*
Syeril terlihat begitu bahagia setelah pulang dari belanja bersama teman-temannya. Beberapa shop bag paper menghiasi kedua tangannya. Dari merk dan logo yang tercetak di bagpaper tersebut, terlihat sangat jelas bahwa itu barang-barang mahal dan branded. Gadis ini melewati pintu utama dengan santainya, kemudian menyusuri ruang tamu luas dengan beberapa pajangan foto di dinding putihnya. Rumah ini terlihat begitu sepi, Syeril mengedarkan pandangan ke setiap penjuru ruangan, tak ada siapa pun yang bisa dia lihat.
"Bibi! Mama ke mana?" teriaknya sambil melempar belanjaan ke sofa ruang keluarga.
Merasa tak mendapat jawaban, Syeril mengulang panggilannya lagi.
"Bi Odah! Bi Odah!"
Syeril menajamkan pendengaran, barangkali telinganya yang bermasalah. Namun, setelah memastikan tak ada jawaban sama sekali, Syeril kembali mengulang panggilannya.
"Bi Odaaah!!" Kali ini teriakan Syeril menggema ke seluruh ruangan. Dia gemas karena merasa terabaikan.
"Syeril! Kamu ini apa-apaan, sih? Kenapa teriak-teriak kayak gitu?" tegur seorang wanita yang baru saja tiba di rumah, tepatnya dia baru meletakkan tas jinjingnya ke bufet.
"Mama?" Wajah Syeril berbinar. Dia memeluk sang mama, merasa rindu.
"Kamu udah gede, bisa nggak sih bersikap dewasa sedikit?"
"Mama kenapa, sih? Biasanya Syeril juga kayak gini, 'kan?" Gadis ini melepas pelukannya, kemudian memasang wajah cemberut. Dia tak suka dibilang seperti itu oleh sang mama.
"Berapa kali, sih, mama harus bilang ke kamu kalo kita itu mesti berhemat?" tegas sang mama setelah melihat shop bag tergeletak memenuhi sofa leter L.
"Ya tapi, kan, Ma ...!" Syeril menghempaskan tubuh ke sofa, hampir meniindih belanjaannya tadi. Dia memindahkan begitu saja bagpaper-bagpaper tersebut.
"Tapi apa lagi? Mama capek ya nasihatin kamu secara halus gini, tapi kamunya gak dengerin mama."
"Mama marah?" tanya Syeril melemmas. Dia merasa ngeri melihat sang mama berkata penuh penekanan seperti itu.
"Gimana mama nggak marah? Kamu susah banget diaturnya. Mama nggak tau lagi harus gimana ngadepin kamu. Jangan salahin mama kalo sampe Papa nekat."
"Mama ...." Syeril kembali mendekat, dia meraih tangan sang mama, meletakkannya di daada. "Iya, iya, Syeril janji akan jadi anak baik. Plisss jangan aduin ini ke Papa."
Mama Ana mengembuskan napas. "Mama nggak janji. Kalo dalam seminggu ini sifat kamu gak ada perubahan, jangan salahin mama, ya. Ini peringatan terakhir buat kamu."
Mama Ana melenggang setelah menatap Syeril penuh ancaman, tentu saja itu menurut Syeril. Sebab, dia belum pernah merasa didesak atau bahkan dipojokkan seperti barusan. Maka Ana selalu sayang padanya, apa saja yang diminta Syeril, pasti dikabulkan.
"Mama, Syeril ini anak Mama satu-satunya, lho. Mama nggak lupa itu, 'kan?" Syeril agak mengeraskan suaranya karena Mama Ana sudah tak tampak oleh pandangannya.
Angin mendesau, membuat Syeril mengentakkan kaki. Dia merasa omongan sang mama kali ini serius. Namun, Syeril masih belum mengetahui hukuman apa yang akan dia terima andai kata melanggar nasihat sang mama.
Dering ponsel membuat fokus Syeril teralihkan. Nama Faivi tertera di sana. Syeril menerima panggilan tersebut sembari meraih semua barang belanjaan, kemudian menaiki anak tangga menuju kamar.
"Apa? Bu Osa nggak salah?" tanya Syeril kaget. Dia melempar begitu saja shop bag ke kasur.
"Serius, Ril. Makanya gue langsung nelpon elo. Elo sih, ditelpon Bu Osa malah gak lo angkat."
Syeril menepuk jidat, tiba-tiba perasaannya gundah gulana. Dia tak membayangkan bila sampai kedua orang tuanya mengetahui hal tersebut.
"Gue harus gimana dong, Fai?" tanya Syeril cemas.
"Jalan satu-satunya ya lho harus remidial, karena nilai lo jauh di bawah standart, Ril."
"Mati gue! Eh, lo jangan sampai bilang ke Mama atau Papa, ya. Gue nggak mau mereka ngehukum gue, Fai."
"Gue, sih, bisa-bisa aja. Tapi gue nggak yakin sama Bu Osa. Pasti dia udah—"
Syeril memutuskan panggilan Faivi secara sepihak. Hal itu membuat si penelepon menggeleng. Faivi sudah hafal betul bagaimana sifat Syeril. Jadi, tak heran bila omongannya yang belum selesai itu harus berakhir tanpa komando. Faivi mengembuskan napas, lalu mengirim pesan kepada Bu Osa bahwa dirinya telah mengabari Syeril.
Berbeda dengan gadis ini. Dia lari tunggang langgang menuju kamar sang mama. Dia berharap bisa sampai di sana lebih dulu sebelum pesan cinta dari Bu Osa tiba duluan. Ancaman sang mama bisa-bisa terealisasikan bila Syeril tak bergerak cepat.
"Mama, Syeril mau ...."
Belum selesai Syeril berucap, Mama Ana sudah berdiri dengan sorot tajam di hadapannya. Padahal, pintu baru saja terbuka, tetapi Mama Ana seakan-akan siap menelan sang anak hidup-hidup.
"Mama, please! Beri Syeril kesempatan." Gadis ini menangkupkan kedua tangan di depan wajah sambil menunduk. Matanya pun terpejam, berharap sang mama mau mengabulkan permintaannya.
Mama Ana menggeleng sambil menghela napas. "Baru aja tadi mama nasihatin kamu, lho. Kalo gini caranya mama nggak tau lagi deh harus gimana. Mama capek ngadepin kamu." Tangan Mama Ana terlipat di depan d**a.
Syeril sedikit mencuri-curi pandang dengan membuka matanya sedikit. Padahal Mama Ana melihat gerak-geriknya dengan jelas. "Ampun, Ma. Syeril akan perbaiki semuanya."
"Nggak tau. Semua keputusan ada sama Papa."
"Mama, please! Tolong bantu Syeril. Syeril janji deh akan kerjain semua tugas rumah. Nyapu, ngepel, cuci piring, baju, semuanya deh. Syeril akan bantuin Bi Odah. Janji!" Gadis ini mengeluarkan jurus rayuan mauut demi mendapat kesempatan dari sang mama. Bahkan, dia berusaha menggamit lengan Mama Ana, tetapi sang mama malah menghindar.
"Oke kalo itu mau kamu. Mama kasih kesempatan—"
"Yes! Asyik! Mama baik banget. I love you, Ma. Syeril sayang banget sama Mama." Gadis ini menciium pipi sang mama berkali-kali. Bahkan, mata Mama Ana sampai terpejam-pejam.
"Tapi ini yang terakhir. Kalo sampe kamu membuat kesalahan lagi, mama nggak segan-segan bakal nikahin kamu."
"What?" Mata Syeril bagai akan terlepas dari singgasananya ketika mendengar ucapan sang mama. "Mama yang bener aja. Syeril masih piyik kali, Ma. Masa main dikawinnin gitu aja? Nggak mau ah!"
