bagian 11

1003 Kata
Tok! tok! tok! Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian ayah, dan bunda yang sedang menonton TV. "Siapa, bun?" tanya Ayah. "Bunda juga gak tahu. Sebentar bunda buka dulu," kata bunda kemudian bergegas membuka pintu. cklek. Bunda mengreyit, ketika melihat kehadiran sepasangan suami istri, yang ternyata adalah Papa, dan Mama Zilya. "Mohon maaf, bapak, dan ibu cari siapa?" tanya Bunda sopan. "Saya ke sini ingin menjemput Zilya," jawab Papa to the point. "Zilya? memangnya kalian ini siapa?" tanya Bunda heran. "Kami orang tuanya," jawab Mama. Bunda terkejut, untuk apa Ke dua orang tua Zilya datang? "Mana Zilya?" tanya Papa membentak. Ayah yang mendengar kegaduhan itu langsung keluar. "Ada apa ini?" tanya Ayah penasaran. "Mereka ini orang tua Zilya, Yah. mereka mau ngambil Zilya," kata Bunda menjelaskan, tapi dengan berbisik. ayah tersenyum kecut, masih punya nyali mereka menjemput Zilya. "Setelah apa yang kalian lakukan, kalian tak malu menjemput Zilya?" tanya Ayah mengejek. Papa Zilya emosi, dan mencengkram baju Ayah. "Jangan ikut campur masalah keluarga saya! sekarang di mana kalian menyembunyikan Zilya?" "Orang tua gak tahu malu, setelah membuat anaknya depresi, malah mencari. miris sekali," ujar Ayah mengejek lagi. "Kalau kalian ingin tahu, sekarang Zilya berada di rumah sakit. menurut saya, jangan ganggu dia dulu, mental dia sekarang sedang sangat down," kata Bunda.  "Rumah sakit mana?" tanya Mama terlihat jelas raut wajahnya khawatir. "Mutiara Bunda," jawab Bunda. tanpa berterimakasih, akhirnya dua pasangan suami istri itu pergi. ayah, dan bunda geleng kepala, merasa heran dengan tingkah orang tua Zilya yang sangat keterlaluan. "Kira-kira mereka tahu dari siapa?" tanya ayah. "Gak tahu juga, paling mereka mencari info tentang Zilya di sekolah." ***** pagi harinya. Ayah sedang berdebat dengan kepala sekolah. Ia benar-benar muak, dengan kebijakan yang diberikan kepala sekolah, menyangkut masalah Zilya. Kini, ada bu Kristin, Rara, dan juga ayahnya serta teman-teman yang ikut membuli Zilya. "Saya mau, kasus ini disikapi dengan seadil-adilnya. Saya sebagai wali Zilya, merasa tidak terima, atas apa yang dilakukan saudara Rara terhadap Zilya." "Saya setuju dengan pendapat Ayah Zada. Kasus Zilya tak bisa dianggap enteng. Kasus ini sudah termasuk dalam bullying, sekaligus penganiayaan, dan pencemaran nama baik," kata Bu Kristin. "Tidak boleh begitu, Bu. Saya donatur terbesar di sekolah ini. Mana bisa, anda menjatuhkan hukuman untuk anak saya?" Ayah Rara mengelak. "Lagi pula, anda ini siapa? ayah kandung Zilya saja bukan, kenapa ikut campur?" lanjutnya. "Saya memang bukan ayah Zilya, tapi saya akan membela Zilya mati-matian," jawab Ayah. "Semua harus dilakukan dengan adil. Saya bisa saja menutup sekolah ini, dan menuntut putri bapak." Nada bicara Ayah mulai meninggi. Membuat semua terdiam, kepala sekolahpun sejak tadi bungkam, belum mengeluarkan suara. "Jika anda berani menuntut anak saya. Saya akan mencabut semua fasilitas yang sudah saya sumbangkan di tempat ini." "Saya tidak peduli! Intinya, saya ingin kasus ini ditindaki dengan adil, dan tanggung jawab. Lagipula, setelah ini saya akan memindahkan Zilya, ke sekolah yang lebih layak. Jika kepala sekolah masih bungkam. Terpaksa, saya akan menutup sekolah ini, dan menuntut saudara Rara, dan akan meliput ke media, kalau sekolah ini bukan sekolah yang baik, moral siswa di sekolah ini sangat tidak pantas ditiru. Kepala sekolahnya pun tak bisa menjadi contoh yang baik untuk para warga sekolah. siap-siap ya bu, anda akan turun jabatan, dan di pecat," ujar Ayah, kemudian pergi meninggalkan ruangan itu. Diikuti bu Kristin, yang berusaha mengejar Ayah. "Saya sungguh tak habis pikir dengan kepala sekolah. Apakah otaknya berjalan? Kenapa dia sangat bodoh menyikapi kasus ini? Ah... Mungkin, ada sesuatu yang ia sembunyikan," kata Ayah pada bu Kristin. Guru cantik itupun sependapat dengan Ayah Zada. "Maaf, bu. Sepertinya, saya benar-benar akan memindahkan Zilya. Dan, akan segera mengirimkan surat pengunduran diri," kata Ayah sebelum pergi meninggalkan sekolah itu. Di lain sisi. Zada, dan Zilya tengah melakukan vidio call dengan Bunda. "Gimana keadaan kamu, Nak?" tanya Bunda ke Zilya. "Aku baik-baik aja, bun. karena ada kak Zada yang jagain aku," jawab Zilya. Di sebrang sana, Bunda terlihat lega. namun, ekspreksinya berubah seketika, dan itu membuat Zada, dan Zilya bingung. "Ada apa, Bun?" tanya Zada. "Tadi malam, orang tua kamu ke sini, Zil," jawab Bunda. Zada, dan Zilya terkejut. "Mau apa mereka?" tanya Zilya emosi mulai menguasai dirinya, gadis itu teringat rasa sakit yang telah kedua orang tuanya berikan. di lain sisi, Zada berusaha menenangkan Zilya, dengan mengelus pundaknya. "Dia ingin jemput kamu, Zil," kata Bunda menjelaskan. "Terus bunda bilang apa?" tanya Zilya. "Bunda bilang kalau aku ada di sini?" lanjutnya. "Iya, karena papa kamu mau mukul Ayah, bunda jadi takut. tapi ... kamu tenang aja, semua akan baik-baik saja," ujar Bunda. Zilya terduduk lemas, dan tak lagi memperlihatkan wajahnya di depan kamera, akhirnya di ambil alih oleh Zada. "Udah dulu ya, bun. nanti Zada telpon lagi," kata Zada, akhirnya memutus sambungan telepon itu. Zada melihat Zilya yang ketakutan, dan memeluk kakinya. Zada tersenyum, dengan lembut ia berkata,"semua akan baik-baik saja. ada aku yang akan selalu menjaga kamu." "Ta--tapi, gimana kalau mereka menyakiti aku lagi?" tanya Zilya dengan nada bergetar, matanya sudah berkaca-kaca. Zada menarik Zilya ke dalam pelukannya, seolah memberikan ketenangan untuk gadis itu, dan jujur ... Zilyapun merasa nyaman. "Aku takut, kak. mereka mau apa sebenarnya? mau bikin aku sakit lagi? mau bikin aku depresi? atau mati muda? jawab aku!" Zilya mulai kesetanan. ia benar-benar ketakutan saat ini. mentalnya masih down, dan belum bisa mengontrol emosionalnya. "Kamu yang tenang, semua akan baik-baik saja. kamu jangan kaya gini, aku mohon. jaga emosi kamu ya, demi kesehatan kamu," ujar Zilya lembut, sambil mengelus rambut Zilya. "Bagaimana aku bisa tenang? mereka mau ngambil aku. aku gak mau." Zilya menjerit histeris, diiringi dengan tangis yang memilukan, dan dalam waktu bersamaaan, penyakitnya kambuh. tangan kiri Zilya menarik infus, darah muncrat mengenai baju Zilya. untuk kali ini, Zada tak bisa mengontrol Zilya. alhasil, Zada mengundang Dokter untuk menangani Zilya. Dokter datang berusaha untuk menenangkan Zilya, namun Zilya menolak untuk di sentuh. Zada ikut membantu Dokter untuk menangkap Zilya. Zilya di tidurkan, dan di suntikkan obat penenang. Zada tak kuasa menahan tangis, depresi membuat segalanya berubah, termasuk keceriaan Zilya yang hilang begitu saja. Zada berjanji, akan selalu menjaga, dan membahagiakan Zilya sampai kapanpun. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN