Gibran kecil sedang sibuk menuliskan sesuatu di buku agenda yang kini sudah beralih fungsi menjadi buju diarinya. Hidup sebagai manusia yang minim berinteraksi dengan sesamanya membuat bocah itu hanya selalu menulis untuk menyalurkannkeluh kesahnya. Gibran tidak mempermasalahkan hal itu. Dia malah nampak biasa saja karena dia jadintidak perlu membuang waktu untuk bersikap baik dengan orang yang tidak dia sukai.
Tapi yang menjadi masalahnya adalah, Gibran yang sekarang hanya selalu menceritakan soal Kyla. Sejak awal masuk dia memang sudah mencuri perhatian Gibran. Namun saat itu hanya karena dia merasa risih. Sekarang pun sama, tapi mungkin bocah itu tidak sadar kalau apa yang terjadi dengannya sekarang adalah bentuk dari kepedulian.
Saat tengah asyik dengan diarinya, Kyla masuk dan langsung mendudukkan dirinya. Kedatangan Kyla membuat Gibran tersentak dan refleks menutup diarinya.
“Kenapa ditutup? Lo nggak ngira kalau gue bakal intip tulisan lo, kan? Gue nggak sekurang kerjaan itu kali!“
Gibran diam. Dia tidak merasa perlu memberikan respon baik pada Kyla. Akhirnya dia memutuskan untuk beranjak dari kursinya. Kelas di sekolah ini memang di sediakan loker khusus untuk masing-masing anak. Gibran meletakkan buku diarinya di loker miliknya, menguncinya, dan langsung bersiap untuk pulang.
Menjadi pewaris utama Arendra Group sontak menjadikan Gibran pusat perhatian. Tidak ada yang tidak mengenal bocah itu meski dia tidak menujukkan minat untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya.
Selain karena asal keluarga, ketampanan Gibran menjadi poin bagus untuknya. Banyak siswi-siswi yang terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Gibran. Hanya saja tidak mendapat respon baik juga dari bocah itu. Sama seperti sekarang, suara bisik-bisik dengan pekikan pelan menjadi soundtrack perjalanan Gibran.
Bukan berarti kehidupan Gibran di sekolah berjalan baik. Satu sekolah dengan saudara tirinya juga membuat nama Gibran dikenal jelek. Kali ini dia melewati sekelompok anak yang tengah membicarakan tentangnya dan tentu saja hal ini ada kaitannya juga dengan Bara.
Mereka mengatakan kalau Gibran keterlaluan. Kejadian dimana akhirnya dia sampai meninggalkan rumah karena membuat Bara babak belur sudah menjadi perbincangan di sekolah. Meski tidak secara gamblang. Tapi beberapa orang berani membahas soal itu. Itu jugalah yang tengah dibicarakan anak-anak.
Tentang kekurang ajaran Gibran yang berani memukul Bara. Dan juga tentang Bara yang selaku disiksa oleh Gibran. Dunia yang sedang bercanda terkadang memang mengerikan.
“b******k,” umpat bocah itu. Dia sudah akan melayangkan tinju namun tertahan saat suara Kyla terdengar memanggilnya.
“GIBRAN!!! Lo kenapa jalannya cepat banget sih. Gue jadi nggak bisa ngejar lo, kan!“
Mata Gibran membola sempurna ketika melihat penampilan Kyla yang sudah berantakan. Rambutnya acak-acakan dengan noda darah segar yang terlihat di sudut bibirnya.
“Besok-besok, tolong jalannya pelan aja,” sambung Kyla dan itu berhasil menarik kesadaran Gibran.
“Ini!“ katanya lagi. Kali ini dia sambil menyodorkan buku agenda yang sudah berubah fungsi menjadi diary itu kepada Gibran. Karena buku itu memang milik bocah itu. “Gue bawa karena tadi gue lihat lo kayaknya butuh banget buku ini.“
Si b*****t! Pasti ulahnya Bara, batin Gibran.
Ekspresi wajah Gibran sudah mengeras. Tangannya saja sampai ikut terkepal di tali tas miliknya. Tidak masalah jika pria b*****t itu mengerjainnya habis-habisan. Tapi akan jadi masalah kalau sampai orang yang tidak ada sangkut pautnya juga ikut terkena imbasnya.
“Ambil, gih! Gue mau pulang juga soalnya.“
Setelah mengambil buku itu, Kyla langsung melipir pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Gadis itu nampaknya juga terkejut dengan kejadian mengerikan yang menimpanya barusan.
***
Dengan langkah tergesa Gibran langsung kembali menuju ruang kelasnya. Dia bahkan tidak meminta maaf ketika menabrak orang. Sebagai murid yang ditakuti, itu menjadi keuntungan tersendiri baginya.
Langkah kakinya mengayun lebar saat melewati anak tangga. Bahkan dia sampai bisa melewati 3 tangga sekaligus hanya untuk sampai ke ruangnya. Pintu dia buka dan Bara sudah ada di dalam. Dia menyambut kedatangan Gibran dengan senyum manis.
“Datang juga lo. Bahkan buat lihat muka lo aja susah banget sekarang.“
Basa-basi yang diutarakan Bara malah semakin memancing amarah Gibran. Bocah itu merangsek maju dan menghadiahkan satu tinjuan ke wajah Bara sampai membuat kepala Bara terlempar ke samping sampai mengeluarkan darah di sudut bibirnya. Tidak hanya sekali, pukulan itu Gibran lakukan berkali-kali.
“Kenapa lo malah tambah bringas?“
“Dasar b******k!“
“Gue khawatir karena lo kelihatan diam aja. Maksud kedatangan gue ke sini karena gue pingin lihat keadaan lo.“
“Udah gue bilang berkali-kali ke lo, jangan pernah deketin gue lagi!“
Sesaat Gibran nampak terdiam ketika matanya melihat gembok loker miliknya sudah tidak berbentuk. Sudah dapat dipastikan itu perbuatan siapa tanpa perlu mencari tahu.
“Lo sadar ternyata. Gue cuma pingin tahu apa yang ada di otak lo,” jawab Bara tanpa rasa bersalah. Bahkan dia masih sempat-sempatnya tersenyum menyebalkan. “Apa yang gue lakuin itu nggak salah. Mau kepisah kayak gimana pun, lo itu tetap adik gue meskipun lo nggak pernah memperlakukan gue selayaknya gue kakak lo. Tapi gue akuin kalau gue khawatir sama lo.“ Bara terlihat nampak mulai bangkit dan membersihkan sesuatu di almamater yang dia gunakan.
“Kenapa lo pakai acara diam segala, sih. Gue kan jadi repot! Ah, gue tahu. Lo pasti pingin buat Papa interest ke lo, kan?“
Gibran masih diam. Bahkan fakta kalau dia masih membiliki papa merupakan aib bagi Gibran. Dia bahkan malu memiliki orang tua seperti itu.
“Tapi kayaknya usaha lo bakal sia-sia deh. Karena Papa udah terlanjur sayang ke gue. Lo sendiri juga tahu kalau gue pintar. Papa bahkan sudah mewanti-wanti gue supaya nanti ambil kerjaan di kantor kalau gue udah siap. Lo pasti tahu kan maksud dari kata-kata Papa. Itu adalah hal istimewa yang nggak bakal bisa didapat oleh sembarang orang.“
Bukannya marah dengan kalimat provokatif yang disampaikan Bara, Gibran malah dengan tenangnya masih terus menatap datar ke arah Bara.
“Jangan salahin gue kalau gue terlalu serakah buat ambil perhatian bokap. Dia itu juga bokap gue. Harusnya lo buktiin kualitas lo setelah lo keluar dari rumah. Tapi lihat apa yang gue temuin? Lo sama sekali nggak menggunakan kesempatan itu baik-baik.“
Kalimat panjang lebar milik Bara bukannya membuat Gibran iri. Pria itu malah semakin memandang remeh pada Bara. Bahkan jika dibilang kalau dia anak haram, itu tidak mungkin. Kelakuannya saja sudah sama dengan kelakuan Dimas. Tidak berperasaan.
“Mau sampai kapan lo diam? Lo nggak nganggap gue apa? Ah, gue tahu. Lo pasti lagi mikirin si biang onar tukang ikut campur itu. Harusnya dia diam aja karena masalah ini nggak ada sangkut-pautnya sama dia.“
Gibran mencengkram jemarinya. Harusnya Kyla memang tidak perlu ikut campur soal ini. Sudah bisa dipastikan kalau kehidupan gadis itu tidak akan tenang begitu dia mengganggu Bara.
“Dan gue udah mutusin, gue bakal lenyapin dia. Gimana menurut lo? Rencana gue briliant kan?“
Dengan gampangnya dia menepuk pelan pipi Gibran seolah tengah menunjukkan kalau dialah pemegang kekuasaan yang mutlak. Tidak ada seorang pun yang diizinkan bermain-main dengannya.
“Gue bakal tunjukin ke dia kalau keoutusan dia itu salah ketika berani ikut campur dalam urusan kita. Dan kayaknya dia peduli banget sama lo.“ Smirk tipis tersungging di sudut bibir Bara. Manusia ini nampaknya memang sudah tidak bisa diselamatkan.
“Karena lo cuma diam, berarti gue putusin kalau lo setuju gue hancurin dia. Thanks, ma bro.“
Kepergian Bara langsung membuat Gibran mendengus kasar. Dia sengaja diam karena dia fikir Bara tidak akan menganggu Kyla. Tapi usahanya malah berakhir sia-sia. Kelancangan Kyla malah membuat semuanya semakin runyam dan sudah dipastikan Kyla akan mendapat imbasnya juga.