“Maaf sudah merepotkan. Terima kasih sudah menjaga Jea.” Itu kalimat pertama yang Dara ucapkan ketika kembali ke ruangannya setelah bicara panjang-lebar dengan Petra berdalih mencari udara segar. Salah satu wanita yang masih terjaga di samping ranjangnya langsung menatap Dara dan memberikan senyuman teduhnya. Entah mengapa Dara merasa wanita itu memiliki aura yang sama dengan ibunya di panti. “Tidak perlu sungkan, Nak. Aku dengan senang hati menjaganya. Lagi pula dia hanya tidur, sama sekali tidak merepotkan. Aku hanya mengawasinya dengan mataku.” Dara tersenyum, lalu duduk di sisi ranjangnya. Seperti yang Ibu itu katakan, Jea memang terlihat tidur dengan pulas, mungkin karena kebutuhan susunya sudah terpenuhi tadi. “Berapa umurmu kalau boleh tahu?” “Eh?” “Usiaku 52, bagaimana denga

