Pagi ini, Syeril berangkat sekolah dengan tergesa-gesa. Seperti biasa, dia terlambat bangun lagi. Berulang kali Mama Ana memperingatkan, tetapi diabaikan oleh Syeril. Papa Johan pun sudah berkali-kali marah, tetapi itu sama sekali tak berpengaruh bagi gadis itu.
"Kebiasaan kamu! Kalo malam itu tidur, jangan begadang terus," omel Mama Ana pagi-pagi.
"Syeril berangkat ya, Ma. Udah telat. Love you, Ma!" teriak gadis ini. Tak lupa dia menciuum pipi Mama Ana dan mengucap salam sambil lari.
Mama Ana hanya menggeleng melihat Syeril seperti itu.
"Kayaknya keputusan papa udah bulat, Ma."
Suara berat khas pria itu memebuat Mama Ana menoleh ke sumber suara. Papa Johan menuruni anak tangga sambil merapikan dasi. Setelah tiba di lantai terakhir, dia disambut oleh Mama Ana yang kemudian membantu sang suami merapikan dasi.
"Papa udah pikirin matang-matang? Syeril masih punya masa depan yang harus dia raih, Pa." Mata Mama Ana menatap lekat pada sang suami.
"Masa depan seorang wanita akan lebih baik bila dia menikah dan mematuhi suaminya."
"Mama tau, tapi apakah Reval benar-benar bisa menghadapi sifat Syeril? Mama takut, Pa."
Papa Johan menggiring tubuh wanita pemilik hatinya itu menuju meja makan. "Papa percaya pada Oma Wening. Beliau tidak akan pernah salah menilai sang cucu. Itu juga yang menjadi pertimbangan Papa, karena Papa pernah bertemu dengan Reval."
"Gimana anaknya, Pa?" Mama Ana menciduk nasi ke piring Papa Johan.
"Papa belum sempat ngobrol, sih. Hanya keliatannya dia memang sopan dan baik."
"Gimana bisa papa menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya saja, tanpa pernah mengobrol?"
"Rencananya hari ini papa akan bertemu dengan Bratha dan Reval."
"Mama ikut, Pa. Mama hanya ingin memastikan saja bagaimana Reval."
Papa Johan menyetujui keinginan sang istri. Biar bagaimanapun, Syeril adalah anak mereka satu-satunya. Meskipun sangat ingin memberi hukuman setiap hari, tetapi mereka juga ingin yang terbaik untuk sang anak.
"Waktu kecil dulu, sih, Reval memang baik, santun, dan ramah. Kemarin waktu ketemu itu juga dia ramah, meskipun pertemuan kami hanya sebentar karena dia mau kuliah. Papa rasa dia masih sama seperti dulu, Ma."
"Tapi itu, kan, dulu, Pa."
"Ya udah, nanti sore papa jemput, karena Bratha pagi ini masih sibuk meeting katanya."
Mama Ana mengangguk. Dia lega karena bisa bertemu dengan Reval lebih dulu sebelum niat perjodohan itu terlaksana.
Berbeda dengan Mama Ana yang sedikit galau, di tempat lain ada Syeril yang melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Dia sampai menerobos lampu merah akibat terlambat. Alhasil, gadis ini dihadang polisi. Sialnya, dia lupa bahwa belum memiliki Surat Izin Mengemudi.
'Alamak, bisa maati dua kali kalau begini ceritanya,' batin Syeril.
Mengapa dua kali? Jelas saja. Pertama, pasti dia kena sembur kedua orang tua. Kedua, kena hukuman plus omelan dari guru karena terlambat. Dan itu berarti, Syeril harus menerima konsekuensi lebih parah lagi dari yang kemarin. Hukuman dijodohkan itu yang lebih parah. Syeril benar-benar tak menduga jika hidupnya akan se-mainstream ini.
"Kamu ini belum punya SIM, tapi sudah berani bawa mobil. Siapa nama orang tua kamu?" tanya polisi tersebut.
"Pak, saya mohon jangan tilang saya, Pak. Saya janji kali ini aja deh, Pak."
Polisi tersebut menggeleng heran. "Dasar anak zaman sekarang. Ditilang bukannya takut malah coba-coba merayu. Berapa nomor telpon orang tua kamu?"
Syeril memutar otak agar bisa lepas dari pertanyaan-pertanyaan polisi ini.
"Pak, saya udah terlambat. Makanya tadi ngebut dan nggak liat kalo ada lampu merah."
Polisi tersebut tak menggubris, dia mencatat sesuatu pada sebuah kertas kecil panjang.
"Halo, apa, Bu? Iya, ini saya lagi dalam masalah, Bu. Saya lagi kena tilang ini. Saya mohon ujiannya ditunda sampai saya hadir. Serius, Bu. Apa perlu saya video call biar bisa liat wajah polisinya?"
"Lo apa-apaan, sih, Ril?" tanya Faivi di ujung telepon.
Namun, Syeril tak peduli. Dia tetap melancarkan aksinya.
"Pak, ini guru saya mau video call. Dia gak percaya kalo saya ditilang sama Bapak. Saya ini lagi ujian, Pak. Memangnya Bapak tega saya gagal ujian gara-gara ditilang Bapak? Nanti saya bikin story di i********: kalo gak lulus karena Bapak menghalangi saya ujian." Syeril benar-benar nekat.
"Kamu bisa ikut remidi nanti. Jangan banyak alasan!"
Faivi sudah menduga, Syeril pasti melakukan drama karena tengah menghadapi masalah cukup rumit. Dia menggeleng karena tak habis pikir dengan tingkah sang sahabat. Faivi memutuskan panggilan sepihak, karena guru Kimia telah memasuki ruang kelas untuk pelajaran pagi ini.
"Masalahnya ini ujian remidi, Bapak. Ya Allah, tega amat Bapak sama saya." Syeril memasang wajah paling tersiksa yang dia miliki. Dasar!
Namun, hal itu tak membuat lelaki berseragam sipil tersebut peduli. Dia masih mencatat nopol kendaraan Syeril.
Cekrek!
Satu bidikan dapat diabadikan oleh Syeril. Rencana berikutnya mulai berjalan.
"Pak, saya upload nih. Saya akan minta pembelaan netizen biar Bapak di-Bully."
"Kamu lupa sedang berhadapan dengan siapa? Saya ini polisi, tindakan kamu ini sebuah ancaman."
"Tapi Bapak juga lupa telah mengancam masa depan saya, Pak." Kali ini Syeril menangis sejadi-jadinya. Tentu saja hanya tangis buaya, agar mendapat simpati orang-orang.
"Ya Allah, Pak. Lepasin aja, kasihan masih bocah. Panggil saja orang tuanya. Biar mereka yang mempertanggungjawabkan kesalahan anaknya, karena telah membiarkan anaknya berkendara sendiri."
Salah seorang warga mencoba membela Syeril. Sebab, dia kasihan karena gadis itu terus mengiba dengan tangis tak henti.
Akhirnya, polisi berkumis ala suaminya Inul Daratista itu luluh. Ada benarnya juga kata warga tersebut, pikirnya.
"Ya, sudah. Kamu saya lepaskan. Sebagai gantinya, telpon orang tua kamu, suruh dia ke sini."
"Saya tidak hafal nomornya, Pak."
"Di HP kamu, kan, ada."
Jangan panggil Syeril kalau dia tidak punya ide cemerlang. Dituliskannya nomor Adel pada kertas yang diberikan polisi tersebut. Sebab, Syeril yakin, Adel tak membawa ponsel ketika ke sekolah. Jadi, aman saja bagi Syeril untuk segera lepas dari polisi ini. Mungkin saat ini Syeril aman, tetapi tidak untuk selanjutnya.
'Bodo amatlah. Yang penting sekarang gue bisa kabur,' batin Syeril.
Gadis ini memberikan kertas yang telah dia tulisi nomor ponsel. "Saya sudah boleh pergi, Pak?" tanya Syeril sopan.
"Silakan." Polisi ini menerima kertas yang diberikan Syeril.
"Ih, ketus amat si Bapak. Entar kumisnya lepas lho."
Seketika Syeril bergidik ketika mata polisi tersebut hampir memeenggal lehernya. Syeril mengangkat tangan dengan jari membentuk huruf V, senyumnya mengembang. Beberapa detik kemudian dia lari tunggang langgang sebelum ketahuan nomor yang dia berikan bukanlah milik papa atau mamanya.
"Selamat, selamat," kata Syeril sambil membungkuk. Napasnya terengah-engah akibat berlari tadi.
Namun, ada hal yang membuatnya seperti orang bingung.
"Eh, gue di mana ini?" katanya sambil memperhatikan sekitar. Tampak asing, dan sepi. "Jangan bilang gue kesasar? Oh my god! Apakah aku harus sesial ini?" Gadis berseragam putih abu-abu ini mendumal. Matanya menatap layar ponsel yang menyala, jam di sana menunjukkan angka tujuh lewat lima belas menit. Ini namanya Syeril terlambat telak.
"Waduh, mati gue! Bisa-bisa diomelin Bu Osa kalo gue ke sekolah. Pulang? Tanpa mobil? Oh no! Itu nggak mungkin. Gue bisa disembur Mama nanti."
"Mikir, mikir! Otak, ayo berpikir!" Syeril mondar-mandir sambil memukul-mukulkan kepalan tangan ke kening, berharap sebuah ide mucul di benaknya.
Namun, hal yang dia gadang-gadangkan tak muncul juga. Akhirnya, Syeril memilih jalan kaki menuju sekolah. Sudah dia pikirkan matang-matang, alangkah lebih baik dia ke sekolah daripada pulang.
"Sial banget dah ah! Bisa gempor gue kalau gini ceritanya, Mama ... tolong!" rengek Syeril seperti anak TK hilang.
"Tuhan, kirimkanlah malaikat-Mu, biar dia bisa bawa gue ke sekolah, please!"
Dengan tangan menengadah dia berdoa. Namun, dia tahu bahwa doanya hanya sia-sia. Oleh sebab itu, Syeril memutuskan untuk berjalan kaki saja. Menelepon Faivi pun percuma, dia pasti sedang mengikuti pelajaran Bu Osa di jam pertama. Seharusnya dia bisa naik taksi, tetapi hal itu tak sampai dalam pikirannya. Terlalu panik kadang membuatnya tak bisa berpikir luas.
Baru setengah jalan, Syeril tampak lelah. Dia memutuskan untuk duduk di sebuah tikungan sepi, dekat pos ronda. Tiba-tiba ada dua orang pria berbadan kekar mendeketinya. Mereka mengepung Syeril, membuat gadis itu gemetar. Dia langsung bangkit.
"Hai, Manis!" kata salah seorang pria tersebut.
"Kok sendirian? Temenin kita-kita, yuk!" kata yang lain lagi.
"Jangan mendekat! Atau gue bakal teriak?" ancam Syeril. Namun, sepertinya tidak mempan. Bahkan, kedua pria itu terus menggodanya, mencoolek dagunya, dan mengeluarkan kata-kata yang tak pantas didengar.
"Tolong!" teriak Syeril ketakutan. "Jangan, jangan!" Gadis mencoba menghindar agar tidak terpegang oleh dua pria meesum tersebut.
"Jangan! Toloong!!" teriak Syeril kuat-kuat.
Namun, kedua preman tadi semakin nekat dan berusaha membeekap mulut Syeril agar tak berteriak lagi.
"Hei!"
Panggilan lantang itu membuat kedua preeman tersebut menghentikan aksinya, dan berbalik badan menatap orang yang memanggil mereka. Sementara itu, Syeril duduk ketakutan sambil memeeluk tasnya.
"Beraninya sama cewek, sini adepin gue!" tantang pemuda tersebut penuh percaya diri sambil memasang kuda-kuda ala Bruce Lee.
Tawa menggelegar terdengar dari mulut kedua preman tadi.
"Badan kerempeng aja mau sok-sokan ngelawan kita, Bos," kata salah satu preman.
"Hajar!"
Pemuda dan kedua preman itu adu ilmu bela diri. Tampaknya pemuda sedikit kurus itu cukup kuat juga menghadapi preman berotot tersebut. Terbukti dari perlawanannya, dia hanya terkena beberapa kali pukulan, sedangkan dua preman itu sudah babak belur olehnya. Bahkan, pria yang tadi memanggil bos ke temannya sudah terkapar. Sisalah pria bertubuh gembul dengan luka coodet di pipi.
Namun, pemuda ini tak gentar, dengan sisa-sisa tenaga dia melawan. Akhirnya, preman tadi lari kalang kabut setelah diteriaki seorang warga yang kebetulan lewat. Akhirnya, dua preman tadi lari tunggang langgang, setelah beberapa saat sebelumnya si pria gembul meninju pelipis pemuda yang menolong Syeril.
"Adek tidak pa-pa?" tanya pria setengah baya tersebut sambil menepuk bahu si pemuda.
"Nggak apa-apa, Pak," jawabnya sambil mendesis karena perih di wajah.
"Hati-hati, di sini memang sering terjadi kejahatan, karena tempatnya sepi."
"Iya, Pak. Terima kasih sudah menolong." Pemuda ini sedikit menunduk ketika mengucap terima kasih.
Bapak-bapak tadi pamit meneruskan perjalanan seperti tujuannya semula. Sementara itu, pemuda manis tersebut mengambil tasnya yang jatuh pasca bertaarung tadi, kemudian dia mendekati Syeril yang masih ketakutan.
"Lo gak apa-apa, 'kan?" tanyanya.
Syeril hanya hanya menggeleng dengan wajah yang masih menunduk dan ditutupi tangan. Tangisnya masih menyelimuti.
"Lo tenang aja, mereka udah pergi, kok."
Akhirnya, Syeril berani mengangkat wajah yang tadi dia beenamkan di antara lutut.
"Terima ka—"
Kata-kata gadis ini terhenti manakala ia melihat wajah pemuda tersebut. Ternyata Syeril sangat mengenali si pemilik wajah itu.
"Elo? Elo kan ...." Syeril mengenal baik siapa sosok yang berdiri di hadapannya kini. Cowok yang pernah dia cibir di distro, cowok yang pernah dia debat di food court, cowok yang membimbingnya waktu praktikum, dan cowok yang dia paaksa waktu di kantin. Oh my god, dialah Reval.
"Elo gak diapa-apain, kan, sama preman tadi?" tanya Reval, seakan-akan dia menepis bahwa pernah dibuat keki oleh gadis di hadapannya. Dia menyamakan tingginya dengan Syeril yang masih bersimpuh.
"Enggak, gue gak apa-apa," jawab Syeril sambil menggeleng.
Syeril melihat wajah Reval lebam, dan sudut bibir itu berdaarah. "Bibir lo berdaarah." Dia mencoba menyentuh sedikit daarah di sudut biibir Reval.
"Gak apa-apa, mending sekarang lo pergi sebelum mereka ganggu lo lagi."
"Tapi luka lo?"
"Udah, gak apa-apa, buruan!"
Syeril melihat jam tangannya, dia benar-benar sudah terlambat hari ini. Ke sekolah pun percuma, pasti tidak akan diizinkan masuk dan mengikuti pelajaran.
"Gue udah telat," kata Syeril sambil menunduk. "Kalaupun gue ke sekolah, palingan juga gue diusir sama satpam."
"Ya, udah, mending lo pulang aja."
"Mana bisa? Entar gue diomelin sama nyokap gue. Mana tadi gue ditilang lagi."
Syeril menghela napas. "Mendingan sekarang gue obatin luka lo aja, takutnya infeksi. Sini!" Dia membawa Reval agar duduk lebih nyaman. Kebetulan tadi Syeril membawa obat merah yang niatnya untuk UKS-nya.
Reval meringis kesakitan saat kapas itu menyentuh luka di sudut biibirnya. "Pelan-pelan!" perintah Reval sambil menahan perih.
"Ini juga udah pelan, tahan sedikitlah."
"Tapi sakit."
"Lo, kan, cowok, jangan lembek kek."
"Gue bukan lembek, tapi emang beneran sakit," protes Reval.
"Cemen lo! Gini doang juga." Syeril masih fokus mengobati luka Reval.
"Kok malah ngatain gue, sih?"
"Bawel lo, ya! Uh!" Syeril malah dengan sengaja menekan tangannya ke biibir Reval.
Alhasil, Reval menjerit kesakitan. Hal itu membuat Syeril terbahak-bahak. Dia tak henti tertawa melihat Reval sedari tadi meringis kesakitan.