“BARUSAN KAMU PANGGIL MAMA APA?! SETELAH MAMA MELAHIRKAN KAMU, KAMU MALAH KASIH BALASAN KAYAK GINI KE MAMA! KAMU SADAR NGGAK KALAU APA YANG KAMU LAKUIN ITU NGGAK SOPAN. MAMA INI MASIH MAMA KAMU!“
“Saya sudah mendapatkan apa yang saya inginkan. Sekarang anda hanya harus membesarkan anak kesayangan anda dengan baik.“
“KAMU JUGA ANAK MAMA GIBRAN!“
Pria itu terkekeh renyah. Dia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali dia memanggil wanita itu mama. Bukankah terdengar aneh kalau baru sekarang wanita itu mengatakan kalau dia juga anaknya.
Sebercandanya dunia dalam mempermainkan hidup seseorang, wanita ini bahkan lebih lucu.
Kalau pria yang dia sebut papa adalah seorang monster, wanita di depannya itu adalah sosok yang egois. Dia hanya memikirkan kepentingannya tanpa mau tahu apa yang dirasakan orang yang bersangkutan. Kepuasan dan kebahagiaan di atas segalanya.
“Gibran! Gibran!“
Panggilan itu sudah tidak lagi dia gubris. Bahkan hanya untuk sekedar menoleh pun Gibran sudah enggan. Hubungan mereka sudah benar-benar berakhir dan sudah tidak lagi ada alasan baginya untuk bertemu dengan wanita itu.
Langkah kakinya semakin lama semakin dia percepat. Suasana di luar juga sudah semakin menggelap. Dia harus cepat pulang dan bertemu dengan Omanya. Banyak yang harus dia lakukan untuk perang kali ini. Tangannya meraih ponsel dan dia menekan kontak seseorang untuk dia hubungi. Akhirnya kesempatan untuk membalas dendam itu datang setelah dia tunggu selama ini.
***
Deringan ponsel membuat wanita tua itu menoleh. Nama Gibran tertera sebagai id caller. Dengan cepat dia mengangkat panggilan dari cucu kesayangannya itu.
“Iya, Gibran.“
“Ada yang mau Iban bicarakan.“
“Datang ke rumah Oma. Kita bicarakan soal itu sambil makan malam bareng.“
“Iban nggak bisa makan malam bareng Oma sekarang. Sebentar lagi Iban sampai.“
“Hati-hati di jalan kalau begitu.“
Panggilan diputuskan sepihak oleh Gibran. Wanita tua itu hanya bisa menghela nafas pelan sambil menatap ke arah figura yang berisi foto Gibran muda.
“Kamu berarti sudah berhasil dapat saham dari wanita itu,” gumamnya.
Wanita tua itu segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju brankas rahasia miliknya. Perasaan ragu itu masih mendominasi dirinya. Masih merasakan ketakutan jika apa yang akan dia berikan itu akhirnya malah merubah Gibrannya menjadi sosok monster juga.
“Apa yang bakal terjadi sama anak itu kalau saham ini benar-benar aku kasih ke dia?“
Sepak terjang Gibran memang tidaklah bisa dianggap biasa. Sejak remaja dia susah bekerja keras untuk menjadi sosok yang seperti sekarang. Setelah lulus SMA, dia langsung magang di sebuah perusahaan walau memang awalnya karena rekomendasi dari Omanya. Hanya saja, Gibran tidak menjadikan sang Oma batu loncatan karena dia benar-benar mempelajari banyak hal di tempat itu.
Wanita tua itu beberapa kali meminta Gibran untuk berhenti setelah dia diterima sebagai karyawan tetap. Namun Gibran tidak mengindahkan. Dia bahkan sampai memforsir dirinya ke dalam pekerjaan itu. Kesibukannya membuat jarak di antara mereka semakin terbentang jelas.
Gibra tumbuh tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dendam yang tersimpan dalam benaknya sudah mendarah daging dan nampaknya akan sulit bagi siapapun untuk menggoyahkan keinginan Gibran.
Wanita tua itu tidak ingin Gibran berubah menjadi monster seperti putranya. Tidak setelah apa yang sudah dilewati anak itu selama ini. Gibran berhak bahagia dan dia memang harus bahagia bagaimanapun caranya.
Sebuah foto yang terpampang di samping foto Gibran menjadi jawabannya. Wanita tua itu bukan tipikal manusia kolto zaman dahulu yang akan membiarkan kegiatan perjodohan mendominasi keluarga. Tapi nampaknya dia memang harus melakukan itu supaya Gibran bisa merasakan cinta kasih dari orang lain.
Dan sosok yang akan menjadi pendamping paling sempurna untuk Gibran adalah gadis yang ada di foto. Seorang gadis yang berhasil membuat Gibran membuka mulutnya dengan orang asing untuk pertama kalinya.
Dian tidak pernah menyangka cucunya itu akan langsung meminta pertolongan padanya karena setahu dia, Gibran hanyalah remaja pada umumnya yang acuh dengan keasaan sekitar. Hanya saja suatu hari sebuah kejadian membuat bocah itu tiba-tiba mendatangi Dian dan meminta agar wanita itu membantunya. Gibran meminta agar dia menyelamatkan gadis tersebut.
Awalnya Dian tidak langsung menyetujui karena menurutnya terdengar mustahil baginya saat mengetahui Gibran tertarik dengan seseorang. Tapi ternyata gadis itu adalah sosok yang selalu menemani Gibran sejak anak itu SMP dan SMA. Bahkan gadis itu juga yang membuat Gibran mau memakan permen yang sangat dia hindari selama masa-masa sekolah itu setiap tahunnya. Dian tersenyum lagi sambil menatap figura itu. Dia jadi mengingat sesuatu. Dengan ceoat diraihnya ponsel miliknya. Dia ingat kalau dia pernah memfoto gadis itu beberapa tahun yang lalu. Dia bertemu gadis itu di rumah sakit saat tengah melakukan pemeriksaan rutin.
Meski hanya sekilas, namun Dian dapat memastikan kalau sosok itu adalah Kylandra. Tatapan mata yang selalu dipenuhi binar semangat itu adalah satu-satunya bukti yang tidak terelakkan. Dan lebih menguntungkannya lagi, anak itu bekerja di rumah Arendra Hospital. Mungkin itu juga alasan yang membuat Gibran ingin cepat-cepat mengambil alih Arendra Hospital. Karena Kyla berada di sana.
“Oma! Iban datang!“ Suara itu berhasil membuat Dian tersadar. Wanita paruh baya itu langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut kedatangan cucu dinginnya.
“Kamu udah makan?!“ tanyanya begitu mereka sudah duduk dengan saling berhadapan di sofa ruang keluarga.
“Iban bahkan nggak kepikiran buat makan.“
Tahu karena pembicaraan ini akan berlangsung cepat dan berat, Dian tidak kembali meminta cucunya itu untuk makan. Gibran pasti hanya ingin menyelesaikan persoalan ini dengan segera agar dirinya bisa sedikit bersantai.
“Kamu bisa jelaskan apa yang mau kamu bicarakan ke Oma.“
“Saham!“
Singkat, padat, dan jelas. Bahkan tidak ada keraguan dari kalimat yang dia lontarkan.
“Bakal Oma kasih. Tapi kamu nggak berfikir kalau Oma bakal kasih gitu aja, kan?“
Gibran tampak mengernyitkan dahinya. Tapi dia tetap diam dan mencoba menerima karena dia pun kalau berada di posisi sang oma tidak akan rela memberi hartanya begitu saja pada orang lain. Meski itu adalah anaknya sendiri.
“Bilang ke Iban Oma maunya apa.“
“Menikahlah. Kalau kamu menikah, Oma bakal kasih apa yang kamu mau. Gimana?“
Tidak ada perubahan yang signifikan dari ekspresi Gibran. Bahkan pria itu saja masih terlihat tenang seolah apa yang baru saja diucapkan omanya hanya angin lalu yang tidak pantas difikirkan.
“Apa dengan Iban menikah Oma bakal langsung kasih semua saham Oma ke Iban?“
“Iya. Setidaknya kita harus saling menguntungkan. Kamu dapat saham. Oma dapat cucu menantu.“
“Kalau memang menikah semudah itu, Iban pasti udah lakuin hal itu sejak lama. Tapi Oma sendiri tahu kan kalau hal itu sulit dilakukan.“
“Oma yang bakal carikan langsung calon untuk kamu…”
Untuk sejenak hanya ada keheningan. Gibran tak lantas menjawab, tapi bayangan Kyla kecil yang tengah tersenyum itu berhasil membuat fikirannya dipenuhi oleh gadis itu. Sudah lama sejak pertama kali dia bertemu dengan gadis itu dan dia merindukan senyuman itu sekarang.