Zilya sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Satu minggu menginap di rumah sakit membuatnya bosan dan jenuh. Zilya cukup bahagia, ketika dirinya sakit, masih ada yang mau merawatnya. Ia merasa sangat berterima kasih kepada Zada, dan Keluarganya. Hanya keluarga Zada lah yang mau peduli tentang hidupnya.
Zilya sama sekali tidak peduli dengan keluarganya. Toh, dia tak salah. Merekalah yang mengusir dirinya. Hatinya terasa nyeri, ketika mengingat hal itu. Zilya berusaha sekuat mungkin untuk melupakan keluarganya. Ia benci, dan sangat dendam. bahkkan, ketika keluarganya datang untuk menjemput ia tak peduli sama sekali. ia tak mau, jika harus kembali ke rumah yang menurutnya neraka itu. ia sudah muak, sangat muak.
Zilya sudah terbiasa hidup tanpa kedua orang tuanya . Dia cukup menderita dengan apa yang telah dialami. Sekuat-kuatnya ia bertahan, maka cepat atau lambat, ia juga akan berada di titik terlemah dan menyerah. Seperti saat ini, ia benar-benar menyerah, dan tak peduli dengan kedua orang tuanya.
Saat ini Zilya, dan Zada sedang duduk di bawah pohon, yang berdekatan dengan rumah Zada. Zilya yang manja, ia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Zada. Zada membelai rambut Zilya dengan sayang, membuat gadis itu menikmati sentuhan yang diberikan oleh Zada.
"Ngomong-ngomong, kakak ganteng juga, ya?" ujar Zilya memecahkan keheningan. Zada salah tingkah mendengar ucapan Zilya.
"Em... Jadi, kamu baru nyadar? Aku emang ganteng dari lahir, hahaha." Zilya ikut tertawa. Kemudian mencubit hidung Zada.
"Sekarang udah bisa ketawa lagi, Hem?" Zada menggoda Zilya.
"Iya, semua berkat kakak," jawab Zilya dengan penuh rasa syukur. Zada juga merasa senang, karena Zilya sudah bisa tersenyum kembali, semoga mulai hari ini, dan seterusnya. senyum itu selalu nampak di wajah cantik Zilya, dan Zada berjanji akan menjadi seseorang yang selalu menciptakan senyuman itu untuk Zilya.
"Makasih, ya kak? Udah mau baik sama aku. Sampe sejauh ini," ucap Zilya tulus.
"Aku senang, kalo kamu senang," jawab Zada tulus.
"Kenapa kakak baik sama aku?"
"Kejadian saat itu, membuat aku takut. Aku gak mau, kejadian yang menimpa sepupuku, juga menimpa kamu. Udah, ya? Kamu jangan tanya kaya gitu terus. Intinya, aku pingin kamu bahagia." Zilya tersenyum haru. Zada benar-benar lelaki baik.
"Kalau nanti aku sayang kaka boleh?" tanya Zilya iseng-iseng. Zada terkekeh, dan merasa gemas dengan gadis itu.
"Hem ... boleh gak ya?" Zada pura-pura berpikir.
"Gak jadi, deh. kakak kebanyakan mikir."
"Hahaha ... ngambek."
"enggak, sih. biasa aja, aku gak ngambek," ujar Zilya.
"Itu kelihatan mukanya cemberut." Zilya menatap Zada dengan serius, dan itu membuat Zada diam seketika.
"Aku mau bilang sesuatu. tolong jangan dipotong! Aku berpikir, bahwa hidupku akan selamanya di bawah. Tapi, berkatmu. Pikiranku berubah. Yang tadinya tak percaya bahagia ada. Tapi pembuktianmu, membuatku tak mampu berkata-kata. Berkatmu, hidupku sempurna, dan luar biasa, makasih ya kak, udah mau jadi pelangi di hidupku," ujar Zilya.
"Cie... Puitis ya sekarang." Zilya mencubit hidung Zada lagi. Ia merasa gemas dengan lelaki satu ini.
"Jangan lupa! Besok jadwal terapi kamu, dengan Dokter Andi." Zada memperingatkan Zilya. Zilya mengacungkan jempol semangat, seraya berkata,"Ashiap, bosku."
"Kak," panggil Zilya.
"Kenapa?"
"Kalau mama, dan papa aku datang lagi gimana? aku gak mau liat mereka, aku gak sanggup," kata Zilya.
