Bab 17 : Narasi Hati

1725 Kata
Dua sejoli ini menyelami hati masing-masing. Reval tak mengerti harus melupakan perasaannya kepada Vania seperti yang dikatakan gadis itu atau justru tetap menyimpan dan memperjuangkannya sekuat tenaga. Ucapan Vania masih membuat luka batinnya perih. Namun, dia tak dapat memaksa gadis itu untuk membalas cintanya. Di ruangan lain, Syeril tengah disuapi oleh seorang pemuda. Lihat saja, senyum Syeril mengembang seakan-akan tak mau menyusut. "Enak nggak?" tanya pemuda itu. "Enak, Kak. Apalagi yang nyuapin Kak Rafael. Makasih udah nolongin Syeril," kata gadis ini penuh bahagia. "Iya, sama-sama. Tadi aku ngejar pelakunya, tapi nggak ketangkap." "Pelaku?" Syeril membeo. Rafael pun tampak kebingungan. Pelaku apa yang harus dia jawab, karena tak mengerti musabab gadis di hadapannya sampai dilarikan ke rumah sakit. "Maksud Kakak jambretnya?" "Nah, itu maksudku tadi." Beruntung Syeril membuat sandiwara Rafael semakin sempurna. Padahal, jelas-jelas dia baru sampai ketika Syeril telah ditangani dokter. Pemuda itu melihat ada ramai-ramai di jalan, sehingga dia memutuskan untuk bertanya. Setelah mendapat info, dia mulai menduga bahwa cewek yang dimaksud adalah Syeril. Saat itu juga Rafael menyusul ke rumah sakit. Setelah berusaha mencari keberadaan Syeril, Rafael langsung menuju ke UGD guna menemui sang gadis. Kebetulan saat itu Reval sudah tidak ada di tempat. Kebetulan kedua, Rafael masuk ke ruangan Syeril ketika gadis itu siuman dan mendapati sang pujaan hati di hadapan. Siapa yang tak merasa tersanjung apabila ditolong oleh seseorang yang didamba? Mata Syeril berbinar ketika melihat Rafael. Dia merasa apa yang menimpanya itu tak lagi berarti selama ada Rafael di dekatnya. Sepertinya gadis itu benar-benar sedang dimabuk asmara. Padahal, Rafael sama sekali tak menanyakan kondisinya. "Sekali lagi makasih udah nolong aku, ya, Kak." Syeril menelan sesuap nasi goreng. "Iya, sama-sama. Lain kali hati-hati, ya. Jangan bikin aku khawatir lagi." Mulut manis Rafael memang mampu membius siapa saja yang mendengarnya. Apalagi orang itu sedang cinta mati kepadanya, pasti langsung merasa paling disayang dan menjadi satu-satunya. Syeril terlalu polos bila disandingkan dengan Rafael, karena pemuda itu bukan levelnya untuk urusan sebuah hubungan. Rafael mempunyai kelasnya sendiri untuk mengencani seorang gadis. Syeril hanyalah anak bau kencur baginya. Hanya saja, Rafael tahu bagaimana mencari peluang agar dirinya tak pernah merasa kosong. "Oh, iya. Udah malam nih. Aku pulang dulu, ya." "Kak Rafael!" panggil Syeril ketika pemuda itu hampir mencapai pintu. Tentu saja yang dipanggil berbalik badan. "Ini, jam Kakak ketinggalan." Tanpa sadar, Rafael mengangkat tangannya yang ada arlojinya. "Ini, ada di tanganku." Syeril sama sekali tak memperpanjang. Rafael juga terlihat buru-buru. Jadi, Syeril lebih memilih senyum, lalu mengangguk. "Pulang dulu, ya. Cepat sembuh." "Makasih, Kak Rafael," pekik gadis ini. 'Kalo bukan punya Kak Rafael, punya siapa, dong? Aku kayak pernah lihat jam ini, tapi di mana, ya?' Syeril membatin sambil mengingat-ingat. Namun, dia tak dapat mengingat dengan jelas di mana pernah melihat jam itu dipakai seseorang. Di sisi lain, sekonyong-konyong ingatan Reval kembali pada gadis yang terbaring di ruangan lain, yaitu Syeril. Reval harus melihat kondisi Syeril. Dia pamit kepada Vania untuk ke toilet. Reval tidak ingin dikatai plin-plan oleh Vania. Apalagi sampai gadis itu tahu kalau dia dijodohkan dengan Syeril. Ini akan menjadi bumerang baginya suatu hari nanti bila Vania sampai tahu. Gadis berparas cantik ini pun tak menaruh curiga kepada Reval. Dia percaya, bahwa Reval tak akan bohong. "Tapi yang nolongin aku, kan, yang nolong aku, Kak Raf—" klek! Suara Syeril terputus karena dia kaget ketika pintu ruangannya ada yang membuka. "Elo?!" pekik Syeril ketika melihat Reval berdiri di ambang pintu. Alisnya menukik, rada sebal. Kejadian seperti ini melempar ingatan Reval ke awal pertemuan mereka, yaitu di UKS dan dengan kejadian yang hampir sama. Flashback On "Elo? Gue di mana?" Syeril seolah lupa bahwa ini masih di UKS tempatnya sekolah. Karena geram, Reval menjawab sekenanya. "Di hotel." "What?!" Mata Syeril membola sempurna, "Lo gila, ya? Lo apain gue? Tubuh gue, muka gue, tangan, kaki, bibir, aaaa!! Lo gak nyentuh gue 'kan?" Dia histeris sambil memeluk tubuhnya sendiri. Reval menggeleng, dalam hati ia ingin tertawa melihat tingkah gadis itu. Namun, dia tak ingin wibawanya hilang di depan Syeril. "Melek, lo di ruang kesehatan. Ge-er banget!" cibir Reval. Syeril keki, dia memasang wajah masam saat Reval dengan santainya mencibir. "Dih, elo aja yang ngarep. Ngapain lo pakai bohong segala? Cie ... pengen banget sekamar sama gue, ya?" Ledekan Syeril membuat Reval menelan ludah. Kejahilannya justru menjadi bumerang. "Duh, biasa aja keleus, nggak usah merah juga pipinya," tambah Syeril yang memang jago membuat ledekan. Reval mendelik, spontan dia mengusap pipi, memastikan bahwa apa yang diucapkan Syeril tidak benar. "Cieee pipinya diusap ...." Syeril tertawa. "Jangan-jangan ... lo beneran ngarep, nih. Duuh, resiko cewek cakep mah begini!" Gadis ini merapikan poni dan rambut. Bergaya ala-ala princes. Reval benar-benar dibuat skak mat di sini. Sejenak dia tersadar. "Ck! Apaan, sih? Lo gagar otak, ya? Abis pingsan malah ngelantur ke mana-mana. Apa jangan-jangan lo pura-pura?" Reval menatap penuh selidik, mencoba mengalihkan tawa Syeril yang membuatnya tak berkutik sesaat. Bisa-bisanya dia terjebak omongan gadis itu. Sial! "Ap-apaan? Ya-ya, ya, enggaklah! Gue pingsan beneran kali!" Syeril terbata-bata. "Pingsan lo mirip orang overdosis obat tidur. Lo pikir nggak capek nungguin lo?" "Siapa juga yang nyuruh lo nungguin gue? Nggak ada, 'kan?" Reval diam. Syeril memang benar, tak ada yang menyuruh Reval menunggui dirinya. Hanya Reval saja yang terlewat khawatir. Dia paling tidak bisa membiarkan seseorang susah, apalagi perempuan. "Nah, kan, lo nggak bisa jawab." Syeril beranjak. "Udah ah, gue mau ke kelas." "Udah selesai, temen-temen lo juga udah pada bubar." Jawaban Reval berhasil membuat langkah Syeril terhenti. Spontan dia balik badan dengan wajah kaget. "What? Trus praktek gue, gimana? Terancam nggak lulus dong gue?" "Itu bukan urusan gue. Oke, karena lo udah sadar, itu artinya gue bisa pergi." Reval mulai melangkah meninggalkan ruangan kesehatan. Tinggallah Syeril seorang diri yang memikirkan nasibnya karena akan terancam tinggal kelas. Belum ancaman dari kedua orang tuanya yang akan memasukkannya ke pesantren bila dia benar-benar tak lulus. Sejurus kemudian, dia menyadari bahwa Reval sudah tidak ada bersamanya. "Lah, ke mana tu cowok? Gue harus kejar dia, nih! Woy, tunggu!!" Syeril lari mengejar Reval. Terlihat olehnya punggung Reval yang berbelok dari koridor. Dia langsung mengejar pemuda berperawakan kurus tersebut. "Woy, tungguin!" teriak Syeril lagi. Namun, Reval enggan menghentikan langkahnya. Dia terus berjalan sambil mengenakan kembali tasnya. "Tungguin!" Akhirnya, Syeril berhasil mengejar Reval yang sudah tiba di kantin. Dia turut duduk dengan napas terengah-engah. "Ngapain ngejar gue?" tanya Reval sambil memanggil pelayan di kantin. "Please-lah tolongin gue, lo harus bantu gue buat penelitian." "Gue?" Reval menunjuk wajahnya sendiri. "Ogah amat!" "Elo gitu banget, sih! Lo dendam sama gue?" Syeril masih dalam sisa-sisa kegeramannya waktu itu. "Dendam? Buat apa? Gue cuma nggak mau kalau buang-buang waktu buat bantuin orang manja kek elo." "Sembarangan! Gue nggak manja, ya! Gue cuma jijik. Lagian elo aneh-aneh aja, masa penelitian pake bawa ulet segala?" "Sama aja. Gimana mau jadi anak biologi kalau liat ulet aja pingsan?" "Dih, semerdeka lo, deh. Gue cuma mau lo bantuin gue. Oke?" "Males!" Reval menyeruput teh hangat yang sudah tersaji di depannya. "Oke-oke, gue