bagian 8

1078 Kata
"Haruskah aku menghilang. Agar mereka senang. Haruskah aku tiada, agar mereka bahagia. Jika boleh berkata, maka aku akan berkata. Bahwa, hidup ini tak adil. Kenapa begitu berat, menjalankan peran sebagai aku. Hidup ini sangat sulit. Mungkin, ini saatnya aku pergi. Meninggalkan semua. Melepas peran sebagai aku yang menderita."   Sepanjang hari, Zilya bersama Zada. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saat ini, Zada, dan Zilya berada di pantai. Semilir angin sangat menusuk permukaan kulit Zilya. Ia sangat takut untuk pulang. Karena, ia pasti tahu. Ayahnya akan marah, karena ia pulang terlambat. Zilya benar-benar tak tahu harus apa. Ia masih menangis dalam dekapan Zada.   "Sudah, Zil. Cukup. Air matamu berharga."   "Hati aku sakit banget, kak. Aku udah capek."   Zada mengelus rambut Zilya. Lelaki itu merasakan, suhu badan Zilya yang panas. Tapi, ia tak bisa berbuat banyak. Selain memberikan kenyamanan untuk Zilya.   "Aku juga ngerasain sakit, Zil. Udah, ya? Badan kamu capek. Ayo kita pulang."   "Aku takut. Takut, Papa marah. Aku lagi malas meladeni."   "Ada aku. Aku gak akan niggalin kamu, kalo kamu belum aman."   Akhirnya, Zilya pasrah, dan memberanikan diri untuk pulang. Tangisnya pun sudah agak reda.   Sesampainya di rumah.   Zilya berjalan mengendap-endap. Memastikan keadaan aman. Agar dirinya tak kena marah sang ayah.   "Bagus!"   Zilya terlonjak mendengar suara Papanya. Sekujur tubuhnya kaku. Keringat dingin bercucuran.   "Papa," lirih Zilya.   "MAU JADI APA KAMU?" bentak Papa membuat seisi rumah terbangun kaget. Zilyapun sama kagetnya.   Papa menyeret tubuh Zilya menuju kamar mandi. Kemudian mengerujuk tubuh gadis itu. Zilya menangis memohon ampun. Namun, Papa tak bergeming. Tetap melanjutkan aksinya.   "Papa cukup," ujar Zilya bibirnya sudah membiru.   Mama datang bersama Vanya.   "Cukup, pa. Bisa mati anakmu," kata Mama mencoba menghentikan Papa.   "Dia bukan anak saya."   "Stop, Pa!" bentak Mama.   Tapi Papa tak berhenti, terus menghakimi Zilya. Zilya sudah tak tahan. Sekuat tenaga ia berdiri.   "Stop, Pa," lirih Zilya dengan terisak.   "Zilya udah gak kuat. Zilya capek dikasarin terus. Zilya akan pergi dari rumah ini."   "Kalian gak usah khawatir. Zilya akan baik-baik saja. Terimakasih untuk semuanya."   "Zilya gak tahu, apa yang membuat kalian benci sama Zilya. Apa karena Zilya kurang? Berbeda dari yang lain? Kenapa? Kalian begitu jahat. Gak pernah suport sedikitpun. Sakit sendiri, berjuang sendiri. Gak ada tempat untuk Zilya bercerita tentang keluh kesah yang Zilya alami."   "Rumah bukan lagi tempat untuk berlindung. Keluarga bukan lagi teman hidup yang membangun, dan memberi bahagia. Kalian semua jahat."   Papa tersenyum kecut, sedangkan Mama hanya diam, dan Vanya menangis.   "Pergi! Dan jangan pernah kembali. Maka, hidup kami akan tenang," kata Papa.   "Iya. Zilya gak akan kembali, GAK AKAN PERNAH MUNCUL DI HADAPAN KALIAN. Jangan pernah cari Zilya. Zilya gak akan bawa apa-apa dari rumah ini. Ponsel yang Papa belikan, Zilya kembalikan," kata gadis itu.   Kemudian pergi meninggalkan keluarganya, dengan pakaian basah kuyup, wajah pucat, penampilan berantakan. Keluarga Zilya tak tahu, bahwa Zada mendengar semua cacian  yang mereka lakukan terhadap Zilya. Lagi-lagi Zada menangis. Seakan ikut merasakan kesakitan yang dialami Zilya.   Zilya menatap Zada dengan pandangan sayu. Matanya sudah memerah. Sedangkan Zada terkejut, melihat penampilan Zilya. Tapi, bukannya masuk ke mobil Zada, Zilya malah lari, meninggalkan Zada.   "Zil. Kamu mau ke mana?" teriak Zada.   Zilya tak peduli ketika Zada memanggilnya. Gadis itu menuju jalan raya, dan Zada mengejar menggunakan mobil.   Begitu terkejutnya Zada, ketika melihat gadis yang sedang berada di tengah jalan. Sambil merentangkan tangan, tangan kirinya bergerak tak menentu. Zada parkir di tepi jalan. Sambil teriak memanggil nama Zilya.   "Jangan nekat! Jangan bodoh!"   "Aku gak kuat kak, aku pingin mati."   Belum sempat Zada menjawab. Satu mobil menabrak tubuh Zilya. Membuat gadis itu terpental. Zada berteriak histeris, ia begitu panik.   Berlari menghampiri gadis yang terkapar lemas, hidungnya mengeluarkan darah.   "Aku, ca...capek, kak," lirih Zilya. Sekujur tubuhnya terasa sakit.   "Kamu harus bertahan, Zil. Kamu kuat," kata Zada air matanya bercucuran. Ia tak rela jika harus kehilangan Zilya.   "Makasih," ucap Zilya keduanya matanya tertutup.   Zada semakin histeris, tangisnya semakin menjadi.   “BANGUN!"   *****   Pagi hari, suasana rumah tampak beda. Papa merasa sangat nyaman tak ada Zilya. Anak pembawa sial, menurutnya.”   Vanya datang tergesa-gesa, sambil membawa ponsel. Ingin memperlihatkan kejadian yang menimpa Zilya. Vidio yang Rara unggah, begitu cepat menyebar di berbagai sosmed. Ada yang berkomentar negatif, ada juga yang merasa prihatin.   "Ini kak Zilya, kan?" tanya Vanya menunjukkan ponselnya ke Mama.    Mama melihat ada gadis yang terlihat lusuh, yang berada dicomberan. Yang ia yakini adalah Zilya. Hatinya merasa sakit, namun Mama masih bungkam.   "Coba lihat." Papa merebut ponsel Vanya.   "Iya benar, ini Zilya."   Tak ada raut iba di wajah Papa. Ia merasa biasa saja ketika putrinya mendapat perlakuan seperti itu.   Mama teringat, ketika kejadian beberapa waktu lalu. Ketika Rara datang, dan meminta ganti rugi karena Zilya memecah kaca mobilnya. Mama baru sadar, ternyata memang Zilya tak berulah. Zilya adalah korban.   Dan, waktu itu. Dia sama sekali tak membela Zilya. Malah ikut memarahi gadis itu. Mama meninggalkan ruang makan. Menuju ke kamarnya. Ia menangis, merasa bersalah.   Ia jadi khawatir dengan kondisi Zilya saat ini. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia sudah makan? Mama benar-benar menyesal.   Perkataan Zilya tadi malam, membuat hatinya bergetar, dan tertusuk. Ia merasa menjadi ibu yang hina. Tak, pernah ada ketika anaknya mengalami masa-masa sulit. Padahal, seharusnya ia memberi dukungan, dan bersikal lemah lembut. Namun, perlakuannya justru sebaliknya.   Ia juga sangat merasa bersalah, karena telah membiarkan Zilya tidur di luar. Yang ia yakini pasti tubuh putrinya terasa sakit. Pasti menggigil. Tapi, kenapa? Ia merasa begitu jahat. Tak pernah adil memperlakukan Zilya.   Ia teringat, ketika Zilya pernah bilang,"Zilyapingin disayang. Sama seperti mama menyayangi Vanya." Zilya sambil memeluk tubuh Mama dadi belakang.   Mama malah menjawab,"kamu sudah besar. Jangan manja. Adikmu masih kecil, dia butuh kasih sayang."   "Emang kalo Zilya udah gede, Zilya gak berhak dapat kasih sayang dari mama? Zilya kan juga anak mama."   Saat itu, Mama malah menyuruh Zilya keluar dari kamar.   Mengingat perlakuan buruknya, wanita parubaya itu menangis terisak. Meratapi kesalahanya. Pikiranya kalut, terus memikirkan Zilya anak sulungnya yang malang, yang ia benci.   Haruskah Mama mencari Zilya, dan meminta maaf?   Papa datang, duduk di samping Mama.   "Kenapa nangis? Kepikiran anak sialan itu?"   "Stop! Dia juga anakmu. Apa gak ada secuilpun rasa kasihan untuknya? Di mana hati nurani kamu?"   "Wah... Kenapa kamu sekarang jadi membela dia? Bukannya kamu juga sangat benci? Ada apa denganmu hari ini?"   "Tutup mulutmu! Meskipun aku salah, tapi kamu lebih bersalah. Kamu selalu menyakiti secara fisik."   "Halah. Kamu sama sepertiku. Sama-sama tak punya hati."   Akhirnya mereka terdiam. Tapi, Mama masih berurai air mata. Nasi sudah menjadi bubur, Mama tak tahu, di mana keberadaan sang anak. Yang ia yakini, pasti Zilya sangat membencinya saat ini.   *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN