Mereka berhenti di lampu merah. Gibran melirik Kyla yang masih diam. “Lo lapar?” Kyla menggeleng pelan. “Nggak terlalu.” “Tapi lo tetap harus makan. Kalo nggak, lo bakal tumbang.” Dia akhirnya tertawa lemah. “Lo kayak dokter sekarang.” “Gue bisa pura-pura jadi dokter juga kalo perlu.” Gibran bercanda. Kyla terkekeh kecil, lalu mendesah. “Bran, tentang nenek lo… gue tetep takut. Gimana kalo dia nanya hal-hal yang nggak bisa kita jawab?” “Dia nggak bakal begitu.” “Tapi kalo iya?” Gibran menghela napas, mencoba menenangkan. “Ky, lo cuma perlu jadi diri lo sendiri. Lo nggak harus pura-pura jadi orang lain. Nenek gue bakal liat kebaikan lo.” Kyla menatapnya lama. “Kadang gue nggak ngerti cara lo bisa tenang banget.” “Karena gue udah lama ngejalanin hidup yang penuh drama,” jawabnya sa

