Bab 15

1519 Kata
Pagi Keseratus Hari ke-100 sejak liontin ketujuh menyala datang seperti pagi biasa. Tidak ada perayaan. Tidak ada pengumuman. Tapi daun plum yang biasanya gugur satu-satu, pagi itu jatuh bersama, membentuk pola melingkar di tengah halaman. Seolah tanah sedang mengenang sesuatu yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh waktu. Senar bangun lebih awal dari biasanya. Ia turun dari ruang loteng dan berdiri lama di depan jendela dapur, memandangi uap teh yang belum diseduh. Elan, yang sedang mengiris jahe, melirik sekilas, lalu kembali diam. “Kau tahu ini hari keberapa sejak kau datang?” tanya Elan. Senar tidak menjawab. Tapi senyumnya kecil. Nyaris seperti senyum orang yang baru bangun dari mimpi panjang. “Aku mencatatnya,” kata Mika dari belakang. Ia duduk di kursi rotan dekat perapian, mengenakan kaus yang kebesaran dan celana tidur bergambar bulan. “Hari ini pagi keseratus.” “Kenapa disebut pagi, bukan hari?” tanya Senar akhirnya. Mika berpikir sejenak. Lalu menjawab: > “Karena pagi adalah awal yang tidak menuntut penjelasan.” ** Hari itu, mereka tidak melakukan apa pun yang luar biasa. Tapi setiap gerakan terasa sedikit lebih pelan, sedikit lebih berhati-hati, seolah ingin memberi ruang bagi sesuatu yang tidak terlihat tapi terasa sangat hadir. Leya membersihkan Rak Ketidaksengajaan dan menemukan benda kecil yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: seutas pita biru muda yang dilipat rapi dan diselipkan di antara dua batu kecil. Di baliknya ada tulisan tangan: > “Aku tidak ingin diingat. Aku hanya ingin diterima meski tanpa cerita.” Leya menyentuh tulisan itu pelan, lalu meletakkan pita itu kembali. Tidak ke rak, tapi ke sakunya. Karena beberapa pesan… lebih baik dibawa daripada disimpan. ** Senja hari itu, Raka mengeluarkan peta tua yang tak pernah dipakai. Peta itu dulu ditemukan di laci gudang dengan tanda-tanda aneh dan garis yang tidak mengarah ke mana pun. Ia membentangkannya di meja, lalu berkata, “Peta ini tidak menunjukkan tempat. Tapi menunjukkan waktu.” Elan mendekat. “Apa maksudmu?” Raka menunjuk sebuah lingkaran kecil di pojok kanan bawah. “Ini bukan lokasi. Ini momen. Saat kita memilih untuk tetap, meski dunia terus berjalan.” Ia menggambar satu titik kecil di tengah lingkaran itu. Lalu menulis di sampingnya: > “Hari ini, kita tidak pergi ke mana-mana. Tapi kita sampai.” ** Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, makan malam disiapkan. Tapi kali ini, tidak hanya untuk mereka yang tinggal. Di atas meja panjang, ada satu piring kosong di tiap ujung, dengan secarik kertas kecil yang tertulis: > “Untuk yang pernah singgah.” Dan… > “Untuk yang sedang dalam perjalanan.” Senar duduk di tengah meja, tempat yang dulu ia hindari. Ia makan perlahan, menatap ke kanan dan kiri. Tak semua kursi terisi. Tapi ia tidak lagi merasa sepi. “Kurasa aku sudah cukup pulang,” katanya pelan. Mika mengangguk, mulutnya penuh dengan nasi dan sup kentang. “Kalau gitu…” ucapnya setelah menelan, “besok kamu boleh pergi.” Senar menatapnya. Tidak terkejut. Tidak gelisah. Hanya diam. Lalu ia menjawab, > “Aku nggak mau pergi.” > “Tapi aku juga nggak mau tetap diam.” Elan tersenyum mendengar itu. “Berarti kamu siap,” katanya. “Siap jadi rumah bagi orang lain.” ** Malam itu, di luar rumah, angin bergerak sedikit lebih cepat. Pohon plum bergoyang pelan, seolah mengantar sesuatu yang tak terlihat. Dan di atas cermin yang tergantung di pagar utara, embun membentuk pola yang belum pernah muncul sebelumnya. Dua garis kecil. Lalu satu titik di tengah. Tanda jeda. Tanda bahwa cerita ini belum selesai. Hanya sedang… mengambil napas. ** Halaman Ketujuh mulai bersiap membuka satu ruang lagi. Sebuah kamar kecil di bawah tangga, yang dulunya tempat menyimpan alat kebun, mulai dibersihkan oleh Leya dan Mika. Mereka meletakkan satu bantal tipis, satu lampu gantung kecil, dan satu buku kosong di meja kayu. “Untuk yang berikutnya,” bisik Mika. Leya mengangguk. “Untuk yang belum tahu akan ke mana. Tapi tahu ingin berhenti sejenak.” ** Dan saat malam benar-benar turun, dan rumah kembali hening, Senar menuliskan satu kalimat di cermin kecil dengan ujung jarinya: > “Jika rumah bisa berpindah, maka aku ingin menjadi langkah pertamanya.” ** Besok pagi, Halaman Ketujuh akan tetap seperti biasa: daun-daun jatuh, teh diseduh, langit diam. Tapi sesuatu di dalam rumah telah berubah. Karena satu anak yang tidak punya nama kini telah tumbuh menjadi jalan. Bukan yang dilalui. Tapi yang menuntun. Tanpa suara. Tanpa bendera. Tanpa akhir. Langkah Pertama Senar Pagi itu datang tanpa aba-aba. Langit tak menunjukkan tanda apa-apa. Angin tak berubah arah. Tapi semua di rumah