bagian 10

1402 Kata
Suasana di ruang guru nampak menegangkan. Para guru sedang membahas tentang kasus yang telah menimpa Zilya. Bu Kristin menggigit jari, ketika kepala sekolah tidak menyetujui masukannya. Guru BK kelas 11 cantik itu ingin, Rara, dan teman-temannya mendapatkan hukuman yang seharusnya ia dapat.   "Kasus Zilya tidak bisa ditindak lanjuti. Kalian tahu sendiri, kan? Ayah  Rara adalah donatur terbesar di sekolah ini. Bagaimana jika dia mencabut semua bantuan yang telah di berikan?"   "Tidak bisa begitu, Bu. Kita harus tegas, melindungi siswa adalah tugas kita bersama," kata Pak Catur guru BK kelas 1.   "Iya, Benar sekali. Kita harus mendidik murid sebaik mungkin. Agar para murid memiliki moral yang baik," kata Bu Kristin.   "Tetap tidak bisa! Ayah Rara adalah penyumbang terbesar di sekolah ini. Jadi, kalian harus menerima keputusan saya!" Kepala Sekolah tetap teguh pada pendiriannya.   Semua Guru tertegun dengan bantahan Kepala Sekolah. Merasakan seperti ada yang tidak beres dengan masalah ini.  "Loh ... kenapa tidak bisa? lagi pula sumbang yang telah Ayah Rara beri sudah di deposito di bank? kalaupun ayah Rara meminta sumbangan itu kembali, ya kita balikan saja," kata Pak Catur. "Iya, benar. Saya setuju," timpal bu Kristin. "Gimana, Bu? apa usul saya masih berat untuk ibu?" tanya Pak Catur . "Jika khasus ini tidak diusut, maka lambat laun sekolah akan kena masalah besar," kata guru yang lainnya. brak kepala sekolah menggebrak meja, yang artinya ia tak setuju dengan usul bu Kristin, dan juga pak Catur. "Tak usah ikut campur masalah ini saya yang akan bertanggung jawab," ujar kepala sekolah, dan menyuruh semua guru yang ada di ruangan itu keluar. Akhirnya, kata-kata bu Kristin membuat para guru pasrah. Namun, ada seseorang yang menguping pembicaraan para Guru. Menurutnya, keputusan kepala sekolah sungguh tidak adil, dan bijak. Ia marah, rahangnya mengetat, kedua tangannya terkepal.   *****   Bell sekolah berbunyi, pertanda jam pelajaran telah usai. Zada bergegas membereskan buku, dan akan menuju ke ruang Kepala Sekolah. Sebisa mungkin, ia menahan amarah yang sejak pagi menggebu.   "Permisi, bu," sapa Zada sesopan mungkin.   Kepala Sekolah mempersilahkan Zada duduk, dan bertanya apa alasan lelaki itu datang ke ruangannya.   "Bagaimana perkembangan kasus Zilya, bu?" tanya Zada tothepoint.   Kepala sekolah nampak gelagapan.   "Ya seperti ini. Kasus Zilya adalah kasus sepele. Harusnya tak perlu dibesar-besarkan," jawab Kepala sekolah. Emosi Zada langsung tersulut. Bisa-bisanya kepala sekolah bilang, jika kasus Zilya adalah kasus sepele. Sesimpel itukah, hingga membuat korbannya menderita, dan depresi.   "Kasus sepele ibu bilang? Yang dilakukan Rara, dan teman-temannya itu melampaui batas wajar. Harusnya ibu bisa bertindak tegas!" Nada bicara Zada meninggi.   "Asal kamu tahu, Ayah Rara adalah penyumbang terbesar di sekolah ini. Jadi, kamu harus bersikap baik terhadap Rara," jawab Kepala sekolah.   Zada tersenyum kecut, tak percaya dengan jawaban kepala sekolahnya yang terkesan tak berbobot.   "Terus apa masalahnya? Semua harus diperlakukan adil dengan semestinya.  Kenapa ibu takut? Apa ada yang disembunyikan?"   "Jaga ucapan kamu, ya! Tolong hormati saya!"   "Menghormati kepala sekolah yang tak bisa adil dengan siswanya? Rasanya tidak perlu. Ayah saya adalah pengacara. Saya bisa mebawa kasus ini ke jalur hukum. Maka, sekolah ini benar-benar akan tercoreng. Karena bisu, ketika ada murid yang diperlakukan semena-mena."   Kepala sekolah tak bisa menjawab perkataan Zada. Seperti mati kutu, akhirnya mengusir Zada.   "Ingat ya, bu. Saya tidak main-main menyangkut masalah ini. Kalaupun saya dikeluarkan, saya tidak takut. Karena saya membela kebenaran," ujar Zada sebelum pergi.   Ia benar-benar muak. Kenapa memiliki kepala sekolah yang tidak sama sekali bertanggung jawab. Mungkin, ia harus melibatkan sang ayah untuk menuntaskan masalah ini.   *****   Di sudut ruangan yang kosong. Seorang gadis tengah terduduk di kursi roda, sambil memandang pemandangan rumah sakit dari jendela. Bunda terkejut, ketika ada gadis yang membelakangi dirinya. Sepertinya gadis itu tak menyadari kedatangan Bunda.   Bunda tersenyum haru, dan hendak menghampiri gadis itu.   "Kamu sudah sadar, nak?" Bunda menyentuh bahu Zilya. Gadis itu terkejut, kemudian menengok ke belakang. Menatap dengan tatapan bingung. Tak tahu, jika Bunda adalah ibu kandung Zada.   "Saya ibu Zada," ucap Bunda memperkenalkan diri.   Zilya tersenyum. Bibirnya masih pucat, kepalanya masih berdenyut.   "Tante yang bawa saya ke sini?" tanya Zilya.   "Bukan, tapi Zada."  "Harusnya kak Zada gak perlu bawa aku ke sini. Kenapa dia gak membiarkan aku mati saja," kata Zilya dengan senyum prihatin. Bunda berjongkok, mensejajarkan posisinya dengan Zilya. Sambil menggengam tangan gadis itu, bunda berkata,"Gak baik bilang begitu. Kesakitanmu yang sekarang, adalah bahagiamu di masa yang mendatang." "Enggak, Tante. Kata Papa, aku gak pantes buat bahagia. Anak pembawa sial ini akan selamanya sial, sampai kapanpun," jawab Zilya dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku sangat berharap, pada Mama, dan Papa. Aku ingin disayang seperti adikku. tapi nyatanya apa? cacian, dan hinaan yang aku dapat. menerimaku di meja makanpun sepertinya berat, mungkin mereka menganggap, jika aku ini adalah sesuatu yang menjijikan," lanjutnya. "Berharaplah pada Tuhan, maka kamu tidak akan kecewa," kata Bunda. "Percuma! Tuhan itu tidak pernah adil, atas aku, dan hidupku. Buktinya, kesialan selalu saja menghampiriku," jawab Zilya lagi, emosinya saat ini benar-benar tak bisa terkontrol. "Ssst! Jangan bicara seperti itu, kamu mau Tuhan marah?" Bunda berusaha menenangkan. "Semua yang terjadi, sudah kehendak Tuhan. Kita gak bisa melawannya. Kamu harus yakin, Tuhan punya rencana yang indah buat kamu nantinya," lanjutnya. Zilya tak bisa membendung air matanya, kemudian menangis sejadi-jadinya, bunda memeluk Zilya, dan mengelus bahu gadis itu. Setelah tenang, bunda melepaskan pelukannya, dan bertanya,"Baimana dengan tanganmu? Apa ada perubahan?" Zilya mengangguk, karena memang merasakan perubahan. Sejak ia bangun, tangannya tak berulah sama sekali.   "Iya, Tan. Tanganku seperti normal. Tak mengangguku hari ini."  Bunda bersyukur melihat keadaan Zilya, yang sudah siuman. Ia berniat menelpon Zada, pasti lelaki itu akan senang sekali. "Bunda telpon Zada dulu, ya," kata Bunda mengambil gawainya. "I--iya, Tante," jawab Zilya. "Jangan panggil tante. Panggil Bunda saja." Bunda mengelus kepala Zilya. "I... Iya, Bunda," kata Zilya. Ia gugup mendapat perlakuan lembut dari Bunda. Sedangkan, ia tak pernah mendapatkan perlakuan selembut ini dari sang ibu. "Zada sebentar lagi datang. Pasti dia akan senang, melihat keadaan kamu sekarang," ujar Bunda.   