Mobil hitam itu melaju pelan di jalanan kota yang mulai ramai. Kyla menyandarkan kepala ke sandaran kursi, menatap arus lalu lintas lewat kaca jendela. Tangannya menggenggam map cokelat berisi bukti pendaftaran pernikahan mereka yang masih terasa hangat. Rasanya semua ini absurd—belum setengah hari, statusnya sudah resmi jadi istri Gibran. “Gue masih nggak percaya ini kejadian beneran,” gumamnya. Gibran melirik singkat sambil tetap fokus ke jalan. “Kita udah tanda tangan di depan petugas, Ky. Itu udah cukup nyata.” Kyla mendesah, matanya setengah menyipit. “Nyata tapi tetep aneh. Gue tadi berdiri di sana kayak boneka. Lo juga terlalu tenang, nggak keliatan kayak orang baru nikah.” “Emang harus heboh?” Gibran menahan tawa kecil. “Kontrak, Ky. Bukan drama romantis.” Dia mengerucutkan bi