tahu—hari ini berbeda. Senar berdiri di depan cermin pagar utara, yang kini tidak hanya merefleksikan langit… tapi juga sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan: keberanian yang tumbuh diam-diam. Di tangannya, sebuah tas kain kecil yang dijahit sendiri oleh Mika. Warnanya senada dengan daun plum yang pertama kali jatuh ke lantai Halaman Ketujuh. Di dalamnya, tidak banyak. Hanya sebuah cermin retak, satu halaman sobekan dari Buku Satu Kalimat, dan dua benda lain: 1. Liontin ketujuh 2. Sepotong pita biru dari Rak Ketidaksengajaan Elan menunggu di ambang pintu. Ia tidak bicara. Tidak menahan. Tapi sorot matanya berkata, “Kalau kamu ragu, kami tetap di sini.” Senar menghampiri perlahan, lalu memeluknya. Bukan pelukan penuh air mata. Tapi pelukan yang hanya dilakukan oleh mereka yang tahu: yang paling susah bukan pergi—tapi tetap ada di hati orang-orang setelahnya. “Terima kasih,” kata Senar. “Sudah menunggu aku menyebut diriku sendiri.” ** Langkah pertama itu tidak berat. Tapi juga tidak ringan. Ia seperti menarik benang halus dari d**a—yang selama ini menahan terlalu banyak sunyi, terlalu banyak luka yang tak sempat ditangisi. Mika berlari kecil menyusul, menyerahkan secarik kertas. “Kalau kamu lupa siapa kamu nanti, baca ini,” katanya. Senar membukanya setelah beberapa langkah: > “Kamu adalah suara yang tidak perlu dikeraskan, tapi cukup untuk membuat langit duduk sebentar.” Ia tertawa kecil. Lalu berjalan lagi. ** Senar tidak tahu ke mana ia akan tiba. Tapi setiap tempat yang dilewatinya, ia beri sesuatu. Di jendela rumah kecil yang remuk separuh, ia menggantungkan satu liontin mini dari kayu: simbol bahwa di sini, pernah ada yang mendengarkan. Di halte tua tempat anak-anak tidur saat tak bisa pulang, ia menulis di dinding: > “Kamu boleh capek. Dunia tidak akan kemana-mana.” Di bangku taman tempat seorang kakek duduk setiap hari tanpa ditemani, ia duduk selama satu jam. Tidak bicara. Tidak bertanya. Hanya hadir. Dan saat ia pergi, kakek itu berkata pelan, > “Terima kasih. Hari ini aku tidak harus mengarang cerita untuk merasa hidup.” ** Di kota keempat yang ia singgahi, Senar bertemu dengan seorang anak perempuan yang duduk di tangga gedung tua, memeluk boneka tanpa mata. “Kamu mau ke mana?” tanya anak itu. “Aku mau diam,” jawab Senar. “Kenapa?” “Karena diam kadang adalah cara terbaik untuk bicara.” Anak itu tersenyum tipis. “Aku juga suka diam. Tapi orang-orang bilang itu aneh.” Senar mengangguk. Lalu membuka bukunya, menulis sesuatu, dan menyodorkannya: > “Kalau kamu butuh teman diam, aku pernah menjadi diam juga.” Mata anak itu berkaca. Lalu ia menyelipkan bonekanya ke dalam tas kecil Senar. “Bawalah. Supaya kamu tidak diam sendirian.” ** Malam ke-11 setelah pergi, Senar duduk di sebuah rumah kosong yang dipenuhi bayangan. Rumah itu tidak punya jendela. Tapi langit tetap masuk melalui retakan di atap. Ia duduk di tengah, membuka liontin ketujuh, dan menggenggamnya. Lalu berkata pelan, > “Kalau kamu bisa mendengarku dari Halaman Ketujuh… tolong jaga tempat ini. Karena aku ingin menjadikannya halaman kedelapan.” ** Jauh di tempat lain, Elan bangun dari tidur dengan rasa aneh. Ia turun ke dapur, mendapati Mika sedang menggambar di lantai dengan kapur warna. “Aku rasa Senar sedang membangun rumah,” kata Mika. Elan tersenyum. “Kita tidak perlu tahu di mana. Kita hanya perlu jadi alasan kenapa ia percaya itu mungkin.” ** Keesokan harinya, langit di pagar utara menjadi biru pekat. Embun di cermin tak jatuh, tapi membentuk pola—seperti benang yang ditarik dari satu halaman ke halaman lain. Dan di Rak Ketidaksengajaan, muncul benda baru: > Sebuah boneka kecil, tanpa mata, duduk di atas catatan: “Aku tidak ingin diganti. Aku hanya ingin diterima seperti ini.” Leya menyentuhnya pelan. “Dia sedang membagi rumah,” bisiknya. ** Malam itu, Senar menulis di dinding rumah barunya: > “Halaman ini belum selesai. Tapi kalau kamu datang untuk diam, aku sudah menyisakan ruang di sampingku.” Dan di suatu tempat yang jauh dari peta mana pun… ...seorang anak yang hilang arah melihat cahaya samar di balik reruntuhan bangunan tua. Ia mendekat, membuka pintu yang setengah rapuh, dan menemukan meja kayu kecil. Di atasnya: Satu cangkir tanah liat. Satu halaman kosong. Satu kalimat tertulis dengan tinta nyaris hilang: > “Rumah tidak harus tetap. Tapi ia tahu… ke mana ia harus kembali.” Dan sang anak pun duduk. Tidak bertanya. Tidak menangis. Hanya… merasa cukup. Karena Halaman Kedelapan telah mulai tumbuh. Bukan dari tembok. Tapi dari niat. Dari luka. Dari keberanian satu anak yang belajar… ...bahwa rumah bisa dibawa. Bahkan dalam sunyi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN