Mobil hitam yang dikendarai Gibran berhenti mulus di depan gedung tinggi menjulang bertuliskan Arendra Group. Malam mulai merayap, tapi cahaya lampu kota dan gedung-gedung mewah membuat langit Jakarta tetap terang. Kyla menatap ke arah bangunan itu dengan campuran kagum dan gugup. Di dalam perutnya, sesuatu bergejolak tak karuan. Itu merupakkan salah satu gedung apartemen mewah yang dipilih neneknya Gibran untuk sekedaar singgah. Gibran mematikan mesin dan menoleh santai, “Lo nggak usah tegang gitu, Ky. Nenek gue orangnya nggak seseram yang lo bayangin.” Kyla mengerucutkan bibir, matanya tetap tak lepas dari gedung itu. “Nggak serem? Ini pertama kalinya gue datang ke sini, Bran. Kita juga baru resmi daftar nikah, dan sekarang gue harus ketemu nenek lo yang notabenenya adalah pemilik Aren

