Sejenak, Reval menunggu balasan sms dari Adel, barangkali gadis itu mengetahui alamat rumah Syeril di Semarang. Sambil menunggu, pemuda ini berbincang-bincang kecil dengan penjual cendol Pak Kadir. Reval menyerahkan kembali benda pipih itu pada Pak Kadir, karena Adel lama sekali membalasnya. "Pak, kalo gitu saya permisi dulu, berapa esnya, Pak?" Reval berdiri dan merogoh saku celananya. "Ndak usah, Mas. Ndak usah," Tolak Pak Kadir sambil melambaikan tangan cepat. "Anggap saja itu sodaqoh dari saya, Mas." "Tapi, Pak—" "Wes, Ndak usah." Pak Kadir bersikeras. "Sekali lagi terima kasih banyak, ya, Pak. Reval permisi dulu," pamit pemuda ini dengan santun. "Iyo, Mas. Hati-hati yo. Semoga istrinya segera ketemu," pesan Pak Kadir tulus. "Mari," pamit Reval dengan seulas senyumnya. Pemuda

