#Zilya PoV
Hay guys. Kalian tentu saja sudah mengenalku bukan? Aku Zilya, yang kata kak Zada perempuan tercantik setelah Bunda. Hihi. padahal, aku ini mah apa, hanya remahan ciki, ketimbang bunda yang remahan berlian. hehe.
sedikit ingin bercerita, Gambaran hidupku saat ini. Adalah bahagia. Karena aku memiliki keluarga baru yang sangat menyayangikku, bahkan menginginkan diri ini, aku sangat bahagia menjadi bagian dari hidup mereka. Sungguh rasa bersyukur selalu kututurkan pada Tuhan.
Tak menyangka, jika aku dipertemukan dengan keluarga Kak Zada. Mereka sangat baik, dan menyayangi diri ini.
Jika kalian bertanya tentang perasaanku terhadap kak Zada, em... Aku masih belum tahu. Rasa sayang pasti ada. Tapi... Selain itu? Entahlah. Bingung hihi.
Dia yang banyak membantu diri ini, bangkit. Ketika hidup terpuruk, tersiksa, dan selalu terkucilkan oleh orang-orang, termasuk keluarga sendiri.
Ah... Jika mengingat masa-masa itu, hati rasanya nyeri. Rasa sakit masih menerpa di d**a. Hal itu menyisakkan trauma yang mendalam.
Memiliki Mama, tapi bersikap dingin. Seolah aku ini hanya seupil plankton yang menyusahkan. Memiliki Papa, tapi sarkas dan selalu kasar. Gara-gara penyakit ini, hidupku jadi berubah drastis. Sayang yang pernah mereka berikan, hilang dalam sekejap. Sumpah, rasanya sangat tersiksa.
Dan... Sekarang, aku amat sangat membenci mereka. Rasa tak ingin bertemu, dan melihat wajahnya sangat besar. Aku ingin mereka mati saja.
Ketika berusaha melupakan semua, Vanya adik perempuanku datang dan meminta diri ini untuk kembali. Jelas, aku menolak. Mereka yang sudah memutuskan untuk membiarkan diri ini pergi.
Hatiku sangat sakit, lukaku belum sembuh. Menurut kalian? Apakah aku berhak bersikap seperti ini?
Entahlah... Semua seperti abu-abu, aku masih ingin menyembuhkan lukaku.
Tapi... Lagi-lagi, ujian datang. Manusia laknat yang pernah menyiksaku, datang lagi. Dia adalah Rara. Perempuan jahat, dan sarkas. Aku juga sangat membencinya.
Dia menjadi sangat kepo, dan selalu mengintai. Rasanya ingin balas dendam, tapi kurasa itu tak perlu. Membalas kejahatan dengan kejahatan sama dengan sampah, itu kata kak Zada.
Aku masih dalam masa pemulihan. Tak boleh, banyak pikiran, dan harus selalu senang. Harapan untuk sembuh begitu besar. Aku ingin hidup normal, seperti manusia lain.
Tapi, semenjak Rara datang. Hati merasa cemas. Aku merasakan seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Beberapa hari ini aku insom, karena firasatku sangat buruk.
Entah, selanjutnya apa yang akan terjadi. Semoga Author gak iseng, dan bikin hidupku menderita lagi.
******
Di lain tempat.
Seorang perempuan terus berteriak frustasi. Di sana ada pria yang sedang duduk, dan memerhatikan.
"Sialan! Gara-gara manusia itu hidupku hancur! Nama baikku tercemar, dia merampas,dan menghancurkan semuannya! Termasuk lelaki incaranku," kata perempuan itu.
Lelaki itu tersenyum kecut. Merasa aneh dengan gadis yang sedang berdiri itu.
"Semua karena ulah kamu, Ra. Kamu gak berhak nyalahin orang lain, atas kesalahanmu sendiri. Dia juga korban," kata lelaki itu.
"Aku gak peduli. Rasa benci masih ada di hati. Selagi bisa, aku akan membalasnya. Bahkam lebih parah dari sebelumnya."
"Kalo kamu mau bantu aku. Aku bakal kasih dua kali lipat. Kamu butuh uang, kan?"
Lelaki itu tersenyum kecut.
"Aku gak akan pernah mau terlibat dalam urusan dendam. Ingat! Karma itu nyata," ujar lelaki itu kemudian pergi.
"Lihat saja endingnya. Semakin hari, hidupmu akan semakin sulit. Kamu bakal minta bantuan ke aku," ujar Perempuan itu.
*****
Hari ini adalah hari minggu.
Zilya, dan Zada sibuk menghabiskan waktunya dengan menonton drakor.
Ralat.
Hanya Zilya, Zada hanya sekadar menemani saja. Lelaki itu sibuk bermain game, sambil tertidur di paha Zilya.
"Hiks... Kasian banget," ujar Zilya, gadis itu menangis melihat adegan yang sedih.
"Alah cengeng." kebiasaan Zada menganggu Zilya kumat lagi, dan itu membuat Zilya kesal.
"Apa sih, kak? Sedih banget tau gak. Kasihan itu suaminya direbut pelakor. Hiks... Sampe mau bunuh diri."
"Ya Ampun, Zil. Cuma filem."
"Iya... Tapi tetap aja kasihan. Kakak, mah. Gak punya hati banget." Zilya masih nyerocos greget karena melihat film itu.
Zada terkikik, rasanya senang sekali melihat Zilya merajuk seperti itu. Zada duduk, lelaki itu menangkup wajah Zilya. Diusap air mata gadis itu. Kemudian, mengelap ingus.
Zilya tertegun, perlakuan Zada selalu saja romantis. Selalu berhasil membuat jantungnya berdegub, jantungnya selalu berpacu cepat, sampai ia susah napas.
"Udah, jangan sedih. Habis ini kita beli es krim, lalu ke toko buku," kata Zada.
Mata Zilya membulat sempurna. Sepontan memeluk Zada.
"Makasih, kak."
Zada tersenyum, dan mengelus puncak kepala Zilya.
"Zil, aku mau ngomong serius," kata Zada. Alhasil membuat Zilya melepas pelukannya.
Kini Zilya menatap Zada bingung. Raut wajah lelaki itu terlihat sangat gerogi.
Lelaki itu menggaruk tengkuknya salah tingkah. Bingung, harus memulai dari mana.
"A... Aku."
Zilya menunggu.
Zada semakin gerogi.
"Aku... Mau tunangan."
Zilya sangat terkejut. Apakah Zada sudah memiliki pacar? Dirinya terlupakan begitu saja, dan hanya dianggap sebagai adik saja.
"Sama siapa? Kakak kan masih sekolah. Terus, nanti kalo kakak tunangan. Aku sama siapa, kak? Pasti kakak bakal sibuk sama cewek kakak itu." Mata Zilya berkaca-kaca, tak rela Kak Zadanya meninggalkannya secepat itu. Zilya merasa kebersamaanya belum cukup.
Sedangkan Zada menatap Zilya tak percaya.
"Aku belum selesai ngomong, Zil," ujar Zada gemas.
Tapi, Zilya keburu nangis, dan menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Zada semakin bingung. Kemudian mendekap tubuh gadis itu.
"Jangan peluk-peluk aku lagi. Kakak udah mau jadi milik orang! Udah sana pergi."
"Zil, dengerin aku!" Zada menatap Zilya dengan serius.
"Aku memang mau tunangan. Bukan sama cewek lain. Tapi, sama kamu," kata Zada mantap.
Hati Zilya bergetar hebat., jantungnya berdegub tak karuan, bahkan sampai keluar keringat dingin. Apakah telinganya tak salah dengar? Ini seperti mimpi, Zada terlalu cepat mengungkapkan perasaanya.
Zilya melepas pelukan Zada, kemudian menatap lelaki itu lekat-lekat.
"Sama aku?" Zilya menunjuk dirinya sendiri. Zada mengangguk.
"I...iya. Kamu mau?" tanya Zada hati-hati.
Zilya tersipu malu, tapi hatinya juga bimbang.
"Aku cinta kamu, aku sayang kamu, Zil. Ayah, dan Bunda juga sudah setuju mengenai hal ini. Apakah kamu bersedia menjadi tunangan aku?"
"Secepat ini?" tanya Zilya tak percaya.
"Lebih cepat lebih baik," jawab Zada.
Zilya nampak mempertimbangkan. Ia sayang Zada, tapi belum tentu ia cinta.
Tapi, dia juga tak bisa jauh dari Zada. Ia juga akan merasa cemburu ketika Zada dekat dengan perempuan lain.
Zilya belum yakin, tapi apa salahnya jika ia menerima. Siapa tahu, Zada memang jodohnya.
"A...aku mau, kak," ujar Zilya.
Zada tersenyum haru, kemudian memeluk gadis itu.
"Makasih ya, cantik," kata Zada. Zilya mengangguk, dan membalas pelukan Zada.
*****