Letta mengerjapkan matanya beberapa kali hingga akhirnya penglihatannya menerang. Ingatan tentang Daddy yang mengusirnya pun kian terbayang-bayang kembali di benaknya. Jantungnya berdegup kencang karena itu bukanlah mimpi. Hatinya tersa sesak hingga air mata ikut mengalir dari kedua sudut matanya. Kepalanya terus berdenyut sejak tadi namun ia berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa sakitnya pada Vior maupun Catherine. Perlahan, dirinya beranjak bangun dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua malam. Letta duduk di pinggiran kasur dan memijit pelipisnya pelan. Sejenak, tatapannya terpaku pada perut datarnya. Letta mengelus perutnya dan tersenyum sendu. "Nak, sehat-sehatlah, Sayang. Mama akan membesarkanmu dengan baik walau tanpa Ayah, tanpa Kakek, Nenek. Kita akan merang

