BAB 7

884 Kata
Letta melangkah gontai menuju balkon kamarnya. Tatapannya menerawang ke langit yang tampak gelap tanpa bulan maupun bintang dan sepertinya bentar lagi akan hujan. Setelah selesai makan malam tadi, Letta langsung beranjak ke kamarnya karena keadaannya yang memang kurang baik. Kepalanya kembali terasa sakit tiba-tiba namun ia tidak pernah memperlihatkan rasa sakitnya pada keluarga Zerrald maupun keluarganya sendiri.   Tes.   Setetes hujan hinggap di hidung mancung nan mungil miliknya. Tak lama, lainnya menyusul hingga menjadi sangat deras. Tetesannya membuat denyutan di kepalanya berkurang. Penyakit yang Letta miliki ada semenjak kecelakaan pada saat ia sedang melakukan kegiatan amal mengunjungi setiap panti asuhan, seperti yang biasa Shaiqa lakukan.   Saat itu, untungnya ia sendirian dan tidak membawa Mommynya bersamanya karena keadaan Shaiqa yang sedang demam. Kecelakaan yang terjadi dengan cepat membuat kepala bagian samping dirinya membentur keras stir kemudi dan membuatnya kehilangan kesadaran hingga akhirnya, ia terbangun dengan rasa sakit yang amat sangat serta penjelasan para dokter bahwa benturan itu mengakibatkan dirinya memiliki penyakit kraniektomi dekompresif atau cedera kepala akut.   "Apa yang kau lakukan?" Tegur suara datar itu membuat Letta terperanjat kaget karena ia sudah memastikan bahwa tadi memang tidak ada orang dikamarnya.   "Kak Azel? Sejak kapan~"   "Baru saja." Azel menjawab cepat sebelum Letta menyelesaikan perkataannya. "Aku sudah mengetuk tapi tak ada yang menyahut." Ia melangkah mendekat dan berdiri disamping Letta dengan tangan yang berada di dalam saku celana pendeknya.   Letta menoleh dan menatap pria tinggi disampingnya bingung karena tidak biasanya pria itu mau masuk ke dalam kamarnya.   "Apa yang ingin kau katakan, Kak?"   Tentu saja Azel ke kamarnya memiliki maksud kalau tidak, dia tidak akan repot-repot ke kamar wanita yang selalu dikatakan olehnya tidak tahu diri.   Azel yang sebelumnya menatap hujan kini menatap Letta dengan intens membuat gadis itu gugup seketika. "Berpura-puralah menjadi kekasihku."   "Apa?!" Letta bertanya tidak percaya akan pendengarannya barusan apalagi dengan hujan yang turun semakin deras membuat pendengarannya berkurang.   "Kau mendengarnya, Letta. Berpura-puralah menjadi kekasihku."   Letta mencoba menetralkan degup jantungnya yang tiba-tiba saja berpacu cepat. Hujan yang tadinya terdengar sangat ribut ditelinganya mendadak hening karena masih tidak percaya dengan apa yang pria itu katakan.   "Aku tidak butuh jawabanmu karena aku tidak bertanya, tapi aku ingin kau menjadi kekasihku disaat aku memerlukanmu."   "Tidak!! Aku tidak mau. Kau tidak berhak mengaturku, Kak. Lagipun, apa untungnya buatku?"   Azel menatap Letta meremehkan. "Kau memiliki pacar tampan." Sahutnya santai. "Selain itu.." Azel mendekatkan dirinya perlahan membuat Letta menelan salivanya gugup kemudian kedua tangan kokoh Azel mengukung Letta di pagar balkon kamar hingga rambutnya terkena air hujan sebagian. "Aku akan memenuhi 3 permintaanmu. Bagaimana?"   Letta menatap manik abu-abu didepannya yang tampak serius. 3 permintaan yang akan dikabulkan. Oh, Letta akan merasa konyol jika dia menerima tawaran ini. Tapi, apa motif Kak Azel menjadikan dirinya sebagai pacar pura-pura?   Selagi Letta berpikir, Azel kembali melanjutkan. "Tapi, dengan syarat.." Pria berambut coklat gelap mendekatkan bibirnya ke telinga Letta dan berbisik. "Jangan jatuh cinta padaku." Setelahnya Letta merasakan desiran dari dalam dirinya karena Azel menggigit kecil telinga Letta.   Letta membelalakkan matanya tidak percaya dan segera mendorong d**a bidang didepannya dengan keras, namun sia-sia.   "A-aku tidak mau!" Letta mengalihkan pandangannya ke samping tanpa mau menatap wajah yang hanya beberapa inci darinya itu.   Tarikan dagunya yang penuh dengan kelembutan membuat Letta mau tidak mau menatap Azel yang kini menatapnya datar. "Kau tahu apa yang selalu para pria pikirkan jika hujan begini?"   Tidak tidak!!   Letta tidak ingin dirinya kembali diancam.   "Ranjang, Letta.." Bisik Azel parau membuat Letta sadar jika Azel sedang tidak bermain-main. "Jika kau menolak, mungkin ranjang itu akan menjadi hangat karena kita."   "Kak, lepass!!" Pinta Letta memelas namun dihiraukan oleh Azel. "Aku akan teriak."   Azel tersenyum miring. "Teriaklah dan aku jamin tidak akan ada orang yang mendengarmu." Azel memperlihatkan sebuah kunci membuat Letta mengumpat kesal karena itu adalah kunci kamarnya. Ternyata, pria ini sudah berpikir matang untuk membuat Letta setuju akan penawaran gila itu. "Lagipula, apa kau tidak tahu setiap kamar yang ada di rumah ini masingmasing memiliki dinding pengedap suara?"   Fix!   Jantungnya mulai berdebar keras, nafasnya tertahan karena Azel menatapnya intens. "Jadi, masih mau menolak?"   Dengan cepat Letta menggeleng. "Baiklah baiklah. Aku bersedia menjadi pacar pura-puramu dan sekarang minggirlah, rambutku sudah basah!" Ia berusaha menetralkan detak jantungnya.   Azel melepaskan kukungannya dan kemudian bersedekap d**a. "Mulai besok kau harus mengikuti semua yang aku katakan, paham?"   Seperti anak TK yang sedang dimarahi, Letta hanya mengangguk pasrah. "Tapi, kau berjanji akan mengabulkan 3 permintaanku, bukan?"   Azel mengangguk. "Aku akan menepati janji-janjiku, Letta."   "Baguslah. Sekarang, bisakah kau keluar dari sini? Aku mengantuk." Letta berusaha mendorong d**a bidang Azel namun sia-sia karena lelaki itu bergeming.   Tiba-tiba, Azel menarik pinggang ramping Letta membuat badan keduanya berdempetan. Sesuatu yang kenyal, basah menyapu permukaan bibir Letta membuat Letta sadar bahwa Azel sedang menciumnya. Ciuman itu tidak berlangsung lama karena Azel segera melepaskannya.   "Ciuman sebagai tanda bahwa kau sudah bersedia menjadi kekasihku! Good nite, baby.. Sleep tight."   Dan setelahnya, Azel langsung keluar dari kamar Letta meninggalkan gadis itu yang tertegun sambil memegang bibirnya.   Ciuman pertamanya.. Oh s**t! Kenapa harus Kak Azel yang mencuri first kissnya? Apa kata Kak Vior nanti jika dia tahu?   Tidak. Bukan itu yang seharusnya Letta pikirkan, tapi, bagaimana selanjutnya ia menghadapi pria kutub itu? Dibalik sifat dinginnya ternyata pria itu juga sama mesumnya dengan Kak Vior. Letta mengangguk dengan cepat sambil menyimpulkan bahwa semua pria yang setipe seperti Azel dan Vior memiliki sifat m***m di atas rata-rata pria normal lainnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN