Zilya menatap wajah polos Zada, yang sedang tertidur. Senyumnya mengembang, merasa bersyukur karena kehadiran Zada, telah banyak merubah kehidupannya. Siapa yang akan menyangka, dipertemukan dengan pria unik, yang memiliki kepribadian lemah-lembut seperti Zada.
Zilya duduk di samping Zada, sesekali membelai wajah lelaki itu.
"Thank," lirih Zilya.
Zada membuka netranya perlahan. Pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah gadis cantik yang kini tersenyum ke arahnya.
Zada membalas senyuman Zilya. Lelaki itu menoel pipi Zilya.
"Udah cantik ternyata," kata Zada segera bangkit.
"Udah, dong. Harus semangat karena ini hari pertama di sekolah baru," kata Zilya
"Nanti kakak nganter aku, kan?" tanya Zilya.
"Pasti, dong."
****
Semua mata tertuju pada Zada, dan Zilya. Banyak para murid yang mengakui ketampanan, dan kecantikan Zilya yang paripurna. (Eakkhaha)
Zilya tersenyum ramah ke semua murid. Ada yang membalas senyuman Zilya, ada yang mengedipkan mata, dan masih banyak lagi.
"Mereka murid baru?" tanya salah seorang siswi.
"Kayaknya iya."
Kini Zada masuk ke ruang sekolah. Diikuti Zilya.
"Om nitip calon pacar Zada, ya?" ujar Zada pada kepala sekolah yang ternyata adalah paman Zada.
Sedangkan Zilya melongo mendengar perkataan Zada. Gadis itu tersipu malu.
"Siap. Ayo, Zilya. Bapak antar ke walikelasmu."
"Baik, pak."
Kini Zilya sudah berada di kelas barunya. Semua murid nampak antusias menyambut Zilya.
"Anak-anak, kali ini kita kedatangan teman baru. Bapak harap kalian bisa menerima teman baru kalian dengan baik. Perlakukan dia layaknya keluarga. Ingat! Jangan pada nakal, ya!" titah Bu Santi walikelas baru Zilya.
"Silahkan, Zilya. Perkenalkan dirimu lebih dulu," kata Bu Santi.
"Cantik banget."
"Imutnya."
Bisik-bisik terdengar di telinga Zilya. Gadis itu hanya tersenyum simpul.
"Perkenalkan, nama saya Zilya Calista. Kalian bisa panggil Zilya. Semoga kita bisa berteman dengan baik." Zilya memperkenalkan diri.
"Hay, Zil. Aku David," ujar salah satu murid.
"Aku, Rehan."
Semua murid laki-laki memperkenalkan diri kepada Zilya. Membuat para murid perempuan bersorak.
"Giliran lihat yang bening aja, kaya gitu," kata murid perempuan bernama Vita.
"Sudah... Sudah, Zilyasilahkan kamu duduk di samping Vita, ya!" kata Bu Santi.
"Baik, bu."
*****
Zilya merasa harinya hidup kembali, sekarang ia percaya. Bahwa setelah kesusahan, pasti ada titik terang bahagia. Zilyapun percaya, bhwaa tuhan sudah memberikan kebahagiaan kepada umatnya, sesuai porsi masing-masing. Tinggal, bagaimana kita menikmati sekenario yang diberikan tuhan. Zilya berharap, bahwa ini adalah akhir dari segala penderitaannya.
Zilya sedang menunggu Zada, gadis itu duduk di halte sambil memainkan ponsel, yang kemarin baru saja dibelikan oleh Ayah. (Iphone 11 cuy, mantap kagak? )
Hari ini Zada berjanji mengajak Zilya jalan-jalan. Gadis itu ingin sekali membeli buku yang dari dulu sudah ia incar.
David, teman baru Zilya datang dengan motor Ninjanya.
"Zil, mau ikut aku, gak?" tawar David. Gadis itu menggeleng.
"Ah... Tidak terimakasih," tolak Zilya sopan.
David mencagak motornya, dan duduk di samping kiri Zilya. Hal itu membuat Zilya tak nyaman, dan gugup. Zilya berharap, tangannya tak berulah. Memang seharusnya begitu, karena gadis itu sudah menyuntik botox tangan Aliennya.
"Kok, kamu gak pulang?" tanya Zilya.
"Nunggu kamu dijemput," jawab David. Zilya menunduk, berharap Zada segera datang.
Zilya melirik jalan. Ia tersenyum ketika nampak mobil sedan berwarna hitam.
Mobil itu berhenti tepat di halte. Zilya berdiri, dan membopong tasnya.
"Aku pulang dulu, ya," pamit Zilya kepada David.
Zada membuka kaca mobil, melirik ke arah David.
"Ayo, Zil," perintah Zada.
Di sepanjang perjalanan, Zada hanya diam. Membuat Zilya ikut canggung. Mungkin, mood Zada hari ini sedang down.
"Kak, kita jadi ke toko buku, kan?" tanya Zilya memecahkan keheningan.
"Iya," jawab Zada singkat.
Zilya bingung harus membahas apa lagi.
"Kak, nanti jadwal terapi aku. Kakak anterin aku, ya?" Zilya basa-basi. Sedangkan Zada hanya berdehem.
Zilya kesal, dan mencubit lengan Zada. Lelaki itu mengaduh.
"Sakit, Zil." Zada menepis tangan Zilya. Gadis itu cemberut.
"Lagian, kakak cuek banget. Kesel aku jadinya."
Zada memutarkan bola mata.
"Aku lagi kesal." Zada membuang muka.
"Kenapa?"
"Tadi siapa?"
"Yang mana?" Zilya semakin tak sabar.
"Di halte."
"Ish... Dia teman baru aku!"
"O," jawab Zada singkat jelas dan padat.
"Nyebelin!" Zilya kembali mencubit lengan Zada.
****
Kini mereka telah sampai di toko buku. Zilya sibuk mencari buku, sedangkan Zada sibuk memotret Zilya.
"Mana, sih? Kok gak ada?" geram Zilya.
"Kamu cari apa, sih?"
"Cari buku, karya Meilinda Vira, yang judulnya RAIN."
"Oh... Yang cerita tentang kisah cinta jajar genjang itu? Eh... Itu buku gak ada di toko buku. Cuma tersedia di s****e," Zada menjelaskan.
Zilya memandang Zada takjub.
"Kok kakak tahu?"
"Tahu, dong. Kakak suka baca karya dia. Kalo kamu mau cari novel RAIN, kamu beli ke s****e aja. Beli di toko Cahya46shop." Zilya manggut-manggut mengerti.
Akhirnya, Zilya membuka s****e, dan akan segera membeli novel RAIN.
"Udah aku cek out. Nanti, pulang sekalian ke Alfamart ya, kak."
"Loh, terus? Kita ke toko buku mau apa?"
"Santai aja, kak. Ini aku juga mau cari buku tentang dunia kepenulisan."
Setelah beberapa menit berada di toko buku. Kini Zada, dan Zilya bergegas untuk pulang. Zilyamengenggam tangan Zada.
Tapi...
"Kak Zilya," panggil seseorang. Zada, dan Zilya berhenti, dan menoleh ke sumber suara.
Zilya sangat terkejut. Tangannya gemetar. Keringat dingin bercucuran.
"Vanya," lirih Zilya.
Vanya menghambur ke pelukan Zilya. Dengan isakan tangis. Remaja itu sangat senang bisa bertemu Zilya, kakak kandungnya yang sudah lama menghilang.
"Aku kangen, kakak dari mana saja? Ayo pulang!"
Zilya melepas pelukan Vanya. Gadis itu menatap Vanya dengan sengit. Kemudian, langsung lari ke mobil Zada.
"Kak Zilya," teriak Vanya.
"Kak, tolong bawa pulang kakak aku. Aku mohon!" Vanya memohon kepada Zada. Lelaki itu menggaruk kepalanya. Antara tak tega, dan bingung.
"Kak, Ayo pulang!" teriak Zilya dari mobil.
Zada semakin bingung.
"Maaf, ya. Kakakmu butuh waktu. Nanti kalau dia sudah tenang, saya janji akan membawa Zilya kembali ke keluarganya," ujar Zada menenangkan Vanya. Padahal, ia juga tak rela jika Zilya harus kembali ke rumah yang penuh neraka itu.
Akhirnya, Zada meninggalkan Vanya yang terduduk lemas di trotoar.
Zada masuk mobil, mendapati Zilya yang nampak emosi. Ia menatap benci sang adik. Entah, mengapa? Rasa sayangnya terhadap Vanya, perlahan pupus.
Zada mengenggam tangan Zilya. Seakan menguatkan gadis itu. Ia tahu, bahwa saat ini Zilya benar-benar butuh waktu.
"Aku gak mau ketemu mereka," ujar Zilya.
Ketika kecewa sudah merata di d**a, menjadi nestapa yang mendera. Nurani di hati sudah tak terasa. Bagi siapa yang merasa sengsara. Rindu terkutuk, untuk seseorang yang banyak menuntut. Ketika, rasa sayang tak lagi bisa didapatkan. Hanya dendam dan benci yang menjadi pemicu keburukan, yang pernah dirasakan.
*****