“Kamu yang berubah, Miran. Kamu. Aku tidak tahu di mana Miran yang aku cintai, aku tidak tahu di mana Miran yang aku nikahi atas dasar cinta dan janji suci seumur hidup. Aku sungguh tidak tahu lagi di mana dirinya. Padahal belasan—bahkan puluhan tahu aku menikahimu aku merasa tidak masalah meski hanya ada kita berdua, tapi kamu tiba-tiba membawa ambisimu itu di atas kesetianku. Membawa keserakahan kamu itu di atas cinta yang aku berikan hanya untuk kamu selama ini. Dan kamu tahu apa? Di saat aku sudah berusaha untuk menerima istriku yang benar-benar berubah, Tuhan seolah menunjukan kalau Miran yang aku kenal tidak ada lagi, kalau Miran yang aku kenal tidak memiliki rasa cinta lagi—bahkan pada calon anak yang dia rencanakan dia bawa ke rumah ini.” “Aku tidak—” “Jangan katakan tidak, karen