janji. Gue bakal nggak takut. Janji!" Syeril membentuk jarinya seperti huruf V. Reval menatap tak acuh. "Please ... bantu gue!" Syeril menangkupkan tangannya di depan wajah. Tak lupa wajah melas pun dia pasang sedemikian rupa. Namun, Reval masih saja tak peduli. Dia asyik menyantap bakso yang baru saja menyambangi meja. Karena merasa permohonannya sia-sia, Syeril tak kehabisan akal. Dia beranjak, memutari meja dan berdiri tepat di samping Reval. Tanpa tedeng aling-aling, dia menangis kencang sekali sambil mem memeluk kaki Reval, membuat siswa yang ada di kantin menatap aneh pada mereka. Reval pun menjadi tak enak hati dipandang seperti itu, pasti mereka menduga yang bukan-bukan tentang apa yang telah terjadi. Apalagi Syeril meraung-raung seperti itu. Reval menghentikan aktivitasnya. "Lo apa-apaan, sih? Bangun nggak!" "Enggak mau! Gue nggak akan bangun, lo harus tanggung jawab!" kata Syeril. Dia tetap berteriak, seolah Reval telah berbuat asusila padanya. Reval menelan ludah, gadis ini benar-benar membuatnya stress. "Oke-oke, gue bakal bantuin lo. Tapi lo bangun dulu." Reval mencuri pandang ke sekitar, orang-orang di kantin ini saling berbisik sambil menatap ke arah Reval dan Syeril. "Enggak! Lo harus janji dulu!" "Iya, gue janji. Gue bakalan bantu elo. Sekarang bangun!" kata Reval ditahan, tetapi penuh penekanan. "Engaaak!!" "Ck! Bangun nggak? Gue serius, gue bakalan bantuin lo. Bangun!" Syeril menatap Reval, dia menangkap keseriusan dan ketakutan dari mata elang itu. Gadis ini tersenyum, dia berhasil. "Yes! Gitu kek dari tadi. Kan, gue nggak perlu akting segala." Syeril berkata penuh kemenangan. Dia bangkit dan menepuk-nepuk telapan tangan, menyingkirkan debu yang bisa saja menempel saat dia berlutut tadi. "Lo sengaja, ya, mau bikin gue malu?!" Reval melotot. "Dih, lo serem banget, sih? Gue teriak lagi, nih!" ancam Syeril. Dia kembali duduk di depan Reval, berseberangan. "Udah, sih. Norak banget lo." "Huaaaa!!" Reval membungkam mulut Syeril susah payah, karena posisi Syeril yang susah dia jangkau. Gadis ini benar-benar nekat! "Nggak bisa diem, ya, lo?" "Abis lo nggak ikhlas banget." "Ikhlas gue, ikhlas." Reval mengeratkan gigi. "Kok nggak senyum?" "Iya, ini senyum, hmm ...." Reval menuruti kata Syeril. Dia melebarkan senyumnya, walau Syeril tahu itu sebuah keterpaksaan. Namun, itu sudah mampu membuatnya gembira. Kapan lagi mengerjai anak kuliahan? Syeril membatin penuh kemenangan. Dengan lancangnya, Syeril juga mengambil alih semangkuk bakso milik Reval, kemudian menyantapnya tanpa merasa berdosa. "Kenapa, mau protes? Teriak lagi nih gue!" "Ck! Ngancem mulu lo!" gumam Reval, mengalah. "Udah, sana pesen lagi! Ini buat gue. Gue laper." "Lo nggak laper, tapi rakus." Reval beranjak, dia memesan bakso lagi. Syeril tak peduli, dia hanya fokus pada bakso di depannya. Melahapnya tak bersisa. Sebotol teh juga sudah bernaung di perutnya. Tanpa malu, gadis ini bersendawa di depan Reval. Keras sekali. Reval mendelik melihat aksi konyol Syeril, yang bisa saja didengar pengunjung kantin lainnya. "Cewek, tapi sendawanya kek singa." "Biarin. Masalah buat lo?" "Cewek itu yang anggun, jaga sikap di depan cowok." "Idih, ngapain juga gue jaga sikap di depan lo? Siapa elo? Pacar juga bukan. Kalau di depan cowok gue noh, baru gue jaga sikap." Reval hanya menggeleng. Gadis unik yang sukses membuat Reval skakmat, mati kutu, dan menggeleng tak percaya. "Gue udah kenyang, lo yang bayarin, ya. Atau enggak, gue ngutang dulu deh. Daaa ...." Seenak jidatnya Syeril pergi. Lagi-lagi Reval dibuat mendelik dengan tingkah laku Syeril yang ternyata begitu konyol. Reval kembali menikmati bakso yang masih mengeluarkan asap tersebut. Flashback Off Reval menggeleng, mencoba membuang jauh-jauh ingatan cukup memalukan itu. Syeril, gadis sesukanya yang entah mengapa selalu dipertemukan dengan Reval. Mungkin memang jodoh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN