Suara dobrakan pintu menggema dikelas XII IPA 1. Membuat semua murid terlonjak kaget. Zada berniat mendatangi Rara. Lelaki itu benar-benar benci, dan muak. Karena ulahnya, Zilya selalu mendapat tekanan. zada tak tega, jika ada seseorang yang mendapat perlakuan tak baik. Zada menatap Rara dengan tatapan tajam, alhasil membuat gadis itu ketakutan karenanya.
"Ikut saya!" Zada menarik lengan Rara. Ia berniat membawa Rara ke ruang guru.
"Apa-apaan ini, kak?" Rara menepis tangan Zada.
"Kasar banget sama cewek," lanjutnya.
"Cewek kaya kamu gak pantes diperlakukan lembut. dasar, manusia gak punya hati," kata Zada dengan kata-kata yang sangat menohok.
"Maksud Kakak apa, sih? aku gak paham. Emang aku melakukan kesalahan apa?"
Zada memandang Rara dengan raut benci. Bisa-bisanya gadis itu tak merasa bersalah setelah memperlakukan Zilya dengan kasar.
"Gak ngerasa bersalah? Setelah membuat seseorang depresi, dan bunuh diri."
Rara membulatkan matanya. Merasa terkejut dengan ucapan Zada.
"Memperlakukan layaknya binatang. Diludahi, dipukul, jambak, bahkan dipermalukan."
"Gara-gara kamu! Seseorang hampir merenggang nyawa," lanjutnya.
"Maksud kakak apa?"
"Masih tanya maksudnya apa? Atas semua yang sudah kamu lakukan terhadap Zilya. Tidak adakah sedikitpun rasa iba?"
Hati Rara goyah, rasa bersalah tetiba datang menyelimuti jiwanya.
"Kamu tahu? akibat perlakuan kamu, Zilya nekat bunuh diri, dan sekarang terbaring tak berdaya di rumah sakit," ujar Zada dengan nada marah.
"Zil--zilya di rumah sakit? A--apa dia baik-baik saja?" tanya Rara dengan bibir bergetar.
"Tidak ada yang baik-baik saja! Setelah apa yang sudah kamu perbuat terhadap Zilya, dan sekarang. Saatnya, kamu harus bertanggung jawab atas semua kesalahan yang kamu lakukan."
Zada menarik lengan Rara, gadis itu merasa sakit. Jantungnya berpacu tak karuan. Firasatnya kali ini sangat buruk. Mungkinkah akan ada sesuatu yang terjadi terhadap dirinya. apakah ia akan dihukum? dan dituntut untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya.
Lelaki itu membawa Rara ke ruang BK. Rara menunduk takut.
"Selamat siang, Bu. Maaf menganggu waktunya sebentar. Tapi, saya perlu bicara dengan ibu."
"Silahkan duduk," kata Bu Kristin guru BK.
Keluarlah cerita dari mulut Zada, yang Rara, dan teman-temannya menyiksa Zilya. Memukul, bahkan menendang. Zada juga menceritakan keadaan Zilya setelah mendapat perlakuan dari teman-temannya.
"Sekolah yang seharusnya menjadi rumah kedua. Tapi, menjadi neraka yang penuh siksa," kata Zada. Rara menggeleng, mencoba mengelak dan membela diri.
"Dia bohong. Saya tidak pernah melakukan hal sejahat itu."
"Sebentar bu, saya punya bukti." Zada mengambil ponsel di sakunya. Mencoba untuk memperlihatkan Vidio ketika Zilya menjadi bulan-bulanan Rara dan teman-temannya.
Bu Kristin menggelengkan kepala, melihat tingkah keji Rara.
"Itu bukan saya, bu." Rara masih saja membela diri.
"Saya gak bersalah," lanjutnya.
"Ini sudah ada buktinya, Ra. kamu gak bisa mengelak lagi," kata Bu Kristin tegas.
"Saya benar-benar tak percaya dengan kelakuan kamu. Apa motif kamu melakukan hal itu. Bagaimana jika kamu berada di posisi Zilya? Ingat, Rara! Kelakuan kamu bisa merusak nama sekolah," kata Bu Kristin lagi.
"Saya tidak bersalah, Bu." Rara masih saja membela diri.
"Sudah banyak buktinya. Jangan terus mengelak!" Bu Kristin memberikan Rara amplop. Yang isinya adalah surat pemanggilan orang tua.
Bu Kristin ingin menindak lanjuti kasus Zilya hingga tuntas. Bisa-bisanya, ia baru tahu tentang masalah ini. Begitu pintar, teman-teman Zilya menutupi aib kelasnya. Hingga membuat seseorang tertekan, dan tersiksa tanpa suara.
Rara keluar dari ruangan BK. Tapi, masih ada Zada di sana. Zada juga menceritakan tentang kehidupan Zilya yang merana. Ia juga menceritakan tentang keluarga Zilya yang selalu mencaci, dan memperlakukan Zilya dengan kasar.
"Zilya sakit, Bu. Karena itu, dia dijauhi teman-temannya. Bahkan, gak ada satupun yang mau berteman sama dia," kata Zada.
"Dia sakit apa?"
"Alien Hand Syndrome."
Zada bercerita lagi. Ketika Zilya harus memakai borgol ke sekolah. Karena, agar tangannya tak melukai orang lain. Bu Kristin tak percaya, hingga menutup mulutnya karena terkejut.
"Karena vidio itu, Zilya stres berat, dan mencoba bunuh diri. Sekarang dia koma. Keluarganya gak ada yang peduli satupun."
"Saya merasa iba dengan nasib Zilya. Mental dia benar-benar down. Bisa-bisanya pembulian seperti ini masih sering terjadi," kata Zada lagi.
"Ibu juga gak menyangka. Teman-teman kelas Zilya begitu kompak menutupi pembulian ini. Bahkan gak ada satu gurupun yang tahu akan masalah ini," kata Bu Kristin.
"Maka dari itu, Bu. Saya sangat meminta tolong, untuk menuntaskan khasus ini, dan tersangka harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Karena apa yang dilakukan mereka ke Zilya itu jahat," ujar Zada berapi-api.
"Meskipun saya bukan keluarganya, dan hanya sebatas teman. tapi saya merasa tak terima, karena keadilan harus didapatkan oleh siapapun," lanjutnya.
"Baiklah... Ibu akan mencoba menyelesaikan khasus ini. Keadilan harus Zilya dapatkan. Ibu akan mencoba untuk berbicara kepada kepala sekolah, hukuman apa yang pantas Rara, dan teman-temannya dapatkan."
*****
Alat penunjang kehidupan, masih melekat di tubuh gadis yang terbujur lemah itu. Sudah dua hari Zilya tak sadarkan diri. Bunda Zada masih setia menunggu Zilya. Sesekali mengusap air mata. Seakan ikut merasakan kesedihan yang dialami Zilya. Zada sudah banyak cerita tentang Zilya ke Bundanya. Hal itu, membuat hati Bunda terenyuh. Tega-teganya, ada orang tua yang memperlakukan anak nya sekejam itu.
Bunda menatap Zilya dengan tatapan prihatin.
"Bangun, nak. Kita kenalan. Kalo kamu bangun, bunda janji akan bahagiakan kamu, dan merubah hidup kamu," kata Bunda. Tapi sayangnya, hanya alat medis yang berbunyi, seakan menjawab perkataan Bunda.
"Anak cantik, kamu kuat. Bangun, ya. Kasihan Zada, beberapa hari ini gak bisa tidur, cuma karena menunggu kamu sadar." Bunda mengenggam tangan Zilya, seraya mencium punggung tangan gadis malang itu.
Tak butuh waktu lama Ayah, dan Zada datang.
"Bagaimana keadaan Zilya, bun? Apa ada perkembangan?" tanya Zada sambil menatap Zilya yang terbaring lemah.
"Belum, nak. Masih tetap seperti kemarin."
"Semoga ada keajaiban," timpal Ayah.
"Doakan Zilya, supaya dia cepat sadar," ujar Bunda.
"Aku selalu mendoakan dia," jawab Zada.
Keluarga Zada adalah keluarga yang baik, dan sangat berkecukupan, ya bisa dikatakan ... keluarga Zada adalah keturunan darah biru. Mereka berjanji, bersedia menampung Zilya di rumah mereka. Mereka juga berjanji, jika Zilya sadar akan membiayai terapi untuk gadis itu.
"Bagaimana jika keluarganya mencari?" tanya Ayah.
"Mereka sangat benci Zilya. Mereka tidak akan pernah mencari Zilya," jawab Zada.
"Malang sekali nasibnya."
"Oh iya, bagaimana penindak lanjutan kasus Zilya?" tanya Bunda.
"Guru BK, akan mencoba berbicara kepada kepala sekolah. Agar menuntaskan masalah ini."
"Syukurlah. Semoga hasilnya sesuai dengan yang kita inginkan."
Kini Bunda, dan Ayah pamit untuk pulang terlebih dulu. Kini giliran Zada untuk menjaga Zilya. Diam-diam, Zada adalah lelaki yang memiliki hati lembut dan perasa. Ia menitikkan air mata, melihat keadaan Zilya yang sekarang. Di lubuk hatinya, ia merindukan sosok Zilya yang semangat, dan ceria. Zada sangat berharap, semoga Zilya lekas sadar.
"Wakeup, Plis? Aku masih menunggu. Jika kamu bangun, aku berjanji akan memberikan kebahagiaan yang belum pernah kamu dapat. Hidupmu yang terluka, akan berubah menjadi canda, dan tawa. Cepatlah, lekas membaik," bisik Zada di telinga Zilya.
Bukannya bagun, Zilya malah kejang, dan itu membuat Zada panik.
"Zil, kamu kenapa?" Zada bingung, dan takut. Entah kenapa ketika panik semuanya terasa sulit. ingin memanggil Dokterpun rasanya kelu.
"D--dokter. tolong, teman saya kejang. tolong cepat ke mari," kata Zilya menelpon Dokter.
Beberapa detik kemudian, Dokter, dan dua suster datang.
"Tolong selamatkan teman saya, Dok."
"Saya periksa dulu, tolong anda keluar sebentar."
Dengan pasrah akhirnya Zada keluar, dengan perasaan cemas, gelisah, dan takut. ia berharap semoga Zilya baik-baik saja.
beberapa menit kemudian.
Dokter beserta suster keluar dari kamar pasien, Zada langsung menghampiri Dokter.
"Bagaimana keadaan Zilya, Dok?" tanya Zada.
"Gak ada yang perlu di khawatirkan, pasien baik-baik saja," kata Dokter.
Zada bernapas lega.
"Syukurlah, terimakasih, Dok," kata Zada.
****