Bab 19 : Merayakan Kemenangan

1513 Kata
"Iya, Pa. Reval adalah pemuda yang bertanggung jawab. Sepertinya keputusan kita sudah benar ya, Pa. Mama yakin, Reval bisa membimbing Syeril nantinya." "Mama benar. Ya sudah, Ma. Ayo, kita ke rumah Bratha." Mama Ana dan Papa Johan memutuskan akan segera ke rumah Oma Wening untuk membicarakan rencana pernikahan Reval dengan Syeril agar dipercepat. Papa Johan tidak mau melihat dua sejoli itu pergi berdua setiap malam tanpa adanya ikatan. Namun, mereka salah sangka, Syeril bukan keluar dengan Reval, melainkan selalu mengejar Rafael. Di sisi lain, Reval membantu Vania bersiap pulang. Reval sendiri heran, hanya pingsan tetapi penanganannya sesuper itu. Kenapa beda dengan Syeril, padahal gadis itu kecelakaan? Dalam benak Reval bertanya-tanya, tetapi tak berani mengungkapkannya. "Makasih udah bantuin, ya, Val," kata Vania ketika mereka berdua sudah tiba di depan rumah Vania. "Kamu tinggal di sini?" tanya Reval sambil memperhatikan rumah sederhana berlantai dua itu dari dalam mobil. "Ah, iya." Vania mengikuti arah pandang Reval. Sementara itu, Reval hanya mengangguk-angguk. Dia baru tahu kalau Vania tinggal tak jauh dari rumahnya. Selama mengagumi gadis itu, dia sama sekali tak berani bergerak. Entah, ada rasa tak percaya diri padanya, sehingga tak berani bertindak lebih jauh selain menikmati parasnya dari kejauhan. Vania tahu, jam-jam segini Niko tak di rumah, sehingga dia berani minta diantar Reval hingga ke rumahnya. Lagi pula, dia bisa juga berasalan bahwa Reval adalah sopir taksi online yang dia pesan. Biar begitu, Vania tetap saja waspada karena takut ketahuan oleh Niko. Siapa tahu cowok itu tiba-tiba muncul. "Kenapa, sih?" tanya Reval ketika menangkap gelagat aneh dari cewek di depannya. "Enggak, enggak apa-apa. Ya, udah. Aku masuk, ya. Nggak enak dilihat orang." Reval menyadari maksud Vania. Dalam hati Reval semakin kagum saja dengan perangai gadis itu. Seakan-akan dia tidak pernah salah telah mengaguminya. Padahal, sejatinya Vania takut kalau saja Niko melihatnya bersama cowok lain. Bisa-bisa Niko menghajarnya lagi nanti, lalu semakin tak percaya dengan anak yang ada dalam kandungannya adalah darah daging Niko. Akhirnya, Reval pamit pulang kepada Vania. Dia juga tidak ingin terjadi hal-hal tak diinginkan terhadap gadis itu. Gadis yang menyimpan banyak luka yang membuat Reval iba. Sejujurnya dia ingin menyelamatkan Vania dari Niko, tetapi Vania sendiri seakan-akan membatasi pergerakan Reval. Jadi, Reval lebih memilih menjadi teman saja apabila Vania membutuhkan. Reval lebih senang menjadi obat bagi gadis itu. Reval memperhatikan Vania sampai gadis itu tenggelam di balik pintu. Dia tersenyum, lalu kembali mengendalikan stang bundar menyusuri jalanan menuju rumah. Sore ini, Reval izin untuk tidak ikut sidang skripsi, karena waktu terlalu mepet. Dia juga belum menyiapkan sesuatu untuk sidang nantinya. "Reval!" Panggilan itu membuat sang empunya nama menoleh. "Mama?" Reval langsung mendekat. Dia menci'um punggung tangan sang mama. "Kamu dari mana? Mama lihat, beberapa hari ini kamu sering keluar. Nggak kuliah kamu?" tanya Mama Sonya penuh selidik. "Reval kuliah, kok, Ma. Cuma memang beberapa hari ini agak sibuk di luar kampus." "Kemarin Mama lihat kamu keluar dari rumah sakit. Siapa yang sakit?" Mama Sonya duduk, menyalakan TV. Reval menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa ingin digaruk, padahal tak gatal. Dia juga sibuk menyiapkan alasan. "Itu teman Reval, Ma. Kemarin pingsan." "Syeril?" Reval agak terkejut dengan pertanyaan Mama Sonya. "Bukan, Ma," jawab Reval. Memang dalam benaknya tak berpikir memakai Syeril sebagai alasannya. "Mama dengar Syeril kecelekaan. Apa iya?" Ingin menjawab "tidak tahu", tetapi dia sendiri yang menolong. Ingin mengatakan "iya", tetapi tadi sudah menjawab bukan. Reval bingung sendiri harus menjawab bagaimana. "Syeril memang kecelakaan, Ma. Tapi waktu—" "Jadi, benar dia keluar sama kamu? Mama kok nggak yakin, ya?" Mama Sonya membenarkan duduknya. Lagi-lagi Reval bingung mau menjawabnya. "Papa sama mamanya Syeril menegur papamu, kalo misalnya kamu ingin ngajak Syeril pergi, kamu diminta jemput ke rumah." Mama Sonya menangkap keanehan di wajah sang anak. "Jangan-jangan Mama benar, kalo bukan kamu yang ngajak dia jalan." "Memang bukan Reval, Ma." "Astaga! Jadi, dia fitnah kamu? Keterlaluan!" decak Mama Sonya tak terima. "Dari awal memang Mama udah nggak setuju dia dijodohin sama kamu. Sekarang kelihatan kalo dia itu nggak baik, 'kan? Papa sama omamu ngeyel banget dibilangin. Heran Mama!" Reval masih diam, karena dia sendiri pun tak mengerti harus berbuat apa. "Kamu juga kenapa terima gitu aja dijodohin, sih, Val? Sama cewek barbar kayak gitu lagi." Sejak awal Reval juga tak setuju, tetapi mau bagaimana lagi? Ini semua demi rasa sayangnya kepada sang kakek. "Mama apa-apaan, sih?" Suara berat dari arah belakang membuat Mama Sonya dan Reval menoleh bersamaan. Pak Bratha mendekat penuh wibawa. "Mama nggak boleh meracuni pikiran Reval seperti itu." "Meracuni gimana, sih, Pa? Reval itu cocoknya sama Arista, bukan Syeril." Reval tergemap mendengar ucapan sang mama. Sama sekali tak terpikirkan olehnya untuk bisa menjalin hubungan dengan Arista, sang sahabat. "Mama ini ngaco, Riri itu sahabat Reval," kata Pak Bratha "Memangnya kenapa kalo sahabatan? Kan, banyak kisah sahabat jadi cinta," jawab Mama Sonya. "Berdebat sama Mama nggak akan ada habisnya," pungkas Pak Bratha sembari duduk. "Ganti baju, Val. Setelah itu temui Papa di ruang kerja." Tanpa membantah, Reval menuruti kata-kata sang papa. Dia juga merasa gerah seharian di kampus, lalu ke rumah sakit menemani Vania. Belum lagi mengurus distro, sangat menguras tenaga. Untungnya, setahun lagi sang kakak akan pulang, sehingga urusan distro akan dia serahkan kembali ke sang kakak. Selesai membersihkan diri, Reval kembali menemui sang papa di ruang kerja beliau. Perasaan Reval mulai tak enak. Dia yakin, pasti akan membahas tentang Syeril. Gadis itu memang sudah di luar batas. Bahkan, tindakannya telah menyeret Reval dalam masalah cukup pelik. "Eh, Reval. Masuk." Pak Bratha melepas kacamata, lalu menutup kembali bukunya dan meletakkan buku itu ke rak seperti sedia kala. Reval duduk di depan sang papa, berseberangan meja. Reval harap-harap cemas dengan apa yang akan Pak Bratha bicarakan. "Gimana kuliah kamu?" tanya Pak Bratha, basa-basi. "Alhamdulillah masih menyiapkan sidang skripsi, Pa." "Kamu sibuk apa akhir-akhir ini?" Pak Bratha meletakkan pulpen di tempatnya. Pandangannya kembali fokus ke sang anak. "Reval masih kuliah seperti biasa, dan tugas kampus yang masih di bawah pengurusan Reval." "Termasuk mengajak Syeril jalan?" "Reval? Tidak, Pa. Sebenarnya ...." "Kenapa? Papa sampai ditegur Om Johan, katanya kamu ngajak Syeril jalan tiap malam. Apa itu benar?" "Sebenarnya bukan Reval yang ngajak pergi, Pa. Cuma nggak tau kenapa Syeril selalu membawa nama Reval. Reval sendiri juga heran. Reval berani bersumpah, Pa." "Besok orang tua Syeril ngajak Papa bertemu. Tapi Papa tunda sampai Oma datang." "Untuk apa, Pa?" tanya Reval penasaran. "Papa juga belum tau. Mungkin ini ada hubungannya dengan perilaku kalian." Reval menunduk. Dia sudah berusaha jujur, tetapi memang dia sendiri pun tak mengerti harus membela diri bagaimana. Dari awal Syeril sudah mengatakan bahwa dia jalan dengan Reval. Jadi, nama pemuda itulah yang masuk dalam riwayat pelaku. * Syeril tampak bahagia hari ini. Wajahnya berseri-seri seperti bidadari. Semua siswa yang berpapasan dengannya disapa penuh ramah tamah. "Hai, Guys!" sapa Syeril pada beberapa teman sekolahnya yang lewat. "Eh, Syeril aneh banget! Tu bocah kesurupan apaan, sih?" tukas Adel penasaran. "Iya, kemarin kayak orang kesambet, sekarang lebih mengerikan lagi." Faivi bergidik ngeri. "Samperin, yuk!" ajak Adel sambil menarik lengan Faivi. Gadis yang ditarik pun mau tak mau mengikuti ajakannya, karena Adel menarik Faivi tanpa aba-aba. Syeril masih dengan keramahtamahannya terhadap teman-temannya. Sedari tadi, senyumnya tak pernah pudar. Sangat kontras dengan beberapa hari lalu ketika mengetahui kabar perjodohannya. "Woy!" Adel dan Faivi mengagetkan Syeril secara bersamaan. Tentu saja hal itu membuat Syeril tercekat, hingga menimbulkan tawa bagi Adel dan Faivi. "Si'alan lho berdua. Ngagetin gue aja," kata Syeril sambil cemberut. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Senyum kembali terbit di wajah gadis ayu tersebut. "Lo nggak lagi gila, 'kan?" tanya Faivi. "Gila gimana maksud lo?" jawab Syeril heran. "Kemarin aja muka dilipet kayak keset jadul. Sekarang kayak orang kesurupan, ketawa-ketiwi sendirian. Aneh lo!" timpal Adel sambil menyenggol lengan Syeril. "Lo udah bebas dari hukuman, ya?" tanya Faivi yang membuat Adel menautkan alis "Hukuman apaan, sih?" tanya Adel penasaran. Dasar pikun! Faivi memutar bola matanya, jengah. "Bener, ya, Ril?" tanya Faivi. Dia mencoba memastikan dugaannya. Sayangnya, Syeril hanya tersenyum sambil melenggang. Tentu saja Faivi dan Adel menyamakan langkah mereka dengan Syeril. "Lebih dari itu. Pokoknya gue lagi bahagia banget, banget, banget." "Ish, lo kenapa, sih? Cerita dong sama kita," tukas Adel. "Kayaknya kita mesti rayain deh, Del," timpal Faivi. "Boleh banget. Gimana kalo pulang sekolah kita ke kafe biasa?" tawar Syeril penuh keceriaan. "Boleh bangeeet!" seru Adel dan Faivi bersamaan. Tentu saja gaya mereka tak pernah ketinggalan—menyodorkan telapak tangan ke depan dengan posisi punggungnya di atas, lalu ditarik ke atas sambil meneriakkan nama geng merek, yakni Pinky Love. Setelah itu berteriak "cantik banget!" sambil menggerakkan tangan ke bawah ala-ala gerakan vokalis Nidji bila bernyanyi di atas panggung. Tiga sekawan ini tampak begitu bahagia. Lebih-lebih Syeril. Dia merasa di atas angin atas dramanya. Dia tidak sabar menunggu keputusan atau kabar kedua orang tuanya membatalkan perjodohan itu dengan Reval karena tindakan Reval yang di luar batas. 'Ah, bahagianya. Sebentar lagi aku akan bebas. Kak Rafael, tunggu aku!' batin Syeril bersorak penuh sukacita. Syeril melenggang ke dalam kelas diikuti kedua sahabatnya, yakni Adel dan Faivi. Mereka siap mengikuti pelajaran hari ini. Jam pertama diisi Bu Osa dengan mata pelajaran paling menjenuhkan bagi Syeril, yaitu kimia. Sudah terbayangkan betapa mengantuknya dia nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN