Xavier tak mau bicara banyak. Akhirnya pria itu berjalan terlebih dahulu untuk masuk ke dalam sana.
"Serius? Ini rumah Om?" tanyanya lagi.
Angel terus berjalan sambil menutup mulutnya karena masih tidak percaya jika di dalam rumah itu sangatlah cantik.
"Rumah kita," jawab Xavier lagi.
Angel melirik ke Xavier, sekilas dia memutarkan bolamatanya dengan nada malas. “Maksud Angel itu,” ucapnya dengan wajah tak berdosa.
“Cantik banget ....” Gadis itu memandangi rumah itu dengan takjub.
“Sepertinya renovasi di depan baru saja selesai, kita lihat ke kamar saja. Ayo ikut saya.”
Angel mengangguk dan mengikuti pria itu dari belakang.
“Itu apa ya?” Angel segera menundukkan kepalanya untuk mengambil sebuah gambar.
“Eh, awas!” Melihat itu, Xavier sontak memegang sudut meja yang di samping. kasur supaya tidak terkena kepala Angel.
Angel melihat ke arah tangan Xavier saat ini, kemudian menoleh ke ara pria itu dengan wajah tidak percaya. “Bisa begitu ya?” batinnya.
“Hati-hati bisa tidak?”
Angel mengerjapkan matanya. Dia segera beranjak dan menjajarkan tubuhnya. “Dari tadi perasaan Angel hati-hati deh. Lagian mejanya juga masih jauh kan?”
“Namanya musibah Angel. Mana ada yang tahu kan?”
Angel memutarkan bolamatanya malas. Dia melihat foto anak kecil yang berukuran kecil. “Kayaknya nggak asing?”
Mata Angel disipitkan.
“Itu foto masa kecil kamu. Saya sengaja menyimpannya,” kata Xavier santai.
Angel melirik dari samping. “Pantas saja ....” ucapannya tergantung dan sedetik pula dia menatap pria itu tajam.
“Fotoku? Dari mana Om ambil fotoku hah! Maling ya Om!”
“Mana ada maling bisa mengaku? Dasar?!”
Angel mendengus pelan, dia meletakkan kembali di atas meja tersebut. “Terus? Kenapa Om bisa punya foto masa kecil Angel?”
“Rahasia, tidak penting juga buat kamu. Ah ya ... ini kamar utama buat kita.” Xavier menunjuk ke kamar mandinya. “Dan di sana ada kamar mandinya. Kamu tidak perlu khawatir di dalam sana ada fasilitas lengkap, terutama bathup.”
“Aku tidak peduli kamar mandinya seperti apa. Yang penting aku bisa mandi,” kata Angel dengan santainya.
Gadis itu melangkahkan kakinya untuk membuka gorden yang berada di kamarnya. Kebetulan juga kamarnya berada di lantai atas, jadi pemandangannya tidak kalah cantik dari yang ada di rumahnya sendiri.
“Wah ... pemandangannya cantik sekali?”
“So? Kamu mau kan tinggal bersamaku di sini? Saya janji, saya akan menjagamu dan merawatmu dengan benar.”
Angel menoleh ke samping dan ternyata pria itu sudah berada di sampingnya.
“Aku bisa merawat diri aku sendiri, Om. Jangan anggap Angel seperti anak kecil ya,” desisnya.
“Bukan begitu.”
“Aku mengerti maksud Om. Cari pembahasan lainnya, Angel sensitif kalau Om bicara seperti itu.”
Xavier menghela napas pelan. “Saya ini suami kamu Angel. Kalau kamu tidak bisa memberikan apapun untuk saya, biarkan saya memberikan itu semua untuk kamu.”
Angel menghentikan langkahnya, kala dirinya mau keluar kamar. Dia menoleh ke belakang lagi. “Yaudah, kalau itu mau Om. Tapi jangan bahas semuanya di depan Angel. Apalagi pernikahan kita,” katanya sebelum keluar dari tempat itu.
“Baiklah,” ucap Xavier.
Angel kembali melangkah keluar dari rumah itu. Dia melihat ke kanan-kiri yang masih jarang ada perumahan sama sekali.
“Sepi banget sih di sini? Apa karena ada Om di sini ya? Makanya jarang sekali penghuninya?”
“Kata siapa? Justru tanah ini sangat mahal, makanya jarang yang membeli tanah yang berada di tempat ini. Kecuali orang-orang yang sanggup membelinya.”
Angel menoleh ke samping. “Terus? Apa Om salah satunya?”
“Menurut kamu?”
“Sombong amat,” desisnya sembari memutarkan bolamatanya.
“Kita cari makan saja Om. Angel lapar, mau beli sesuatu yang buat perut Angel kenyang,” kata Angel sembari menepuk perutnya itu.
“Mau apa? Kamu cari saja di maps. Nanti saya bayar.”
Angel mengangguk kecil. Dia duduk di kursi yang berada di depan rumah tersebut sembari mengotak-atik ponselnya sendiri.
“Bagaimana? Kamu sudah dapat belum?”
“Belum. Males banget cari kayak ginian, mending Om saja yang cari di sekitar sini. Pasti Om ngerti kan makanan dekat sini?”
Angel segera memasukkan ponselnya kembali ke sakunya sendiri.
Xavier menghembuskan napas pelan. “Yasudah, kamu masuk saja dulu.”
Angel mengulas senyuman lebarnya. “Nah, begitu dong. Makasih, Om!”
Dia segera masuk ke dalam mobil tersebut. Kemudian membenarkan rambutnya di kaca mobil itu.
“Ish! Lama banget sih om Xavier. Dikira enak kali nunggu,” gerutunya.
Angel menautkan alisnya ketika pria itu sedang berbicara dengan seorang wanita dan sepertinya seumuran dengan Xavier. “Genit banget, sudah tau punya istri masih nempel ke sana ke mari. Dasar buaya!”
Tak lama kemudian, Xavier masuk ke dalam mobil. Angel menatap sinis. “Istri baru ya Om? Atau mantan terindah? Wah ... cukup tau ya Angel. Mama kenapa nutup mata ya?”
Xavier mendesis pelan, kemudian menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. “Kamu ini bicara apa sih? Itu teman aku, yang katanya mau mengambil rumah itu.”
“Teman atau teman?” ucap Angel sembari memutarkan bola matanya. Lalu, dia menatap keluar mobil.
Xavier tertawa kecil. “Apa kamu cemburu? Bilang saja kalau cemburu.”
Mata Angel sontak membulat seketika dan melirik ke samping. “Siapa juga yang cemburu yak!”
“Tidak usah malu-malu begitu. Kamu sudah mulai suka kan sama saya?”
Angel bergidik ngeri dan tak mau bicara lagi. “Aku hidupin ya lagunya.”
“Boleh, kalau kamu bisa.”
Angel mengangguk kecil. Untungnya pria itu tak melanjutkan ucapannya tadi. Akhirnya dia mencoba untuk menghidupkan musik di mobil itu lewat bluetooth dari ponselnya sendiri.
“Bisa tidak?” tanya Xavier untuk memastikan.
“Bisa kok.”
Xavier hanya mengangguk kecil. “Tolong kamu pakai sabuk pengamannya bisa?”
Angel melirik ke samping, sekilas dia menghembuskan napas kasar. Mau tidak mau dirinya harus memakai sabuk pengaman itu. “Ribet banget, lagian cuma di daerah sini kan? Ngapain pakai sabuk pengaman sih?”
“Biar aman kamunya. Bisa tidak?”
Angel tidak merespon, dia terus menarik-narik sabuk pengamannya. “Kesel banget. Ini jangan bilang nggak mau menyatuh sama badanku ya?”
Melihat itu, Xavier tertawa kecil. Dengan reflek tangan pria itu terulur dan mengambil sabuk pengaman dari tangan gadis itu. Kemudian membantu untuk memakaikannya. “Sabar sedikit bisa kan Sayang?”
“Huelk! Sayang?” batinnya.
Tapi, kali ini Angel hanya diam saat suaminya itu membantunya. Dia terus menatap wajah pria itu dari samping.
“Ternyata ganteng juga dia, bahkan wajahnya juga belum ada kerutan,” batinnya.
“Kalau seperti ini kan kamu aman. Kalau kamu lecet saya bakalan dimarahi sama orang tua kamu. Terutama mama kamu.”
Tidak ada respon.
Xavier menatap dari spion, pria itu mendesis pelan saat melihat gadis tersebut tengah menatapnya. “Biasa saja bisa matanya? Saya tau, kalau saya itu tampan,” kata Xavier dengan nada percaya diri.
Angel mengerjapkan matanya dan menatap ke depan kembali sembari memegang seatbeltnya. “Apaansih! Siapa juga yang menatap Om? Percaya diri sekali anda ....”
“Lagian nanti juga Om bakalan kebal sama omongan mamaku. Dia memang begitu.”
Xavier menyunggingkan senyuman evilnya.
“Bukan hanya mama kamu saja. Tapi mama saya juga begitu. Kamu pasti mengingatnya kan?”
“Ya,” jawab Angel singkat dan memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajah merahnya dari suami sahnya itu.