Zilya terduduk di meja belajarnya. Sambil memerhatikan gemerlap bintang di balik jendela. Hari ini, hatinya merasa cemas. Sejak tadi pagi, hingga sekarang Zada tak kunjung pulang. Ia merasa was-was takut terjadi sesuatu dengan calon tunangannya itu.
Berulang kali Zilya menghubungi Zada, tapi tak ada jawaban. Zilya juga menghubungi Ayah, dan Bunda. Namun, hasilnya nihil. Merekapun tak menjawab panggilan Zilya.
Malam ini, Zilya sendiri. Hanya, ada Pak Hasan, dan Mbok Marni, Supir pribadi, dan pembantu di rumah itu.
Zilya merasa kerongkongannya kering. Akhirnya, gadis itu memutuskan untuk pergi ke dapur, dan mengambil air putih.
Pak Hasan datang dengan raut wajah cemas. Hal itu membuat Zilya bingung, apakah ada sesuatu yang terjadi?
"Kenapa, pak? Ada apa?" tanya Zilyawas-was.
"Non Zilya harus ikut. Ada sesuatu yang menimpa Mas Zada," ujar Pak Hasan.
"Kak Zada kenapa? Apa yang sudah terjadi?" tanya Zilya panik.
"Ayo cepat, non. Waktu kita gak banyak," ujar Pak Hasan. Kemudian menggiring Zilya ke mobil.
Tanpa mengganti baju, Zilya langsung pergi begitu saja. Hatinya sangat takut, perasaannya cemas.
Apa yang sudah terjadi dengan Zada?
*****
Di sepanjang jalan, Zilya terus mencoba menghubungi Zada. Air matanya menetes.
Namun, ia mencoba menetralkan rasa cemasnya. Ia takut, jika nanti penyakitnya kambuh karena terlalu stres.
Zilya merasa aneh, ketika Pak Hasan membawanya ke tempat yang tidak ia kenal. Tempat sepi, dan nampak seperti kota terpencil.
"Pak? kenapa bawa aku ke sini?" tanya Zilya. Pak Hasan tidak menjawab.
Zilyamenggengam erat seatbelt. Ketika Pak Hasan melanjukan kendaraannya dengan sangat kencang. Keringat Zilya bercucuran, perasaannya makin tidak karuan.
"Pak, jangan ngebut!"
Pak Hasan masih saja tak menggubris.
Beberapa menit kemudian.
"Kita sudah sampai, non," ucap Pak Hasan sambil membukakan pintu untuk Zilya.
Zilya lemas, karena kejadian beberapa menit lalu yang menimpanya. Ketika Pak Hasan menyupir dengan ugal-ugalan.
" Te... Tempat apa ini?" tanya Zilya dengan nada gemetar. Suasana yang siny, gelap dan sepi. Zilya sampai merinding.
"Maaf, non. Saya tinggal sebentar, ya." ucap Pak Hasan, lelaki parubawa itu berlari.
"Pak, mau ke mana? Aku takut di sini sendirian," teriak Zilya, tetapi Pak Hasan tidak kunjung muncul.
Rasanya, ingin sekali menangis. Ia benar-benar takut.
"Hiks... Aku takut. Di sini sungguh mengerikan." Bulu kuduk Zilya sudah mulai berdiri.
Zilya semakin takut ketika mendengar suara langkah kaki seseorang.
"Pak Hasan?"
Langkah kaki itu semakin mendekat.
"Pak jangan bermain-main denganku! Atau aku akan mengadukan ini pada kak Zada!"
"Pak Ha... Mph...," ucapan Zilya terhenti. Karena tiba-tiba ada yang membekapnya dari belakang.
Zilya berusaha meronta, tetapi hasilnya nihil. Tenaganya tidak terlalu kuat untuk melawan. Ia benar-benar takut sekali. Apakah ini akhir hidupnya?
Zilya menggigit tangan, seseorang itu.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Zilya masih meronta.
Zilya semakin takut ketika orang misterius itu membawannya ke sebuah ruangan, ia tak bisa melihat dengan jelas. Karena pencahayaan di ruangan itu sangat buruk. Keringat dingin bercucuran.
"Tolong, jangan apa apakan aku!" Zilya menangis.
Zilya terkejut ketika orang itu memeluknya. Ingin rasanya pingsan. Zilya sangat panik.
"How are you honey?" tanya orang itu seseorang itu.
Zilya masih menutup mata. Tak berani melihat.
Suara itu seperti tak asing, batin Zilya.
"Lepaskan aku b******k! Tolong jangan apa-apakan aku!" Untuk pertama kalinya Zilya berkata kasar. Karena sangkin takutnya.
"Kasar sekali bicaramu," ujar lelaki itu.
"Lepaskan aku! Hiks... aku benar-benar tak ada masalah dengan siapapun. Kamu siapa? Jangan ganggu aku. Aku mohon." Suara Zilya melemah, dia merasa putus asa.
Seketika lampu menjadi terang, dan suara petikan gitar mengema di telinga. Zilya terkejut ketika melihat siapa yang berada di hadapannya saat ini.
"Kak Zada," lirih Zilya tidak percaya.
Kali ini Zilya memberanikan menatap sekilingnya. Ternyata banyak orang. Ada Bunda, Ayah, Vita, Niken, dan masih banyak lagi. Zilya melotot melihat Pak Hasan yang menggarukkan tengkuknya. Lelaki parubaya itu merasa salah tingkah, dan merasa bersalah.
Zilya merasa dipermainkan. Ia merosot ke lantai.
"Hiks... Hiks."
"Zilya." Zada langsung mendekap Zilya. Pemuda itu melihat wajah Zilya yang pucat pasi.
"Maafin aku, udah buat kamu cemas," kata Zada lembut.
"Ini bukan april mop kan? Kenapa kalian ngerjain aku?" tanya Zilya tak terima. Bunda mendekati Zilya, dan memeluk anak angkatnya itu.
"Kejutan, sayang." Bunda membangunkan Zilya.
"Kalian tau gak? Pak Hasan meninggalkanku di tengah hutan."
"Maafkan saya, non. Saya hanya menjalankan tugas." Pak Hasan membela diri, dengan cengengesan.
"Benar sayang jangan salahkan dia! Dia tidak salah," kata Bunda.
Memang ini adalah rencana yang telah di buat Zada, dan Keluarganya sejak beberapa waktu lalu. Memberi kejutan untuk Zilya. Hari ini, Zada akan mengikat Zilya, dalam pertunangan. Yeah, Zada merasa menang karena berhasil mendapatkan gadia secantik, dan sebaik Zilya.
Niken, dan Vita membawa Zilya ke kamar. Di mana di kamar itu sudah ada MUA terkenal yang akan merias wajahnya. Zilya sangat terharu. Antara senang, dan masih deg-degan.
"Kalian jahat banget gak ngasih tahu aku."
Vita, dan Niken meringis.
"Kalo ngasih tahu, artinya bukan kejutan, dong," jawab Vita.
"Iya, betul banget," timpal Niken.
"Kok kalian bisa ada di sini?" tanya Zilya.
"Iya, karena kak Zada." Niken menjawab.
"Dan... Kita pingin lihat, sahabat cantik kita ini bahagia," lanjut Vita. Akhirnya, mereka berpelukan layaknya Teletubis.
*****
Beberapa menit kemudian. Zilya telah selesai di makeup. Ia terlihat sangat cantik. Dengan balutan Dress berwarna putih selutut.
"Cantik banget," ujar Vita tak percaya.
Kini Vita, dan Niken menuntun Zilya untuk turun. Semua orang tercegang melihat kecantikan Zilya. Apalagi Zada, lelaki itu meneguk salivanya. Zilya memang luar biasa.
Mc mulai membaca susunan acara.
"Kini tiba saat yang di nanti-nanti. Yaitu sesi tukar cincin. Zada, dan Zilya diharapkan untuk maju ke depan."
Kini Zada, dan Zilya saling berhadapan. Tapi, tiba-tiba Zada bertekuk lutut sambil meberikan kotak kecil yang berisi cincin. Zilya menutup mulutnya terharu. Zada benar-benar sangat romantis.
"Maukah kamu menjadi tunangan aku? Sudikah kamu menemani lelaki yang tak sempurna ini?"
Zilya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiannya. Hingga tak terasa air matanya jatuh begitu saja.
"Saya bersedia," jawab Zilya.
Semua yang menyaksikan begitu terharu melihat pasangan itu. Bunda sampai tak kuasa menitikkan air mata. Perempuan paru baya itu memeluk lengan Ayah.
Zada bangun, dan segera menyematkan cincin berlian itu di jari manis Zilya.
"Terimakasih," ucap Zilya tulus.
"Mulai saat ini, hingga seterusnya. Kamu sudah terikat denganku. Sebisa mungkin, akan ku bahagiakan, dan takanku lepas," ujar Zada lantang di dengar semua orang.
****