Midnight Rain | What if?
Serena Samudera. Perempuan cantik yang tepat berumur dua puluh tiga tahun malam tadi. Sena mengucek matanya menyesuaikan cahaya dari jendela yang merangkak masuk.
Tangannya yang lentik dia arahkan untuk mencari-cari smartphone yang entah ia taruh di mana.
Sena menghembuskan nafasnya malas saat mendapati spam telepon dari sang manajer beberapa jam yang lalu. Seharusnya ia segera mebelfon kembali, tapi rasanya malas mendengar manajernya itu mengomel.
Sena baru saja mengadakan birthday party secara besar-besaran dengan tema fancy khas nya. Selebriti, seniman, staff agensinya, produser musik bahkan para wartawan hadir memenuhi undangan.
Beberapa ingatan belum berhasil ia transfer masuk ke dalam otaknya. Kepalanya sangat pusing padahal ia harus segera menghadiri sebuah pertemuan untuk reading film genre horror perdananya.
"Bangun juga akhirnya?" Seorang pria keluar dengan hanya mengenakan handuk putih yang menutupi bagian bawahnya. Otot bisepnya menonjol kekar, belum juga dengan rahang tegasnya yang tajam yang turut membuat salah fokus.
Sena dengan cepat berteriak dan menutupi badannya dengan selimut. "LO SIAPA HAH?!" Ia menatap tajam pria itu, seolah melarangnya untuk mendekat.
"Masa nggak tau saya sih? Kan kamu yang masuk ke kamar saya sendiri tadi malam." Ujarnya sinis.
Wanita itu yang memang tidak mengingat apa-apa pun hanya mampu melongo. Ia kebingungan dengan situasi yang sedang ia hadapi ini.
"Lupa atau cuman pura-pura aja hah? Hidup kamu kan emang penuh sama gimmick murahan." Pria itu dengan perlahan berjalan menuju ranjang.
Sena dengan cepat mundur hingga mentok di sisi ranjang, selimut putih itu menutupi badannya hingga leher. Menatap takut-takut ke arah pria yang terus melangkah mendekatinya.
Suara sentilan tepat di dahinya terdengar. "Gausah kepedean, saya cuman mau ambil baju aja." Ujarnya lalu mengambil kemeja yang ada di ranjang tepat di sebelah wanita itu.
Sena mengelus dahinya akibat jitakan pria itu. Sedetik kemudian dia lalu sadar dan melihat ke bawah mengecek pakaian nya.
Pria itu yang sadar pun hanya mendecih. "Kenapa? Berharap kamu telan jang terus minta tanggung jawab yah?" Ia menatap datar ke depan.
Meskipun Sena kebingungan dengan perkataan pria asing itu, setidaknya ia menghembuskan nafasnya lega melihat dres maroon nya masih terparkir indah di badannya.
"Saya nggak bakal kemakan trik murahan yang biasanya ada di sinetron itu."
Sena terperangah. Ia mendengus kesal. "Wait! Maksudnya lo nuduh gue gitu seolah ini rencana gue? Hellow! Ini kamar yang gue pesen kali!" Ia lalu mencari-cari cardkey yang sebelumnya ia masukkan ke dalam tas.
"Nih! Ini kamar yang dipesen manajer gue tau!"
Pria itu mendekatkan kepalanya sambil sedikit menunduk. Benar, cardkey yang di pegang wanita itu memang menunjukkan nomor kamar ini. Tapi ini kan kamar yang di pesan langsung oleh pria itu dari pihak hotel secara eksklusif. Tidak mungkin salah dong?
"Bener kan, gue nggak salah kamar woy!"
"Tapi saya mesen ini langsung ke pemilik hotelnya, nggak mungkin salah. Lagipula cardkey kamar ini nggak cuman satu, pasti kamu sogok resepsionis nya kan biar kasih kamu cadangannya. Terus bikin kasus nggak guna deh buat nyuruh saya tanggung jawab."
Sena memicingkan matanya tidak senang. Ia lalu bangkit dari kasur dan menatap tajam ke arah laki-laki itu sambil berkacak pinggang. "Heh, ini tuh kamar yang di pesen sama manajer gue, nggak ada gunanya juga gue bikin skandal sama orang kayak lo! Kek orang penting aja." Ujarnya menusuk. Ia lalu mendorong kecil da da pria itu dengan kasar.
Pria itu lalu memicingkan matanya. "Kamu.. Serena Samudera kan?"
"Iya, kenapa?! Baru liat artis yah, hah?!" Sena kembali menyolot. Sudah sewajarnya karena sedari tadi ia di pojokkan.
Pria asing itu kembali terkekeh sinis. "Yakin nggak kenal saya?"
"Nggak usah merasa sok penting yah lo, dan tenang aja. Gue nggak bakal bikin skandal nggak masuk akal soal pertemuan kita ini. Jadi anggap kita nggak pernah ketemu!" Dengan rambut berantakan dan wajah bantalnya, Sena dengan cepat menenteng Tas dan handphonenya dengan kesal.
"Kamu belum di telepon sama manajer kamu kah?"
Ucapan pria itu dengan cepat membuat langkah Sena terhenti. Ia lalu kembali teringat dengan notifikasi spam telepon yang muncul saat wanita itu membuka handphonenya.
"Maksudnya?"
Pria itu mengangkat bahunya tenang. "Cek aja dulu." Ujarnya lalu melenggang masuk kembali ke kamar mandi sambil menenteng kemeja dan celana miliknya.
Dengan kesal Sena bergerak cepat membuka kembali handphonenya. Ia mengulum bibirnya kalut. Tangannya menggulir pesan-pesan yang sudah terkirim beberapa jam yang lalu untuknya.
Kak Keera galak
NEW DAY NEW SKANDAL b***h!
*MENGIRIM ARTIKEL
—PANGGILAN TAK TERJAWAB—
—PANGGILAN TAK TERJAWAB—
WOYYY!!!
ASTGA LO TUH KERJANYA CUMAN BIKIN KASUS AJA YAH?
LO DIMANA SEKARANG HAH??
—PANGGILAN TAK TERJAWAB—
—PANGGILAN TAK TERJAWAB—
*MENGIRIM FOTO
—PANGGILAN TAK TERJAWAB—
—PANGGILAN TAK TERJAWAB—
AELAH NIH ANAK YAH! NYUSAHIN TERUS
JANGAN BILANG INI BENERAN?!
WOY!!
Tangan Sena dengan cekat memencet link artikel yang di kirimkan untuknya. Degup jantungnya berdetak tak karuan sambil menganga tak percaya. Ia mengacak-acak rambutnya kesal membaca artikel tentang dirinya.
"ARTIS YANG AKAN MEMBINTANGI FILM Y BERINISIAL S TERCIDUK MASUK KE KAMAR YANG SAMA DENGAN CEO AGENSI Q YANG BARU"
Sena menggigit bibir bawahnya panik. Baru bulan lalu ia terbebas dari tuduhan memakai obat terlarang atau narkoba, sekarang ia malah dapat skandal baru.
Wanita itu menghembuskan nafasnya kasar saat membaca komenan dari artikel itu.
"Wkwkw emang artis problematik sih, lolos skandal lama malah dapat skandal lain."
"Yang kek gini di pertahanin agensi, ku kira berbakat ternyata habis naik ranjang anj*r"
"Agensinya padahal bagus banget, malah nyimpen satu artis bad attitude ini"
Sena dengan cepat mematikan ponselnya kesal. Apanya yang problematik? Orang problematik sebenarnya tuh orang yang nge jebak dia lah. Kalau di suruh memilih, dia juga tidak igin terkena kasus murahan seperti ini.
Pintu kamar mandi kembali terbuka. Menampilkan pria tadi yang sudah mengenakan pakaian dengan rapi.
"Gimana? Udah tau saya siapa." Ujarnya dingin sambil menenteng handuk.
Sena menghembuskan nafasnya panjang. Artikelnya bilang kalau pria yang terlibat skandal dengannya adalah CEO baru agensi Q.
Berarti....
"Pak Liam?" Ujarnya dengan lirih.
Laki-laki di depannya terkekeh sinis. "That's it! Saya tau kamu nggak sebodoh itu."
"Tapi beneran Pak, saya nggak tau apa-apa ini bukan hal yang saya rencanain dengan sengaja." Sena menggelengkan kepalanya dengan kuat sambil menyatukan telapak tangannya memohon.
Apakah kali ini karirnya beneran akan hancur?
Pria itu maju beberapa langkah. "Kamu di bayar berapa sama Saga? Ini emang bukan kamu yang rencanain tapi dia kan?" Ucap laki-laki itu dengan nada menuduh.
Sena menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Siapa lagi Saga itu?