"Makanya mama bilang ini peringatan terakhir. Kalo sampe kamu bikin kesalahan lagi, meskipun itu sepele, mama gak tarik omongan mama tadi. Ini sudah keputusan final dari mama sama papa."
Syeril tak bisa berkutik lagi kali ini. Ancaman sang mama benar-benar bagai ujung tombak yang siap menembus ulu hatinya. Gadis ini mulai mewanti-wanti dirinya sendiri agar tak berbuat salah, sedikit pun.
*
Keesokan harinya, di Minggu pagi ini Syeril bangun lebih awal. Sangat beda jauh dengan minggu-minggu sebelumnya yang malas dan selalu bangun mendekati pukul dua belas siang. Kamar sudah tampak rapi, buku dan pakaian yang biasa berserakan pun sudah tertata cantik pada tempatnya.
Bi Odah baru saja ingin membangunkan gadis ini, tetapi dia dibuat terheran oleh sikap Syeril.
"Permisi, Non. Ada yang bisa bibi bantu?" tawarnya ramah. Dia berdiri di ambang pintu, sedikit masuk.
Syeril menoleh, tetapi detik berikutnya dia kembali fokus pada stoples camilan—meletakkannya di lemari yang biasa dia gunakan menyimpan camilan.
"Nggak usah, Bi. Udah selesai, kok."
Bi Odah pamit menyelesaikan pekerjaannya di dapur, meninggalkan Syeril yang masih sibuk mengelap piala satu-satunya yang pernah dia dapat ketika pertama kali masuk SMA. Gadis ini terduduk di tepi kasur, matanya menekuri piala juara dua tersebut. Dia merasa semakin ke sini semakin tak berprestasi. Ada kesedihan yang mendadak menelusup dalam sanubarinya.
"Maafin Syeril, Ma, Pa," lirihnya penuh sesal.
Tiba-tiba dering ponsel menyalak, membuat lamunan Syeril terhenti seketika. Sebuah panggilan video dari Adel.
Meskipun malas, tetapi Syeril tetap menerimanya.
"Ya ampun, kusut banget lo! Kenapa? Mimpi buruk tentang Rafael, ya?" goda Adel ketika wajah Syeril terpampang di layar ponselnya.
"Enak aja! Bukanlah."
"Terus kenapa?"
"Gue sedih, nih. Gue dihukum sama Mama."
"Kenapa emangnya?"
"Nilai gue jeblok, Del. Gue terancam tinggal kelas kalo remidial nanti masih gak ada perubahan."
Adel merasa prihatin ketika melihat wajah Syeril murung seperti itu. Belum pernah sebelumnya sang sahabat sesedih itu, kecuali melihat gebetan ditikung orang lain. Ini masalah serius. Bila Syeril tinggal kelas, itu artinya mereka tak akan bisa lagi happy bareng-bareng seperti biasanya.
"Menurut lo, gue harus gimana, Del? Gue sedih banget nih."
"Lo di rumah aja, gue ke sana, ya."
Syeril hanya mengangguk. Panggilan selesai, Syeril mengembuskan napas. Dia benar-benar sedih sekarang.
"Mama udah memutuskan, kamu akan mama carikan guru les. Sepulang sekolah, kamu belajar di rumah. Nggak usah kelayapan."
Suara itu membuat Syeril menoleh. Mama Ana sudah berdiri di dekatnya. Entah kapan beliau tiba di sana, Syeril sendiri tak menyadari kehadiran sang mama.
"Guru les, Ma?"
"Kenapa? Mau protes?"
"Em ... bukan gitu. Syeril bisa kok belajar sendiri."
"Nggak bisa! Kamu harus tetep les privat di rumah. Mama udah panggil guru lesnya. Tenang aja, dia bukan guru, tapi Mama yakin dia bisa membuat nilai kamu naik. Asal kamunya serius."
"Mama, nggak cukup ya hukuman ini buat Syeril? Kenapa harus ada guru les segala, sih?"
"Kalo kamu protes, Mama akan tambah hukuman kamu."
"Mama, jangan!"