BAB 8

1036 Kata
Pagi ini Letta terbangun pagi. Mata cantiknya mengerjap beberapa kali hingga akhirnya terbuka lebar. Pikirannya langsung teringat pada kejadian semalam dimana ia harus menjadi pacar pura-pura Azel sejak hari ini. Ia masih tidak tahu apa motif pria itu. Letta tidak ingin terlalu memikirkannya dan segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.   Setelah berpakaian rapi, ia mengikat rambutnya dengan menyisakan poni menyamping yang membuatnya sangat manis apalagi dengan rambut hitam miliknya. Sempat dirinya berpikir untuk mewarnai rambutnya menjadi pirang, namun belum kecapaian.   "Pagi tante.." Sapa Letta saat melihat Invy sedang berada di dapur.   Invy menoleh dan tersenyum. "Pagi kembali, Sayang. Cepat sekali kau bangun? Apa tidurmu nyenyak?"   Sangat nyenyak, Tante. Apalagi anak tampanmu memberikanku kecupan selamat malam di bibir dan apakah tante tahu jika itu ciuman pertamaku? Ahh, seandainya dia berani menjawab seperti itu, namun semua itu hanya ada di dalam hatinya. Tiba-tiba saja wajahnya kembali merona. Letta tidak bisa membiarkan pikirannya dipenuhi oleh pria yang sudah menjelekkannya.   "Nyenyak, Tante." Dirinya tersenyum kemudian melirik ke kiri dan ke kanan memastikan bahwa Kak Azel belum turun dari kamarnya. "Ada yang bisa aku bantu?"   "Tidak apa-apa, Sayang. Semuanya sudah selesai hanya tinggal membuat s**u untukmu dan Seva dan juga kopi untuk Azel dan Om."   "Biar aku saja, Tante." Jawab Letta cepat dan segera meletakkan handbag serta jas dokternya di atas kursi lalu membuat minuman itu membuat Invy tersenyum senang.   "Seandainya kau menjadi menantu tante. Tante akan senang sekali."   Letta melebarkan bola matanya mendengar ucapan Invy. Baru saja semalam dia diklaim sebagai pacar pura-pura dan pagi ini Mamanya memintanya untuk menjadi menantu. Tenang saja, Tante. Aku sudah menjadi menantu pura-puramu, yaa walaupun sementara waktu.   Letta hanya menjawab dengan cengiran kaku dan kembali berkutat pada air yang hendak didihkan.   "Jangan dipikirkan. Jika jodoh takkan kemana." Invy kembali melanjutkan melihat Letta tidak menjawab apapun.   "Ya Tante." Hanya itu yang dapat Letta jawab sambil tersenyum simpul dan mulai sibuk untuk memasukkan s**u dan kopi kedalam cangkir yang berbeda.   Kini, semuanya telah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Letta duduk seperti biasa disamping Seva yang masih berada di rumah orang tuanya karena Leo akan pulang minggu depan, sedangkan Azel duduk di depan Letta sedang sibuk berkutat dengan sarapannya tanpa memperdulikan Letta sama sekali seolah perkataan dan ciuman semalam bukanlah apa-apa untuknya.   "Aku pergi duluan, Tante Om."   Kini, seluruh keluarga Zerrald memandang Letta. "Kau tidak pergi bersama Azel, nak?" Aiden membuka suaranya.   Ya, Letta memutuskan untuk tidak merepotkan Kak Azel lagi dengan berangkat sendiri menggunakan taksi.   "Tidak Om. Aku akan pergi dengan taksi mulai sekarang." Letta tersenyum. "Lagipula, aku ingin sekalian melihat-lihat kota ini."   "Kau pergi denganku, Letta!" Suara tegas itu membuat Letta menoleh menatap mata Azel yang kini menatapnya menusuk. "Tidak kubiarkan kau pergi sendiri." Sambungnya lagi.   Dengan susah payah Letta menelan salivanya. "A-aku tidak apa-apa pergi sendiri, Kak." Bagaimana bisa dia pergi satu mobil dengan Azel setelah apa yang terjadi semalam? Apalagi dirinya harus berdiam diri selama 30 menit didalam mobil karena pria itu tidak pernah membuka suaranya. "Aku ingin mandiri. Terlalu merepotkan jika harus pergi denganmu selalu."   "Aku tidak meminta pendapatmu, Letta. Pergi denganku atau tidak sama sekali!" Ancamnya membuat keadaan semakin canggung.   Apa-apaan ini?   "Tapi-"   "Letta!!" Azel menegaskan sekali lagi.   "Baiklah." Ujarnya lesu sambil menunduk menatap sarapan yang sudah habis tersebut dengan bibir yang mengerucut. Dirinya paling tidak suka jika sudah diatur-atur seperti ini.   "Ayo, kita berangkat." Azel beranjak membuat Letta mengikutinya dari belakang.   "Om, Tante, Kak Seva. Kami pergi dulu."   "Hati-hati, Sayang.." Invy tersenyum misterius hingga Azel dan Letta tidak terlihat lagi, wanita itu menatap suaminya sejenak. "Apa yang kau pikirkan jika Letta dan Azel bersama?"   "Aku tidak akan mempermasalahkannya, love. Semuanya kuserahkan pada mereka." Sahut Aiden lembut sambil menatap Invy penuh cinta.   "Sepertinya aku harus menelepon Shaiqa untuk berbicara dengannya."   "Ho ho.. Apakah ini yang namanya perjodohan?" Seva menyela sambil tersenyum miring. "Aku akan beritahu Vynca."   "Terserah kalian ladies. Aku hanya bisa mendukung apapun keputusan wanita kesayanganku." Aiden beranjak dari tempat duduknya. "Aku pergi, love. Jaga dirimu baik-baik." Aiden mengecup kening isterinya lembut.   "Kapan kau pensiun, Ai? Bisakah kita menghabiskan waktu tua bersama?" Pinta Invy memelas.   "Maafkan aku. Tapi, aku harus mengawasi perusahaan yang kini dijalankan oleh Sean, ya walaupun aku masih menyimpan dendam padanya." "Ai, itu sudah lama sekali dan kau masih dendam padanya?" Invy tampak berang melihat suaminya ini.   "Aku hanya bercanda. Jika aku masih dendam, aku tidak akan mengangkatnya sebagai CEO disalah satu perusahaan ternamaku. Lagipula, dia sudah bahagia bersama isteri dan anaknya."   Invy tersenyum bangga pada suaminya yang berhasil menghilangkan dendam tersebut. Sudah beberapa tahun Sean menjabat sebagai seorang CEO di perusahaan Aiden. Ini terlihat lucu memang, mengingat dulu mereka bermusuhan dan Aiden yang menghancurkan perusahaan Sean. Namun, setelah Sean keluar dari penjara dan Azel tumbuh dewasa, ia sudah memiliki cita-cita menjadi dokter dan tidak mau berurusan dengan perusahaan maka dari itu, Aiden memilih Sean untuk memimpin perusahaannya dan dia hanya akan bekerja dibalik bayangbayang.   "Aku ingin mengundang mereka makan malam bersama kita." Invy berujar sambil memegang tangan Aiden.   "Lakukan sesukamu, Sayang. Aku akan mendukungmu." Aiden melumat bibir Invy tanpa tahu malu jika Seva sedang memperhatikan keduanya.   "Aughh, kalian menghilangkan selera makanku." Seva berpura-pura merajuk. "Sebaiknya aku menelepon Leo sekarang." Ia segera beranjak dari sana meninggalkan Aiden dan Invy yang terkekeh melihat anak pertamanya bertingkah konyol.   ***   Letta sedari tadi menahan nafasnya mengingat aura kelam yang dikeluarkan Azel yang saat ini sedang fokus menyetir.   "Kau kekasihku, Letta. Jadi, bertindaklah seperti kekasihku. Tidak ada yang namanya berangkat masing-masing!" Akhirnya, setelah beberapa hari pergi dan pulang bersama, suara berat itu keluar juga.   "Kekasih pura-pura, Kak. Jadi, bertindaklah pura-pura di depan orang tuamu." Sahutnya asal tanpa mencerna lebih dulu kalimatnya.   "Di rumah sakit, tugasmu menjauhkanku dari wanita tidak tahu diri. Paham?!" Azel memilih mengalihkan topik pembicaraan karena percuma menurutnya berdebat dengan Letta.   Jadi ini maksudnya menjadikannya kekasih pura-pura? Menjauhkan Kak Azel dari wanita lain?   "Aku juga tidak tahu diri jika kau ingat. Kau yang mengatakannya seperti itu! Lagipula, aku bukan jalang yang suka menjambak rambut wanita lain saat kekasihnya sedang berdekatan dengan perempuan manapun!"   See? Jawaban Letta membuat Azel terdiam karena sepertinya perempuan itu memang diciptakan untuk selalu membantah titahnya.   "Ingat perjanjian semalam dan kau harus melakukannya."   "Yayaya, sekarang maukah kau mengabulkan permintaan pertamaku?" Letta menatap Azel dari samping dengan serius.   "Apa?"   "Keluarkan aku dari teammu!" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN