Humairah menangis di kamar. Ia mendengar jelas keributan yang terjadi di lantai bawah. Pecahan piring terdengar jelas di telinganya. Tak lama setelah itu terdengar langkah kaki dari luar kamar. Ceklek Pintu kamar terbuka dan berdiri sosok suaminya di ambang pintu. Dengan tatapan tajam sang suami menatapnya lalu mendekatinya dan kini berdiri di hadapannya. "Aku sudah mengakui semunya. Apa kamu senang sekarang? Apa sekarang aku masih boleh meminta kamu untuk bertahan di sisi aku? Aku sangat berharap kamu gak pergi setelah semua ini, Mai. Aku cinta sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu," ungkap Faiz dengan mata yang berkaca-kaca. Humairah terdiam dengan kepala tertunduk. Jujur Humairah saat ini tidak tahu mau memberikan keputusan apa. Pergi dan bertahan adalah pilihan untuk dirinya. T

