Semua murid XI IPA 1 sedang berada di lapangan basket. Karena, hari ini adalah jadwal Olahraga. Zilya merasa tak bersemangat kali ini. Gadis itu merasa sangat pusing. Padahal, tadi pagi ia merasa baik-baik saja. Tapi kenapa, sekarang menjadi seperti ini. Tangannya mulai tak enak jika digerakkan, dan terlihat memar.
Padahal, kemarin dia sudah melakukan meditasi, dan memenuhi jadwal untuk suntik Botox. Sekuat tenanga, gadis itu berusaha untuk tidak cemas. Karena, kecemasan sangat mempengaruhi kondisinya saat ini.
Zilya hanya duduk, sambil mengapit tangan kirinya. Padahal, teman-temannya sudah mulai melakukan pemanasan.
David, memandang Zilya yang terlihat lemas. Wajah gadis itu terlihat memerah. Akhirnya, lelaki itu memutuskan untuk menghampiri Zilya.
"Kamu kenapa?" tanya David.
Zilya menggeleng lemah. Entah kenapa? Tiba-tiba, napasnya tercekat. Dadanya terasa sakit. Untuk mengeluarkan sepatah katapun tak mampu. Ia benar-benar ingin ambruk sekarang juga.
"Kamu kenapa, Zil?" tanya David mulai panik, ketika tangan kiri Zilya menarik baju David.
"To...tolong," kata Zilya sangat pelan. Tapi, masih bisa terdengar oleh David.
Tingkah David memancing keributan.
Hingga membuat para murid menoleh ke arah Zilya, dan, David.
Vita, dan Niken langsung berlari menghampiri Zilya yang sudah lunglai di dekapan David.
Rara melihat kejadian itu, gadis itu tersenyum picik. Rencananya kali ini berhasil.
*****
"Harusnya, tidak akan terjadi hal seperti ini. Karena, Zilya tak mengidap Neurodegeneratif. Tapi kenapa? Bisa terjadi. Saya yakin, adalah pemicu lain," kata Dokter Andi pada Zada.
Zada sampai di sekolah Zilya, ketika Niken menghubungi dirinya. Akhirnya, Zilya langsung dibawa ke rumah sakit.
"Saya juga bingung, dok. Padahal, tapi pagi dia baik-baik aja," kata Zada.
"Nanti, kita tunggu Hasil Labnya saja."
"Saya sangat panik, dok. Takut, jika penyakitnya tidak bisa disembuhkan," ujar Zada.
Kening Dokter Andi berkerut mendengar penyataan Zada.
"Penyakit Zilya, hanya bisa dicegah. Bukan disembuhkan, Zad. Saya harap kamu ingat perkataan saya waktu pertama kali. Ini adalah penyakit langka. Tapi, setidaknya kita berusaha semoga ada keajaiban," kata Dokter Andi mengingatkan Zada.
Zilya mendengar percakapan antara dua lelaki itu. Gadis itu menutup mulutnya. Air matanya menetes. Tak percaya dengan takdir hidupnya. Akankah, selamanya ia bersama dengan penyakit sialan ini? Zilya benar-benar sangat sedih.
Semangat, dan harapannya seakan lenyap begitu saja. Ingin rasanya menjerit, namun ia urungkan. Takut, jika menganggu ketenangan. Ia sadar, jika ia sudah banyak merepotkan banyak orang. Termasuk Zada.
Beberapa menit kemudian.
Suster datang dengan membawa berkas. Berkas itu di berikan ke Dokter Andi.
Dokter Andi membuka hasil lab. Beberapa detik kemudian, Dokter muda itu terkejut.
"Astaga, Pantas saja."
Zada penasaran.
"Kenapa, dok?"
"Apa tadi Zilya sempat meminum obat sakit kepala, atau vitamin?" tanya Dokter Andi tanpa menjawab pertanyaan Zada.
"Sesuai anjuran Anda, saya tidak pernah memberikan obat, vitamin, atau semacamnya. Emang ada apa, Dok?"
Dokter Andi menjelaskan, bahwa Botox diturunkan dari substansi sangat beracun yang diberi nama botulinumtoxin. Botoxini mulai disuntikkan dalam dosis kecil ke otot di sekitar mata di tahun 1980-an untuk mengatasi mata yang berkedip terus menerus tak terkontrol.
Botox ini mau tidak mau harus disuntikkan ke otot yang mengatur gerakan tangan. Penyuntik botox ini pun tidak boleh sembarangan, harus Dokter yang ahli dan berpengalaman. Jika salah suntik, maka risikonya sangat tinggi.
“Karena suntikannya mengenai pembuluh darah halus. Efek samping sementara suntik botox adalah memar-memar kemerahan,dan... untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sesudah disuntik botox, kami sangat menganjurkan untuk berhenti minum obat atau vitamin yang mengencerkan darah. Misalnya aspirin dan vitamin E. Obat pengencer darah ini bisa menyebabkan pemulihan pembuluh darah yang memar bisa jadi lama," jelas Dokter Andi.
"Botox yang sudah disuntikkan ke tubuh itu membutuhkan fiksasi untuk tetap berada di tempat yang nyaman di tubuh. Karena, Botox sedang mencari posisi untuk memberi hasil yang bagus," lanjutnya.
"Tapi... Kapan Zilya melakukan pantangan itu? Dan... Kenapa ia merasa sesak napas, dan pusing?" tanya Zada.
"Mungkin, karena ada faktor lain. Kecapekan, atau memang kondisi fisiknya sedang tidak baik. Atau... Tubuhnya tidak kuat menerima reaksi dari pemulihan pembulu darah itu."
Di lain sisi. Zilya kembali terkejut, ia sama sekali tak meminum, atau memakan apapun. Yang ia ingat, dirinya hanya meminum air putih yang ia bawa dari rumah.
Akhirnya, rasa penasaran menghantui Zilya, dan Zada. Sebenarnya, apa yang telah terjadi?
******
Di malam yang sunyi. Dua manusia sedang memandang sengit. Gadis dengan dres merah, membawa tas slempang itu menatap lelaki di depannya dengan tajam.
"Apa mau kamu?" tanya lelaki itu.
"Aku cuma mau bilang terimakasih. Karena, berkat kamu aku tahu kelemahan Zilya. Dan... Selanjutnya, aku mau kamu memberi hukuman untuk Zilya."
Lelaki itu menatap muak. Merasa tak punya harga diri.
"Hentikan semuanya, Ra. Aku sudah tak mau terlibat. Apalagi, Zilya itu tunangan ponakanku."
Lelaki itu adalah Xito Kepala Sekolah Zilya. Sekaligus Paman Zada. Terpaksa terlibat, karena memiliki hutang dengan Ayah Rara.
"Jika kamu tidak mau melanjutkan permainan ini. Ingat! Nasib keluargamu, ada di tanganku. Aibmu akan terbongkar, dan jabatamu sebagai Kepala Sekolah akan lengser," ancam Rara. Tapi... Xito tersenyum kecut, dan membuang muka.
"Saya TIDAK TAKUT. Kamu hanya anak kecil, yang sombong akan harta. Ambisimu sungguh tak masuk akal. Jiwamu pun dangkal. Saya tak takut, jika harus kehilangan semuanya. Saya siap," kata Xito kemudian meninggalkan Rara.
Yap... Rara adalah dalang di balik semua ini. Ia mendesak Xito, agar mau menceritakan apa saja tentang Zilya. Awalnya Xito tak mau, tapi Rara terus mendesak karena mengancam akan menuntut dirinya karena tak mampu membayar hutang yang menggunung itu.
Akhirnya, ia terpaksa menceritakan semuanya. Meskipun, rasa bersalah kerap menghantui dirinya. Karena, merasa telah berhianat ke dua kalinya dengan Zada.
Yang pertama, ketika Rara diterima di SMA Melati. Zada sangat kecewa, dan tak habis pikir, dan yang kedua saat dirinya dengan terpaksa membocorkan rahasia Zilya. Kali ini ia benar-benar sangat menyesal, dan merasa bersalah.
Xito pun bersedia untuk menerima semua hukuman yang akan ia terima.
Sedangkan... Rara menggeram marah. Ia benar-benar akan membuat Xito menyesal.
Tapi... Ia juga puas, karena berhasil menyakiti Zilya. Ia senang ketika melihat gadis itu kesakitan dan menderita.
Flashback on.
Ketika semua murid sedang ke toilet untuk menganti baju. Rara mulai beraksi. Gadis itu mengambil sesuatu dari saku celananya.
Rara mengambil tas Zilya, kemudian mengambil botol yang berisi air putih milik Zilya.
"Mampus kamu, Zil," katanya sambil memasukan bubuk putih yakni obat pereda nyeri kepala. Setelah dirasa cukup, Rara mengembalikan barang milik Zilya keposisi semula, dan gadis itu langsung melesat ke lapangan. Tanpa, sepengetahuan siapapun.
Flashbackoff.
*****