Hidup teracuhkan? sudah biasa. Hidup didiamkan? aku sudah kebal. Terasingkan? Hal lumrah. Tapi, jika kamu yang melakukan itu semua. Kenapa terasa sakit? Apa mungkin, aku akan kehilangan sosokmu yang hangat, dan penyayang itu? Semua mata tertuju pada pada ruang UGD. Gadis itu gemetar takut. Keringat masih bercucuran di sekujur tubuh. Karena dia, Bunda jadi celaka. Ia berharap, semoga semua baik-baik saja. Zada, dan Ayah masih tegang. Menatap ke arah pintu UGD. Menunggu Dokter keluar, dan menjelaskan keadaan Bunda. Zilya memberanikan diri, mendekati Zada yang terduduk di kursi tunggu. Gadis itu meremas jemarinya. Merasa kesalahannya sangat fatal. Zilya menyentuh pundak Zada. Tapi, langsung ditepis olehnya. "Jangan sentuh aku," kata Zada begitu menusuk hati Zilya.