"Kamu tenang aja. mereka gak akan bawa kamu ke mana-mana," jawab Zada.
"Ta--tapi aku gak merepotkan keluarga kakak, kan?" Zilya mulai tak enak hati karena sudah terlalu sering merepotkan Zada.
"Sama sekali gak merepotkan kok, cantik," jawab Zada. Zilya tersenyum penuh arti, dan sangat Berterimakasih dengan Zada.
*****
Malam hari yang penuh keceriaan. Zilya belum pernah merasa sesenang ini. Tangannya mulai membaik, dan ia sudah merasa hidup normal. Ia berharap, perlahan penyakitnya bisa sembuh. ia sangat bersyukur, di terima oleh keluarga Zada yang super baik, dan perhatian. meskipun bukan anak kandung, tapi bunda dan ayah menyayangi Zilya seperti anak sendiri.
Zada, dan Zilya sedang saling berebut lauk. Hal itu membuat Ayah, dan Bunda tertawa melihat tingkah dua remaja itu.
"Kak, aku duluan."
"Gak bisa! Aku dulu."
"Kakak harus ngalah sama cewek."
"Hilih... Gak mau, kali ini cewek yang harus ngalah sama cowok."
"Bunda, lihat kak Zada," adu Zilya dengan raut wajah cemberut. Akhirnya, terpaksa membuat Zada mengalah. Pemuda itu mengusap kepala Zilya.
"Ya udah, iya. mana bisa sih aku, kalau gak ngalah sama kamu," ujar Zada.
"Padahal aku cuma akting, loh. Hahaha," Zilya kembali meledek Zada.
"Hih ... dasar tukang prank." Zada gemas dengan Zilya.
"Ya udah ayo makan. keburu dingin lauknya," kata Ayah mengingatkan.
Beberapa menit kemudian. Mereka telah selesai makan malam.
Mungkin, ini adalah saat yang tepat untuk membahas soal Zilya. itu menurut Ayah.
"Nak, kamu masih ingin sekolah?" tanya Ayah pada Zilya. Gadis itu mengerjap gugup. Tentu saja ia masih ingin bersekolah, tapi rasa trauma masih melekat pada dirinya.
"Ma... Masih, Yah," jawab Zilya ragu.
"Minggu depan, kamu akan bersekolah di sekolah baru, dan memulai hidup baru." Ayah mulai memberi tahu Zilya.
"Se... Serius, yah? Ta... Tapi, Zilya takut." Zilya benar-benar trauma saat ini, kejadian lalu sewaktu di sekolahnya dulu benar-benar menyisakkan kenangan yang kurang mengenakan. menurut Zilya, keputusan ayah saat ini terlalu cepat, karena ... Zilya masih belum bisa menata hati untuk beradaptasi dengan orang baru lagi. harus melakukan penyesuaian yang agak lama, agar bisa menyatu dengan lingkungan, ia juga takut, jika nanti sekolah barunya sama dengan sekolah lamanya.
"Di sekolah mu yang baru, moral siswanya tidak seperti di sekolahmu dulu. Mereka semua ramah," ujar Ayah, tapi Zilya belum yakin. Namun ... bagaimanapun ia juga harus tetap sekolah, untuk menata masa depannya kelak.
"Betul, nak. Kamu jangan takut ya. Lupakan masalalu itu, meskipun sulit," kata Bunda menambahi.
Zada mengenggam tangan Zilya. Berusaha meyakinkan gadis itu.
"Semua akan baik-baik saja," kata Zada, Zilya mengangguk.
"Semoga saja," ujar Zilya.
"Kamu harus yakin, buang rasa trauma itu, ingat! ada aku, ayah, dan bunda yang selalu dukung kamu, selalu ada di belakang kamu. dont worry babby," kata Zada. Bunda mengangguk, dan memeluk Zilya, seolah meyakinkan gadis itu.
"Kamu gadis yang hebat, kamu gadis yang kuat, kamu pasti bisa melewati semua ini," kata Bunda. Zilya sangat terharu, baru kali ini ia diperlakukan layaknya keluarga. padahal di keluarganya sendiri, ia selalu di asingkan, dan selalu di beda-bedakan dengan sang adik.berbeda dengan keluarga Zada yang senantiasa selalu mensuportnya, dan menenangkan.
Akhirnya, aku memutuskan untuk memulai dari nol. Memulai hidup baru, dan mencoba untuk melupakan masalalu.
****