Bab 18 : Rencana Pernikahan

1289 Kata
"Woy, Mas!" teriak Syeril sambil melempar Reval menggunakan bantal. Pemuda itu tersadar dari lamunannya. "Malah ngelamun." Seperti biasa. Reval menghela napas, lalu melepasnya pelan. Dia mengambil bantal yang tadi digunakan untuk menimpuknya, lalu mendekat ke arah Syeril. Reval menyerahkan bantal itu, tetapi Syeril malah membuang muka. Pemuda ini tak banyak bicara, dia meletakkan bantal putih itu di atas kaki Syeril. "Kok lo bisa tau kalo gue ada di sini? Siapa yang ngasih tau lo?" Reval baru bersiap mau menjawab, tetapi Syeril seolah-olah tak memberi ruang. "Oh, gue tau. Pasti Kak Rafael, ya. Iyalah, dia itu my hero. Dia udah bawa gue ke sini, nolongin gue, nyelamatin gue. Ya ampuuun, pahlawan gak sih?" Mata Syeril menerawang penuh bahagia. Tentu saja hal itu membuat alis Reval menaut. Jelas-jelas dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa yang membawa Syeril bukanlah Rafael. "Rafael bilang gitu?" "Iya, kenapa? Lo nggak percaya? Iyalah, lo nggak bakal pernah percaya, karena otak lo isinya suuzon mulu ke Rafael." Reval menggeleng. Segitunya Syeril membela Rafael, sampai-sampai percaya begitu saja dengan bualan pemuda itu. "Lo belum jawab pertanyaan gue," kata Syeril lagi. "Apa?" "Lo tau dari mana gue ada di sini?" "Kalo gue cerita, lo juga nggak akan percaya," jawab Reval sekenanya. "Ish! Ngeselin banget, sih, lo!" jutek gadis ini. "Gimana keadaan lo?" "Gue udah baikan. Kenapa memangnya?" "Tadi dokter bilang, kepala lo abis kebentur benda tumpul. Tangan lo juga dijahit. Gue cuma mau bilang, hati-hati aja, kok." Syeril terdiam, batinnya berkata, 'Kenapa Reval kayak tau banget dengan kondisi gue? Dia beneran ketemu dokter? Alah, pasti dia nguping Kak Rafa tadi. Dasar!' "Gue ke sini mau ngambil jam tangan gue doang, kok," kata Reval sambil melihat ke nakas. Namun, dia tak menemukan benda yang dicarinya. Seketika pandangannya beralih ke Syeril. "Kenapa lo ngeliatin gue?" jawab Syeril sengak. Dengan sembunyi-sembunyi tangannya menggeser benda berwarna hitam metalic yang dicari Reval. "Tadi di sini," kata Reval sambil menunjuk. "Ya, mana gue tau. Lo nuduh gue yang nyembunyiin?" kata Syeril masih dengan kesengakannya. "Siapa yang nuduh, sih? Gue, kan, cuma nanya." "Ya, udah, biasa aja, dong!" ketus Syeril. "Dari tadi juga biasa aja. Elo aja yang nyolot." Kicep. Syeril tak menanggapi lagi omongan Reval. Dia menyelami pikirannya sendiri tentang Reval atau Rafael yang sebenarnya telah menolong dirinya. Bukti menyatakan bahwa Reval lah yang lebih dulu ada di ruangan itu sebelum Rafael datang. Reval memutuskan duduk, tetapi Syeril langsung menatapnya tajam. "Ngapain lo masih di sini? Pake acara duduk segala lagi." "Gue nunggu orang tua lo sampe tiba di sini." "Eng ...." Syeril tak dapat berkata-kata. Dadanya bergemuruh, seperti ada letupan-letupan kecil yang entah. Apalagi ketika menatap mata Reval, jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. "Ngapain lo nelpon orang tua gue?" "Memangnya lo ada uang buat bayar rumah sakit?" Lagi-lagi Syeril tak bisa menjawab pertanyaan Reval. "Kan ada elo. Ya, lo yang bayar lah." "Gue bisa aja bayar, tapi gue cuma nggak mau lo ngerasa berhutang budi sama gue." Reval berkata tanpa menatap Syeril. Jujur, Syeril semakin skak mat dibuat Reval. Lagi pula, untuk apa tadi dia bilang minta dibayarin Reval? Bukankah dia tak menganggap kehadiran Reval? Atau jangan-jangan Syeril sudah mulai menyediakan ruang di hatinya untuk pemuda itu? Gadis itu teringat akan pertama kali dia pergi menemui Rafael. Dia pergi diam-diam untuk menyembuhkan kekesalan hatinya kepada kedua orang tuanya. Namun, nasib sial menimpanya dan justru berakhir di rumah sakit. Syeril mendadak takut apabila kedua orang tuanya lebih marah lagi padanya. Aha! Syeril punya rencana jitu. Di sebelahnya ada Reval yang bisa dia manfaatkan untuk dramanya nanti. Pasti pemuda itu juga akan setuju untuk melancarkan aksinya. "Jadi, Mama sama Papa mau ke sini?" "Iya, sebentar lagi mungkin sampai," jawab Reval tanpa mengalihkan fokusnya ke ponsel. Syeril hanya mengangguk sambil mencebik. Tak lama kemudian, Mama Ana dan Papa Johan masuk dengan wajah cemas. Kabar yang diberikan Reval membuat mereka khawatir akan kondisi sang anak. Reval berdiri menyambut kehadiran kedua orang tua Syeril. Tak lupa dia memasukkan ponsel ke saku jaket. "Syeril, kamu nggak apa-apa, Nak?" tanya Mama Ana. Dia mengecek badan Syeril. Matanya berkaca-kaca ketika melihat kepala Syeril diperban, tangan gadis itu juga dililit perban. "Sakit, Mah," kata gadis itu penuh manja. "Gimana ceritanya bisa jatuh Nak Reval?" "Reval kurang tau, Tante. Soalnya tadi Reval menemu—" "Reval nggak tau, Ma. Soalnya kejadian itu pas aku lagi nunggu dia datang." "Kalian janjian?" tanya Papa Johan. Reval tercekat. Dia sama sekali tak mengerti maksud Syeril. "Bukan, Tante, Om. Tadi Reval nggak sengaja lewat, lalu—" "Nggak usah boong sama Mama Papa kali, Val. Ngaku aja kalo kita mau ketemuan kenapa, sih?" "Ha?" Reval sama sekali tak mengerti. Berkali-kali dia memberi kode kepada Syeril agar menjelaskannya, tetapi gadis itu sama sekali tak peduli. "Kenapa nggak jemput Syeril ke rumah aja kalo mau ketemu? Kamu juga bisa main ke rumah, 'kan? Jadi nggak perlu ketemu di luar." Papa Johan seakan-akan menyudutkan Reval, sedangkan Syeril hanya diam. "Iya, Nak Reval. Bahaya juga buat Syeril kalo malam-malam keluar rumah sendirian," timpal Mama Ana, lembut. Reval merasa tersudutkan di sini. Sama sekali dia bukanlah orang yang mengajak Syeril pergi atau bahkan janji bertemu di luar. Malam-malam pula. Namun, Reval tak memiliki pilihan lain selain mengangguk, seakan-akan membenarkan dugaan itu. Sekali lagi, matanya mengawasi Syeril yang memeluk sang mama. Gadis itu tersenyum, meski hanya satu sudut bibirnya yang bergerak. Reval menekan emosi dalam dirinya. Bukan saat yang tepat mengeluarkan api amarah, karena masih ada kedua orang tua Syeril yang dia hormati. "Maafkan Reval, Tante, Om. Reval nggak akan mengulanginya lagi." "Kami maafkan, Nak," kata Mama Ana. "Langsung ke rumah aja, Val. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kamu. Anggap aja rumah sendiri, kalian, kan, calon suami istri." Sejatinya Reval masih ingin menanyakan hal yang membuat hatinya kesal karena tertuduh. Namun, sepertinya waktu dan tempat sedang tak mendukung. Berkali-kali dia mencuri pandang ke Syeril, tetapi gadis itu sengaja tak menanggapi. Bahkan, dia pura-pura ngobrol atau bercanda dengan kedua orang tuanya ketika pandangannya bertemu dengan Reval. * "Ma, Papa jadi kepikiran Reval." "Memangnya kenapa, Pa?" Mama Ana meletakkan kopi di meja, tepat di depan sang suami. "Mama sadar nggak, setiap malam sebelum kecelakaan Syeril selalu pergi tanpa pamit?" Papa Johan menyuruput kopi yang masih mengepulkan asap tersebut. Mama Ana duduk menemani sang suami di sore yang cerah ini. "Papa merasa Reval bukan anak baik." Mama Ana mengernyit. "Reval baik, kok, Pa. Kalo enggak, nggak mungkin dia bawa Syeril ke rumah sakit. Dia juga udah minta maaf sama kita, kan, Pa?" "Mama benar, tapi coba deh pikir lagi. Kalo Reval baik, nggak mungkin dia ngajak jalan Syeril malam-malam. Malah kadang pulangnya sampe larut. Dia anak kita satu-satunya, Ma. Papa nggak mau terjadi apa-apa sama anak kita." Mama Ana tampak berpikir. "Iya, sih. Papa benar. Mereka jadi sering jalan sekarang ya, Pa. Mama kok jadi takut." Mendengar obrolan kedua orang tuanya, Syeril memutuskan menguping, sehingga akhirnya dia mendapatkan info menarik bagi dirinya sendiri tentu saja. 'Yes! Akhirnya, perjodohan gue sama Reval bakalan batal. Nggak sia-sia gue akting di depan mereka.' Syeril jingkrak-jingkrak bahagia mendengar semua itu. Dia kemudian lari ke kamar merayakan sukacitanya sendirian. Tak lupa memutar lagu kesukaan melalui earphone. Betapa bahagianya Syeril atas praduganya itu. Namun, dia pasti akan shok berat ketika tahu bagaimana kelanjutan pembicaraan kedua orang tuanya. Sayangnya, dia sudah asyik dengan dirinya sendiri yang merasa terbebas dari perjodohannya dengan Reval. Kini, dia berpikir akan fokus mengejar cintanya kepada Rafael secara totalitas. "Jadi, apa yang akan Papa lakukan selanjutnya?" "Sepertinya Papa harus bicara dengan Bratha dan Oma Wening mengenai hal ini, Ma. Besok kita temui mereka, kita harus percepat pernikahan Reval dengan Syeril. Papa nggak mau Syeril kenapa-kenapa." "Mama setuju, Pa. Lagian mereka udah dekat. Syeril pasti setuju sama keputusan ini. Kelihatannya Syeril mulai menyukai Reval." "Iya, Ma. Papa lihat kemarin di rumah sakit. Syeril sepertinya sudah cinta sama Reval."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN