Zilya benar-benar sangat lemah. Tiga hari tidur di luar. Membuat kesehatannya down. Ketambah, dia tak diberi jatah makan. Orang tuanya benar-benar jahat. Untung, dia masih punya sedikit tabungan. Setidaknya ia bisa membeli sedikit makanan untuk menganjal perutnya.
Zilya menatap keluarganya. Hatinya terasa begitu nyeri. Ketika ia muncul, tak ada yang menyapa, dan menyuruh dirinya untuk gabung, dan sarapan bersama. Vanya merasa kasihan, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa.
"Zilya berangkat," katanya. Sambil mencium punggung kedua orang tuanya. Namun, tak ada satu kaya yang muncul dari mulut kedua orang tuanya.
"Hati-hati, kak," kata Vanya. Zilya mengangguk tersenyum.
Zada sudah ada di depan rumah Zilya. Karena, pemuda itu berjanji akan menjemputnya hari ini. Zilya tersenyum simpul. Berusaha agar terlihat baik-baik saja di depan Zada.
"Hay," sapa Zilya.
"Hay," balas Zada sambil tersenyum.
"Berangkat sekarang?"
"Tahun depan, kak. Ya sekarang dong." Zada tertawa melihat wajah menggemaskan Zilya.
Beberapa menit kemudian. Zilya, dan Zada telah sampai di sekolah. Zilya merasa risih, ketika banyak pasang mata yang memandangnya aneh.
"Kak, semua murid di sini kenapa, sih? Kenapa gitu banget ngeliatnya?"
"Ah... Mereka itu iri. Karena, kamu cantik."
Zilya tersenyum, mencoba untuk berpikir positif.
"Aku anter sampai kelas, ya?"
"Gak usah, kak. Nanti Rara liat. Ntar aku dimusuhin lagi."
"Ah... Ngapain sih takut sama cewek berandal kaya dia? Ayo!" Zada menarik tangan Zilya.
Kini mereka telah sampai di kelas Zilya. Kedua manusia itu melihat kelas Zilya yang nampak riuh.
Zilya, dan Zada mencoba untuk mencari tahu. Apa yang telah terjadi.
Dan... Ketika Zilya masuk. Gadis itu menatap papan tulis. Di mana proyektor menyala, dan menampakkan sebuah vidio. Zilya mendelik, dan menutup mulutnya tak percaya.
Zadapun begitu, ia melihat dari depan kelas, dan menyaksikan semuanya. Namun, laki-laki itu diam. Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Zada tahu, siapa yang melakukan ini semua.
"Zil... Kamu ngapain? Kekurangan makanan, ya. Sampe tanah comberan dimakan. Hahahah," kata salah satu murid di kelas Zilya.
Air mata Zilya menetes, gadis itu lunglai di atas lantai. Padangannya kosong. Penderitaanya belum usai, dan kini bertambah lagi. Sebenarnya, apa kesalahan yang ia lakukan? Kenapa masalah terus datang bertubi-tubi.
Rara menghampiri Zilya yang terduduk di lantai. Berjalan dengan sombong, dan penuh kemenangan.
"Gimana? Masih mau deketin kak Zada? Masih mau punya masalah sama aku?" tanya Rara sambil mencengkram dagu Zilya. Zilya menatap Rara benci.
"Kenapa kamu kaya gini ke aku?" tanya Zilya pelan. Ia benar-benar tak ada tenaga.
"Karena aku benci kamu! Semua orang benci kamu!"
Belum sempat Zilya menjawab. Rara menarik tas Zilya, hingga gadis itu ikut terseret.
Zilya mencoba melawan dengan tenaga yang tersisa. Perlawanan Zilya membuat Rara semakin geram.
Ia menyuruh Aurel, dan Vina untuk menahan Zilya. Semua teman di dalam kelas hanya diam melihat Zilya disiksa. Zilya mendapatkan kekerasan fisik lagi. Dijambak, di ampar, dan dipukul. Namun, mereka tak tahu, perlakuannya sudah Zada rekam.
Melihat Zilya yang sudah tak berdaya, akhirnya kini saatnya Zada beraksi. Lelaki itu masuk ke kelas. Dan, membanting meja. Hal itu membuat semua murid terlonjak kaget.
"Anjing kalian semua!" Zada mendorong tubuh Rara hingga terpental.
"Kak Zada," lirih Rara tak percaya. Ia seperti tertangkap basah. Rasa panik, dan gugup menyelimutinya. Begitu juga dengan murid di kelas Zilya.
Kini Zada memeluk Zilya yang terisak. Wajahnya lebam-lebam.
"Kalian manusia apa anjing? Di mana hati nurani kalian? Diam aja ketika melihat temen kalian di siksa?" Semua teman kelas Zilya menunduk.
"Dan kalian bertiga." Zada menunjuk Rara, Aurel, dan Vina.
"Kalian akan kena masalah. Karena, saya sudah merekam kejahatan yang kalian lakukan."
"Dan, untuk Rara. Jangan pernah sekalipun kamu sakiti Zilya lagi. Jangan pernah larang Zilya untuk dekat dengan saya. Asal kamu tahu, kamu bukan tipe saya banget. Sikap kamu MENJIJIKAN!" ucap Zada tegas.
Pemuda pergi dengan membopong tubuh Zilya. Zilya hanya pasrah, karena merasa lemas. Air mata tak henti membasahi pipi. Zada juga ingin menangis. Namun, ia tahan.
Zada tak habis pikir dengan sekolah ini. Bisa-bisanya ada murid yang dikucilkan sampai tak ada yang tahu. Benar-benar luar biasa.
Zada membaringkan tubuh Zilya di matras. Lelaki itu menutup pintu UKS, dan saat ini adalah saat yang tepat untuknya menangis.
Lelaki itu memeluk Zilya, dan menangis di pelukan Zilya.
"Mereka gak bisa giniin kamu," ujar Zada.
"Aku gak bisa apa-apa, kak," jawab Zilya pelan. Tangisnya semakin terisak, dan mereka menangis bersama. Zilya benar-benar rapuh. Tubuhnya sangat down. Lelah tubuh, hati, pikiran, dan jiwa.
‘Akhiri semuanya saja Tuhan. Aku sudah tidak kuat.’
*******