirnya membuka pintu dari dalam.
Rumah yang Bisa Berpindah
Musim berganti. Tidak terburu-buru. Tidak tertinggal. Angin membawa biji-biji kecil ke arah utara, dan beberapa burung yang dulu hanya lewat kini mulai membangun sarang di pohon plum dekat pagar Halaman Ketujuh.
Anak itu—yang belum selesai menamai dirinya—masih tinggal. Ia kini tidur di ruang kecil dekat loteng, tempat cahaya pagi menyentuh lantai sebelum membangunkan siapa pun. Ia belum banyak bicara. Tapi tidak ada lagi yang bertanya kenapa. Karena yang perlu waktu, tidak butuh alasan.
Mika mulai memanggilnya dengan sebutan kecil: Senar.
Bukan karena ia bermain alat musik. Tapi karena ia seperti benang tipis yang menyatukan halaman-halaman yang pernah lepas dari buku.
“Aku suka namanya,” kata Mika sambil menatap mata anak itu.
Anak itu—Senar—tidak langsung menjawab. Tapi ia mengukir sesuatu di sisi rak buku.
> “Kalau kau memberiku nama, aku tidak perlu lari lagi.”
Dan itu cukup.
Namun tidak semua anak tinggal selamanya.
Aurel, yang dulu datang dengan langkah takut-takut, kini mendapat undangan dari kota seberang untuk mengajar meracik teh dan menyusun cerita dari rasa. Ia memeluk Elan sebelum pergi. Tapi tidak dengan pelukan yang berat. Pelukannya ringan. Seperti jendela yang dibuka, bukan pintu yang ditutup.
“Aku akan kembali,” katanya. “Tapi bukan untuk tinggal.”
Elan mengangguk. “Kamu tidak harus.”
Aurel tersenyum. “Aku hanya akan membawa satu liontin. Yang keenam. Karena itu denyutku.”
Dan saat ia melangkah ke jalan setapak yang menurun, Halaman Ketujuh tidak merasa kehilangan.
Ia merasa… diperpanjang.
Beberapa minggu setelah Aurel pergi, Sero menyusul. Ia ditawari tempat tinggal di kota laut, untuk mengelola tempat menulis bagi anak-anak yang belum pernah melihat bintang. Sero, yang dulu menulis "Aku pernah ingin dilupakan", kini membuka kelas pertamanya dengan kalimat:
> “Di rumah lama, aku duduk tanpa nama. Tapi di sana… aku menjadi kata kerja.”
Dan dari jendela Halaman Ketujuh, Elan tersenyum mendengar kabar itu. Ia tahu—rumah ini mulai berjalan.
Bukan pindah.
Tapi mengikuti.
Di malam ke-77 sejak liontin ketujuh menyala, Raka berdiri di halaman belakang. Ia menatap langit, lalu menulis sesuatu di tanah dengan ranting kering.
> “Rumah bukan tempat kita berhenti. Rumah adalah arah yang tahu bagaimana kita kembali.”
Saat pagi datang, tulisan itu sudah hilang. Tapi tak satu pun penghuni lupa.
Karena mereka semua mulai sadar:
Halaman Ketujuh telah menjadi cara hidup.
Bukan alamat.
Tapi tempat di mana siapa pun bisa menjadi tanah bagi yang lain.
Leya memutuskan untuk tidak pergi. Tapi ia mulai membangun semacam lingkar sunyi di dekat perapian, tempat orang-orang dari desa dan kota seberang bisa datang tanpa harus bicara. Mereka hanya duduk. Menaruh satu benda kecil: potongan kain dari baju nenek, batu dari danau masa kecil, sobekan surat yang tak pernah terkirim.
Dan ia menyimpan semuanya di satu rak kayu rendah yang diberi nama Rak Ketidaksengajaan.
“Karena kadang,” kata Leya, “hal-hal yang tidak kita rencanakan adalah bagian terjujur dari kita.”
Dan Rak itu pun mulai penuh.
Bukan oleh barang.
Tapi oleh bukti bahwa diam pun bisa jadi bahasa.
Mika—yang tetap tinggal dan tumbuh sedikit lebih tinggi tiap bulan—mencatat semua perubahan itu dalam buku tipis yang diberi judul: “Langkah yang Tidak Berniat Pergi.”
Di halaman ke-34, ia menulis:
> “Rumah kami tidak besar. Tapi sekarang, bagian-bagiannya ada di kota, di jendela orang-orang yang membaca pelan, di mulut yang memilih menyimak, di pelukan yang tidak bertanya kenapa. Dan di peta manapun, rumah ini tidak pernah dicetak. Tapi kamu akan tahu… kalau pernah duduk di tangganya.”
Dan suatu malam, saat hujan hanya turun di satu sisi atap, Senar berdiri di ambang pintu. Ia kini tidak lagi ragu melangkah keluar. Tapi belum pergi. Ia membawa sesuatu di tangannya: cermin kecil yang dulu Mika gantung di pagar utara.
Ia menggantungkannya kembali.
Tapi kali ini, dengan satu tambahan kecil.
Di bagian bawah cermin, Senar menulis:
> “Rumah ini bisa berpindah. Tapi ia akan selalu tahu… siapa yang pertama mengajarinya untuk diam.”
Musim terus berjalan.
Tapi Halaman Ketujuh tidak menua.
Ia tumbuh.
Menjadi kebun kecil bagi cerita yang belum selesai, bagi nama yang belum sempat disebut, bagi langkah yang belum tahu ke mana.
Dan di suatu tempat, jauh dari rumah itu, seseorang akan bangun dari tidur dan berkata pelan:
> “Aku tidak tahu kenapa… tapi rasanya seperti baru saja pulang.”
Lalu mereka tersenyum.
Dan langit pun ikut merunduk sebentar.
Karena rumah—yang bisa berpindah itu—telah menyentuh seseorang lagi.
Tanpa mengetuk.
Tanpa berkata apa pun.
Hanya… hadir.