"Bagaimanapun caranya, Zilya harus sembuh, Dok," kata Zada kepada dokter Andi. ia sangat berharap, agar gadis yang ia jaga selama ini sembuh.
Dokter Andi menjelaskan, bahwa penyakit langka yang dialami Zilya Kemungkinan sembuh hanya 20% saja.
Dilansir dari Health Line, hingga saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan sindrom tangan Alien. Namun kondisi ini bisa ditangani menggunakan terapi untuk mengontrol otot. Misalnya botox dan benzodiazepine. Cara tersebut terbukti berhasil meredakan gejala pada sebagian kasus.
Penyakit ini dapat terjadi di bagian tubuh mana pun secara tiba-tiba. Biasanya akan terlihat lebih parah ketika penderita sedang tertekan dan membaik setelah stres mereda.
Zada mendesah lemah, ia berharap ada keajaiban agar Zilya bisa sembuh.
"Apa benar-benar gak ada cara lain, Dok?" tanya Zada.
"Seperti yang pernah saya bilang kepada Ayah dan Bundamu. Kita hanya bisa berusaha, selebihnya kita serahkan kepada Tuhan," jawab Dokter Andi.
"Selain terapi, sebenarnya ada beberapa jenis obat yang digunakan untuk mengatasi penyakit Zilya, yaitu beta blocker, yaitu obat yang berfungsi melebarkan pembuluh darah, obat penenang, atau obat anti kejang. Atau, kita bisa melakukan penyuntikan Botulinumtoxin, atau botox. Suntikan ini akan mengurangi intensitas yang sering terjadi," jelas dokter Andi panjang lebar.
Zada sangat berharap, akan ada keajaiban untuk Zilya. Ia benar-benar ingin yang terbaik untuk gadis itu. Kini, Zada memanggil Zilya yang berada di ruang tunggu. Ia menyuruh agar gadis itu masuk ke ruangan dokter Andi, untuk menjalankan terapi.
Dokter Andi menyarakan Zilya, agar melakukan Meditasi. Dokter Andipun mengatakan bahwa meditasi secara teratur dapat mengubah jalur saraf otot. Dengan ini, orang lebih kebal terhadap stres.
Untuk pemula, tak perlu melakukan meditasi lama-lama. Beberapa menit per hari juga sudah cukup untuk membantu pikiran menjadi lebih tenang.
"Oke, Zilya. Persiapkan dirimu terlebih dulu. duduk tegak di lantai, tapi pastikan posisi kamu tetap rileks."
"Lalu...Tutup mata perlahan-lahan!" Zilya mengikuti intruksi dokter Andi.
"Coba bilang dalam hati. Seakan ucapan adalah mantra untukmu.Aku merasa damai atau Aku mencintai diriku."
Aku merasa damai, aku mencintai diriku sendiri.
Aku merasa damai, aku mencintai diriku sendiri.
Zilya berbicara dalam hati.
"Letakkan satu tangan di perut untuk menyelaraskan mantra dengan napas. Bayangkan pikiran-pikiran yang mengganggu kamu selama ini terbang ke atas dan menghilang di balik awan." Dokter Andri mengintruksikan lagi.
Beberapa menit kemudian.
Kini Zilya telah selesai melakukan meditasi. Langkah selanjutnya adalah penyutikanbotox. Zilya berbaring di matras. Dengan, d**a yang was-was. Zada berdiri di samping Zilya, sambil mengenggam tangan gadis itu.
"Semangat," ujar Zada lembut. Zilya tersenyum.
Setelah dirasa cukup. Dokter Andi, menyuruh Zada, dan Zilya duduk.
"Zilya, mengenai penyakitmu. Yang harus kamu catat. Hal paling penting di sini, kamu tidak boleh stres, dan jangan terlalu banyak berpikiran buruk. Yang kedua, suntikkan botox ini, jika mulai merasa tidak nyaman di tanganmu. Ingat, ya? Botox, hanya bisa bertahan sampai satu atau dua minggu saja," jelas dokter Andi.
"Baik, saya mengerti, dok," kata Zilya.
Harus semangat! Dan mulai menata hidup baru, batin Zilya.
*****
Keluarga Zada sedang duduk di gazebo belakang rumah. Keluarga Zada adalah tipe keluarga yang mementingkan kebersamaan, dan keharmonisan. Meskipun baru dua minggu hidup bersama keluarga Zada, tapi Zilya sudah merasa sangat dekat, seperti tak ada jarak di antara mereka.
"Bunda, Zilya bawa brownis. Di jamin, enak. Tanpa bahan pengawet," kata Zilya menghampiri kedua orang tua angkatnya.
Zada yang sedang bermain ponsel, langsung memasukkan ponselnya ke saku.
"Wah... Coba, dong. Bunda mau," ujar Bunda.
"Ayah juga."
"Aku juga, dong," Zada menambahi.
Zilya tersenyum. Merasa bersyukur, karena masih ada orang yang mau berbuat baik terhadap dirinya.
Zilya duduk, dan mulai memotong brownis, membagi rata.
"Em... Manisnya pas, rasanya juga gak bikin enek," kata Ayah.
Zilya senang, sekaligus tersipu. Tapi, tiba-tiba ia teringat kejadian beberapa waktu lalu. Ketika dirinya ingin memberi kejutan untuk Mama, namun malah dicaci. Lagi-lagi, Zilya membedakan perlakuan keluarganya, dan keluarga Zada.
"Besok, bunda mau dibuatkan lagi ya. Biar teman-teman arisan bunda nyicip."
"Dengan senang hati Bunda," jawab Zilya.
"Oh iya, ada sesuatu yang harus ayah bicarakan," kata Ayah.
Zada, dan Zilya menatap Ayah.
"Zada, mulai besok kamu, dan Zilya tinggal di rumah kita yang ada di kota, ya?"
"Kita? Berdua?" tanya Zada tak percaya.
"Iya, mengingat sekolah Zilya jauh kalo dari sini. Ayah, jadi kepikiran agar kalian berdua nempatin rumah di kota. Sayang juga, kan? Kalau tidak terpakai," jelas Ayah, dan Zada langsung setuju.
"Tapi, kan. Kak Zada gak ikut pindah sekolah, yah? Nanti malah jadi Kak Zada yang kejauhan," kata Zilya.
Zada mengenggam tangan Zilya. Seraya menjawab, "Sekolahku ada di tengah-tengah, dari sini dekat, dari sana juga dekat. Kamu tenang aja, ya."
"Ta... Tapi, apa Zilya gak merepotkan kalian banget? Zilya udah banyak menyusahkan kalian." Zilya menunduk. Bunda duduk di samping gadis itu, dan mengelus puncak kepalanya.
"Kami sama sekali tidak merasa terepotkan. Hilangkan semua pikiran seperti itu. Ingat! Sekarang kamu adalah anggota keluarga kami," kata Bunda.
Zilya tersenyum haru, kemudian memeluk Bunda.
"Terimakasih, bunda," ucap Zilya tulus.
Dan, akhirnya Zilya menyetujui, untuk tinggal bersama Zada. Meskipun ia sedikit agak takut, namun ia percaya. Zada adalah laki-laki yang sopan, baik, dan menghargai perempuan.
"Kak, nanti kalau kita udah tinggal bareng, kakak jangan nakal," kata Zilya setengah berbisik, sedangkan Zada terkiki geli, Zilya benar-benar menggemaskan baginya.
"Tenang aja, paling nanti aku gigit sedikit, hahahaha," jawab Zada sepontan membuat Zilya mencubit perut laki-laki itu.
****