Bunda bercerita tentang Zada yang tak bisa tidur ketika menunggu Zilya. Bundapun bercerita, jika Zilya mengalami koma. Gadis itu terkejut, tak percaya.   "Selama itu Zilya pingsan?" tanya Zilya tak percaya.   "Iya, kami semua panik melihat kondisi kamu. Tapi, sekarang bunda tenang. Kamu baik-baik saja."   Begitu perhatian keluarga Zada terhadap Zilya. Hingga membuat gadis itu terharu. Jika dibandingkan dengan keluargannya, ia sama sekali tak pernah mendapatkan perlakuan selembut ini, yang ada hanyalah kata-kata kasar, dan sumpah serapah yang tak mengenakkan hati.   "Bunda, apa Zilya boleh peluk lagi?" tanya Zilya hati-hati.   "Dengan senang hati," jawab Bunda sambil merentangkan kedua tangannya. Seakan memberi akses Zilya agar mudah memeluknya.   Bunda membungkukan tubuhnya agar sejajar dengan Zilya.   Zilya memeluk Bunda. Air matanya meleleh. Ia begitu terharu, sekaligus sedih.   "Aku pengen nangis lagi," kata Zilya dengan nada serak. "Menangislah, jangan ditahan," ucap Bunda.   Akhirnya, tangis Zilya pecah. Terdengar sangat memilukan. Hingga Bunda ikut meneteskan air mata.   "Kenapa mereka jahat, bunda?" ucap Zilya di sela tangisanya.   "Gak pernah mikirin perasaan Zilya."   "Selalu siksa Zilya, hiks."   "Padahal, Zilya selalu berusaha jadi anak baik. Tapi, mereka gak menghargai Zilya."   "Ini semua gara-gara tangan sialan ini. Zilya benci, sangat benci. Hiks... Hiks." gadis itu meracau, membuat Bunda semakin tak tahan.   "Menangis, Nak. Hingga puas. Lepaskan semua bebanmu."   "Aku lelah, rasanya pingin udahan. Pingin kembali ke Tuhan." "Mati tidak akan menyelesaikan masalah, Nak." "Aku udah gak tahan," jawab Zilya. Wanita parubaya itu melepaskan pelukannya, dan menagkup wajah Zilya.   "Sudah lega? Sudah puas? Jika belum, lanjutkan." Zilya menggeleng.   "Mulai sekarang, kamu adalah anak Bunda. Putri Bunda, princess Bunda. Semua kesakitan kamu, akan berakhir sampai di sini. Kamu punya Bunda, dan juga Zada. Kami semua, akan mengganti kasih sayang yang belum pernah kamu dapatkan dari kedua orang tua kamu."   Zilya kembali menangis, dan memeluk Bunda. Entah sudah berapa kali mereka menangis, dan berpelukan. Mereka tak tahu, bahwa sejak tadi ada Zada yang melihat haru pemandangan ini. Antara senang, bahagia, dan sedih. Sedih, karena melihat Zilya menangis. Senang, karena melihat Zilya sekarang sudah sadar.   "Iya, benar kata Bunda. Kita akan ganti sayangnya. Dengan, sayang yang tulus. Kamu punya kita semua. Don'tworry."   Ucapan Zada membuat Zilya, dan Bunda menoleh. Dua perempuan itu tersenyum ketika melihat Zada yang berjalan ke arah mereka.   "Kak Zada," lirih Zilya tapi masih terdengar oleh Zada.   "Bahagia akan segera datang. Aku yang bertanggung jawab. Jika kamu sedih lagi, aku bersedia menerima hukumannya," kata Zada.   Zilya mencubit lengan Zada, sepontan membuat lelaki itu meringis, sedangkan Bunda tertawa. Melihat tingkah dua remaja itu.   "Lalu, sekarang. Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan kembali ke rumah?" tanya Zada kepada Zilya.   "Tidak! Aku ingin memulai hidup baru."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN