Bab 1 TIDUR DENGANNYA
Ayu Fadila selalu percaya bahwa hal paling bodoh yang bisa dilakukan manusia dewasa adalah mabuk sendirian di hari patah hati.
Malam ini, dia sedang melakukan hal paling bodoh itu dengan penuh dedikasi.
Gelas ketiga—or keempat, Ayu sudah tidak peduli—ia teguk sambil menatap layar ponselnya yang masih menampilkan foto pertunangan Dimas, Mantannya.
Mantan yang sudah dipacari selama tiga tahun, yang bilang mau fokus memperbaiki diri seminggu lalu kemudian dengan santainya melamar perempuan lain hari ini, lengkap dengan caption “Finally found my forever.”
“Forever kepala kau,” gumam Ayu, lalu tertawa kecil, getir.
Bar kecil itu ramai. Musik berdentum, tawa orang-orang bercampur, tapi dunia Ayu seakan menyempit. Yang ada hanya dadanya yang sesak dan kepalanya yang mulai ringan. Ia menenggak minumannya lagi.
Ia tidak menangis. Ayu terlalu lelah untuk itu. Tiga tahun hubungan, puluhan rencana masa depan, dan akhirnya… selesai begitu saja. Bahkan ia tahu kabar pertunangan itu dari sosial media, bukan dari mulut Dimas sendiri.
“Sial,” umpatnya pelan.
Seseorang duduk di sampingnya. Ayu tidak terlalu memperhatikan. Di kepalanya, semua pria malam ini sama saja, samar, tak penting, dan bisa dilupakan besok pagi.
“Kamu kelihatan mau meledak,” kata pria itu.
Ayu mendengus. “Kalau aku meledak, bar ini udah rata sama tanah.”
Orang itu tertawa pelan. Suaranya rendah dan hangat. Ayu menoleh setengah malas dan membeku.
“Pramasta?”
Dia mengenalnya dengan baik. Adik Dimas. Yang lebih muda dua tahun, pendiam dan… menyebalkan dalam caranya sendiri.
Pramasta menatapnya dengan ekspresi antara terkejut dan khawatir. “Kamu patah hati?”
“Oke,” Ayu berdiri sempoyongan. “Ini pasti halusinasi. Aku mabuk, dan otakku jahat.”
“Kamu minum sendirian?” tanya Pramasta, mengabaikan ocehannya.
“Sendirian, ditemani rasa gagal,” jawab Ayu dramatis.
Pramasta mendesah, lalu dengan halus menarik kursi Ayu agar ia duduk lagi. “Kamu nggak boleh nyetir.”
“Aku nggak nyetir.”
“Kamu juga nggak boleh mabuk sampai lupa siapa diri kamu.”
Ayu menatapnya. Terlalu lama dan dekat. Matanya panas oleh alkohol dan emosi. “Aku tahu siapa aku. Aku perempuan yang baru dibuang dan digantikan.”
Hening sesaat.
Mungkin karena alkohol, luka atau mungkin karena semesta memang ingin mengacaukan hidupnya lebih jauh, Ayu mencondongkan tubuh dan mencium Pramasta.
Ciuman itu tidak elegan atau romantis. Lebih seperti tabrakan dua orang dewasa yang sama-sama kehilangan arah.
Pramasta membeku sesaat… lalu membalasnya.
"Ayu, kamu tahu siapa yang kamu cium?" tanyanya setelah beberapa saat linglung.
Ayu tersenyum penuh arti, "Pramasta, cowok tampan yang menyebalkan."
Pramasta hampir tidak bisa menyembunyikan senyumannya karena jawaban Ayu, tapi dia berhasil menahan diri.
"Ikut aku!" ajaknya.
Ayu hanya mengangguk.
Lantai hotel terasa seperti bergerak pelan di bawah telapak kakinya. Pramasta berdiri di dekat pintu kamar, jasnya masih rapi, dasi sudah dilonggarkan. Tatapannya tegang—bukan karena marah, tapi karena sadar betul satu hal: Ini ide buruk.
“Ayu,” katanya pelan tapi tegas. “Aku akan antar kamu masuk lalu pergi.”
Ayu tertawa kecil. Tawanya serak, tidak biasa. Ia melepaskan heels-nya, membiarkannya jatuh sembarangan di lantai.
“Kenapa?” tanyanya sambil berjalan mendekat. “Takut sama aku?”
Pramasta menelan ludah. Jarak mereka tinggal satu langkah.
“Bukan, aku takut kamu nyesel besok.”
Ayu mendongak. Matanya berkilat, bukan karena air mata—tapi karena amarah yang terlalu lama ditahan.
“Aku sudah nyesel tiap hari, Pram,” katanya lirih. “Malam ini… aku cuma pengin berhenti mikir.”
Tangannya menyentuh lengan Pramasta. Tidak kasar, tapi cukup untuk membuat napas Pram sedikit berubah.
Pramasta langsung mundur setengah langkah.
“Jangan,” katanya. “Kamu mabuk.”
Ayu menggeleng, rambutnya yang diikat seadanya terlepas, jatuh ke bahu.
“Kalau aku mabuk, aku bakal bilang kamu gak gentleman karena ninggalin aku di saat kayak gini.”
Pramasta mendesah. “Ayu…”
“Kalau aku mabuk,” lanjut Ayu, menatap lurus ke matanya,
“aku juga nggak bakal berani ngelakuin ini.”
Ia berdiri lebih dekat. Pramasta bisa mencium wangi alkohol bercampur parfum ringan yang dikenalnya. Wangi yang dulu selalu ada tiap kali Ayu datang ke rumah bersama kakaknya.
“Aku adiknya Dimas,” katanya pelan, seolah mengingatkan dirinya sendiri.
Ayu tersenyum miring.
“Makanya aku milih kamu.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang ia kira.
Pramasta memejamkan mata sebentar. Saat ia membukanya lagi, nadanya berubah menjadi lebih rendah dan serius.
“Dengar baik-baik,” katanya. “Aku tidak akan melepaskanmu sekali kamu menjadi milikku.”
Ayu mengangkat dagunya. “Wow, gentleman, dulu Dimas juga bilang begitu. Namun apa? Dia membuangku, Pram!”
Air mata Ayu berjatuhan.
"Aku dan Dimas berbeda. Kamu masih mau?"
Hening. Pramasta mengusap wajahnya kasar. Harga dirinya sebagai seorang Leo sedang bertarung dengan logika.
“Ayu,” katanya lagi, suaranya lebih berat, “kalau kita lewatin garis ini, nggak ada tombol undo.”
Ayu mendekat sekali lagi. Kali ini ia menempelkan dahinya ke daada Pramasta.
“Kalau kamu nggak mau,” bisiknya, “aku bakal berhenti sekarang.”
Pramasta menutup matanya. Tangannya terangkat ragu lalu berhenti di udara.
“Kalau kamu besok nangis—”
“Aku nggak akan.”
Pramasta menghela napas panjang.
“Kalau besok kamu marah sama aku...”
Ayu memotong, suaranya lembut tapi mantap.
“Pram… aku tidak tahan lagi.”
Detik itu juga, Pramasta menyerah. Bukan karena nafsu melainkan karena untuk pertama kalinya, seseorang memilihnya bukan sebagai bayangan siapa pun. Ia mendekat, menunduk sedikit agar sejajar dengan wajah Ayu.
“Ingat satu hal,” katanya tegas, menahan dirinya di batas terakhir.
“Kamu yang maksa, ya?”
Ayu tersenyum tipis.
“Takut?”
Pramasta tertawa kecil—tawa pendek, berbahaya.
“Enggak. Aku cuma mau kamu inget… ini keputusan kamu.”
Ayu tersenyum lalu sedikit antusias ketika Pramasta membuka kemejanya lalu menciumnya dengan ganas. Malam itu, mereka menghabiskan malam dengan terus terjaga. Dengan lampu yang menyala, pintu terkunci dan dua manusia yang bersatu seolah tidak akan pernah terpisah selamanya.
Paginya, Ayu terbangun dengan kepala berdenyut dan kesadaran yang datang terlalu cepat. Langit-langit asing. Seprai asing. Satu hal yang sangat, sangat tidak asing: seorang pria tertidur di sampingnya. Pramasta, dengan kaus putih kusut, rambut acak-acakan, dan satu lengan melingkar di pinggang Ayu.
“Ya Tuhan,” bisik Ayu.
Potongan ingatan menghantamnya seperti gelombang: bar, minuman, ciuman, kamar hotel.
One night stand dengan adik mantan.
Ia beringsut pelan, tapi Pramasta terbangun.
Mata mereka bertemu.
Hening lalu Pramasta duduk, mengusap wajahnya. “Aku mau bertanggung jawab.”
Ayu tertawa. Histeris. “Bertanggung jawab? Hei, ini 2026. Kita juga manusia dewasa, Jadi, aku rasa kita...”
“Aku akan melamar kamu.” Pramasta memotong cepat.
"APA?" Pupil matanya melebar.
“Seminggu lagi,” lanjut Pramasta, serius. “Aku nggak mau ini jadi aib buat kamu atau buat keluargaku.”
Ayu menatapnya, antara ingin tertawa lagi atau pingsan. “Kamu gila.”
“Mungkin,” jawab Pramasta tenang. “Tapi aku serius.”
Ayu ternganga.
"Ingat, semalam kamu yang minta dan aku benci penolakan." Pramasta menatapnya dengan kegigihan yang tidak akan pernah bisa digoyahkan sekalipun dia mengancam.
Di situlah Ayu sadar kalau malam bodoh itu baru permulaan dari kekacauan yang jauh lebih besar.